Jakarta, CNBC Indonesia - Ribuan warga turun ke jalan dan mengepung gedung parlemen Portugal di Lisbon pada hari Selasa. Aksi unjuk rasa besar-besaran ini meledak sebagai bentuk protes atas krisis perumahan yang semakin memburuk serta tindakan represif kepolisian terhadap aktivis perumahan, bertepatan dengan momen perdebatan anggota parlemen terkait rancangan anggaran negara untuk tahun 2027.
Mengutip Reuters, Rabu (28/10/2026), Portugal saat ini tengah menghadapi salah satu krisis keterjangkauan rumah paling akut di Eropa. Harga hunian telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak tahun 2017 dan harga sewa baru hampir berlipat ganda, yang pada akhirnya sangat memukul kelompok generasi muda lantaran upah mereka tidak mampu mengimbangi kenaikan tersebut.
Aksi protes pada hari Selasa ini menyusul operasi kepolisian yang menggunakan pentungan untuk membongkar paksa kamp-kamp tenda milik aktivis perumahan di Lisbon dan Porto pada hari Minggu. Tindakan ini seketika memicu tuduhan penggunaan kekuatan yang berlebihan.
Pihak penyelenggara unjuk rasa mengeklaim ada beberapa ribu orang yang memadati area tersebut, sementara polisi menolak memberikan perkiraan jumlah massa.
- Mantan Gubernur Bank Sentral Ditahan Kejaksaan, Diduga Korupsi Rp14 T
- Mantan Capres Ditangkap, Terseret Kasus Pencucian Uang Rp 9 M
- Gagal Nyalip, Bus Rombongan Pelayat Ringsek Dihantam Truk-24 Tewas
- Mengenal Alvin Tedjo, Pria Keturunan Padang Jadi Wali Kota di Kanada
- Breaking: Australia Larang Warganya Pergi ke Arab Saudi
Seorang aktris berusia 39 tahun, Erica Rodrigues, membeberkan bahwa krisis ini telah memengaruhi generasi muda maupun generasi yang lebih tua karena biaya hidup di Portugal sangat tinggi jika dibandingkan dengan pendapatan masyarakat.
"Sangat tak tertahankan," ungkapnya.
"Selamat kepada pemerintah ini atas pertunjukan badut yang telah ditampilkannya belakangan ini. Mereka telah melakukan pekerjaan yang mengerikan."
Dalam aksinya, para demonstran secara tegas menuntut agar pemerintah minoritas yang berhaluan kanan-tengah segera membatalkan RUU yang akan mempercepat pengusiran dan mengakhiri batasan tarif pada sewa-sewa baru. RUU kontroversial tersebut diketahui telah lolos pada pembacaan pertama, di mana partai sayap kanan ekstrem Chega memilih untuk abstain.
Salah seorang pengunjuk rasa yang sedang menganggur, Joao Martins (39), menjelaskan bahwa massa sedang berjuang keras demi mendapatkan perumahan yang layak dan terjangkau bagi semua orang.
"Serta menuntut anggaran negara yang benar-benar mencerminkan kepentingan mayoritas populasi, bukan hanya segelintir orang yang memiliki hak istimewa," tutur Martins.
"Kami juga berdemonstrasi untuk hak protes, yang telah sangat terancam dalam beberapa hari terakhir."
Buntut dari insiden pembongkaran paksa tersebut, pengawas urusan dalam negeri Portugal (IGAI) langsung membuka penyelidikan atas operasi kepolisian, sementara pihak jaksa meluncurkan investigasi terpisah terhadap perilaku petugas. Polisi melaporkan ada 11 korban luka ringan, termasuk tiga petugas, dalam dua operasi pada hari Minggu.
Di sisi lain, kelompok aktivis Casa para Viver (Homes to Live) secara tegas mengeklaim bahwa 60 orang telah terluka akibat bentrokan tersebut.
Merespons gelombang protes ini, Perdana Menteri Luis Montenegro berbicara di hadapan parlemen pada hari Selasa dan memberikan pembelaan terhadap aparat penegak hukum.
"Polisi bertindak sejalan dengan prinsip-prinsip kebutuhan, proporsionalitas, dan kecukupan," pungkasnya.
Rentetan aksi protes di Portugal ini secara langsung menggemakan demonstrasi serupa yang baru-baru ini melanda Spanyol dan berbagai wilayah lain di seluruh Eropa atas isu kekurangan perumahan dan lonjakan harga sewa.
(tps/sef)




