SURABAYA (beritajatim.com)- Membangun perusahaan media tidak selalu dimulai dengan modal besar. Beritajatim.com menjadi salah satu contoh bagaimana pengetahuan jurnalistik, ketekunan, reputasi, dan kolaborasi dapat menjadi bekal untuk bertahan dan berkembang di tengah perubahan industri media.
Pengalaman itu dibagikan CEO Beritajatim.com, Dwi Eko Lokononto, yang akrab disapa Cak Luki, dalam Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bertajuk pada sesi Panel 1 “Peta Ekosistem Informasi 2027: Siapa Bicara, Siapa Didengar?” di Surabaya, Rabu (28/10/2026).
Cak Luki mengisahkan, Beritajatim.com didirikan oleh lima jurnalis dengan kondisi keuangan terbatas. Pada enam bulan pertama, mereka harus menggerus tabungan pribadi untuk menutup kebutuhan operasional perusahaan yang terus berjalan setiap bulan.
“Kami didirikan oleh lima jurnalis yang, mohon maaf, isi kantongnya juga enggak banyak,” kenangnya.
Pada masa awal itu, Beritajatim.com belum bisa mengandalkan iklan pemerintah karena nomenklatur anggarannya belum tersedia. Pendapatan dari iklan programatik juga belum memadai. Situasi tersebut memaksa para pendiri mencari cara lain agar perusahaan tetap hidup sekaligus membangun kepercayaan pasar.
Salah satu momentum penting datang ketika kasus Lumpur Lapindo menjadi perhatian luas. Beritajatim.com menyajikan perkembangan peristiwa yang dibutuhkan publik. Cak Luki mengenang bagaimana judul-judul berita mereka menjadi rujukan running text di sejumlah stasiun televisi.
Luki juga mengakui, pertumbuhan media digital saat itu terbantu oleh proses edukasi pasar yang dilakukan pelaku industri, termasuk Detik.com yang sudah dulu ada. Masyarakat perlahan memahami media online sebagai sumber informasi, membuka peluang bagi Beritajatim.com untuk mendapatkan pemasukan dan bertahan.
Namun, bagi Cak Luki, keberlanjutan perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan momentum. Reputasi menjadi modal yang harus dibangun dalam jangka panjang. Ia menilai, kondisi awal yang membuat Beritajatim.com tidak bergantung pada iklan pemerintah turut membentuk persepsi dan kepercayaan terhadap perusahaan.
Dalam perkembangannya, Beritajatim.com tetap menjalin hubungan dengan berbagai pemerintah daerah tanpa menjadikan iklan pemerintah sebagai satu-satunya penopang bisnis. Cak Luki menegaskan, reputasi juga berkaitan dengan cara perusahaan memperlakukan orang-orang di dalam organisasinya.
“Reputasi itu bukan hanya untuk eksternal, tetapi bagaimana orang-orang di dalam organisasi kita juga merasa diperhatikan,” ujarnya.
Prinsip tersebut diterapkan dalam pengelolaan karyawan. Cak Luki menyebut Beritajatim.com menjaga komitmen untuk tidak terlambat membayar gaji selama sekitar 20 tahun. Ketika pandemi Covid-19 menekan aktivitas ekonomi dan industri media, perusahaan berupaya menjaga rasa aman karyawan melalui dukungan kebutuhan pokok, pemeriksaan kesehatan, serta bantuan tunai bagi mereka yang harus bertahan di rumah.
Beritajatim.com juga terus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan pola konsumsi informasi. Dari media yang bertumpu pada teks, perusahaan mulai mengembangkan produksi audio, studio, dan media sosial. Mereka turut memperluas layanan melalui konsultasi komunikasi, media monitoring, dan social media monitoring sebagai upaya mencari sumber pendapatan baru sekaligus mempertahankan relevansi perusahaan.
Cak Luki mengakui, media memiliki keterbatasan sumber daya untuk mempelajari seluruh perkembangan teknologi sekaligus mengembangkan produk baru. Karena itu, kolaborasi dengan media lain dan jejaring industri menjadi strategi penting untuk memperluas pengetahuan, mengembangkan layanan, serta membuka peluang usaha. Ia mencontohkan kerja sama dalam pengembangan Jatim Media Summit dan menilai AMSI berperan sebagai ruang berbagi pengetahuan mengenai teknologi informasi, distribusi konten, serta transformasi bisnis media.
Ke depan, Cak Luki melihat peluang media tidak hanya terletak pada produksi berita, tetapi juga pada kemampuannya membantu berbagai institusi menghadapi persoalan komunikasi di era digital, ketika informasi bergerak cepat dan risiko krisis reputasi semakin besar. Pengalaman jurnalistik dan pemahaman terhadap ekosistem informasi dapat menjadi modal untuk mengembangkan layanan baru. Perjalanan Beritajatim.com menunjukkan bahwa keberlanjutan media membutuhkan lebih dari sekadar modal: reputasi, kepedulian terhadap karyawan, kemampuan beradaptasi, dan kemauan bekerja sama menjadi bekal untuk terus berkembang tanpa meninggalkan komitmen terhadap kerja jurnalistik.
IDMC 2026 diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia dengan dukungan Pertamina, Astra, BNI, Djarum, Alamtri, PLN, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP), Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Freeport, Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Bank Jago, Bank Mandiri, GoTo, Bank Syariah Indonesia (BSI), Astra Honda Motor, dan INALUM. [aje]




