jpnn.com, JAKARTA - Sekjen DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto hadir mengawakili ketum partainya Megawati Soekarnoputri dalam Kongres X Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) di Jakarta, Rabu (28/10) ini.
Selain Hasto, Ketua DPP PDIP Ribka Tjiptaning dan senior PDIP Yakobus Mayong Padang turut hadir ke lokasi acara.
BACA JUGA: Hasto PDIP Tak Setuju Usul Luhut soal Definisi Korupsi
Hasto dalam sambutannya menyampaikan tiga pesan dari Megawati bagi peserta Kongres X GPM dari pimpinan daerah dan cabang.
"Pesan pertama, salam hangat buat seluruh keluarga GPM," kata dia, Rabu.
BACA JUGA: Hasto PDIP: Pemimpin Hebat Tidak Boleh Menindas Rakyat Marhaen
Hasto melanjutkan Megawati dalam pesan kedua mengingatkan kader GPM terus mempelajari pemikiran Proklamator RI Soekarno atau Bung Karno tentang marhaenisme.
"Kemudian yang ketiga pesan bagi kepengurusan yang nanti terbentuk dari hasil kongres ini untuk jangan lupa berziarah ke tempat Bapak Marhaen," ujarnya.
BACA JUGA: Soal Tindak Lanjut Polemik Ijazah Gibran, Sekjen PKS Bicara Kepada Hasto PDIP
Ketua Umum DPP GPM Izedrik Emir Moeis mengatakan Kongres X pihaknya diharapkan menjadi titik konsolidasi organisasi yang berdiri sejak 1947.
Dia menyebut GPM kini memiliki 22 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan 78 Dewan Pimpinan Cabang (DPC) yang tersebar di Indonesia.
"Kami berusaha supaya lengkap jadi 35 DPD," ujar Emir, Rabu.
Dia menuturkan GPM bakal terus berupaya memperkenalkan marhaenisme ke generasi muda yang sempat tak dikenal di ruang pendidikan.
"Coba datang ke SMA-SMA, mari ajak mengobrol, tidak ada yang tahu marhaenisme," katanya.
Ketua panitia Kongres X GPM Boy Ericko Pandu menyatakan kegiatan pihaknya sengaja dilaksanakan saat monentum Sumpah Pemuda.
Sebab, momentum itu menjadi simbol persatuan Indonesia.
"Kongres ini harus melahirkan gagasan yang radikal, dinamis, dan revolusioner untuk menjawab tantangan zaman saat ini," ujarnya.
Tampak, Direktur Organisasi Kemasyarakatan Kemendagri Wahyu Chandra Kusuma hadir ke lokasi Kongres X GPM mewakili Mendagri Tito Karnavian.
Candra menyinggung soal penyebutan rakyat kecil dalam diskursus marhaenisme yang biasa dipanggil wong cilik.
"Bung Karno mengajarkan kegagahan, Bung Karno mengajarkan keberanian, sehingga dalam forum ini kami memohon, jangan disebut lagi wong cilik, yang dikatakan wong cilik itulah pemilik negeri ini yang sesungguhnya," kata dia.
Dia dalam pidato turut mengaku berasal dari petani di Malang, Jawa Timur yang masuk sebutan kaum marhaen.
"Kakek saya tinggal di Desa Pujon, Kabupaten Malang, beliau petani, di tembok terpampang foto Bung Karno. Itulah, sehingga kakek kami menyampaikan bahwa mbahmu iki marhaen," kata dia. (ast/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Refleksi 2 Tahun Pemerintah, Hasto Nilai Gibran bin Jokowi Jadi Beban Prabowo
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Aristo Setiawan




