Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada area kuburan batu di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, telah dipadamkan.
Kebakaran yang terjadi pada hari Sabtu 24 Oktober 2026 itu menghanguskan lahan seluas tujuh hektare.
“Kami sampaikan bahwa kejadian ini sebenarnya sudah terjadi pada tanggal 24 Oktober yang lalu dan sudah dipadamkan 16 jam lebih setelah api mulai terjadi,” kata Berton SP Panjaitan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB dalam konferensi pers daring dari Jakarta, Rabu (28/10/2026).
Berton menyebut, kebakaran berdampak pada dua wilayah, yakni Lembang Rangri dan Lembang Ratte. Namun, kondisi fisik situs kuburan batu yang terdampak masih memerlukan informasi lebih lanjut dari pihak berwenang setempat.
Informasi tersebut disampaikan BNPB untuk menjawab pertanyaan media mengenai kebakaran yang turut berdampak pada area pemakaman batu di Toraja Utara.
Di sisi lain, BNPB tetap menyiagakan personel dan peralatan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru, terutama di tengah penanganan karhutla di Sumatra dan Kalimantan.
“Tentu tetap kami siagakan, baik itu personel maupun peralatan yang ada di kabupaten/kota di mana wilayah terbakar terjadi,” kata Berton, seperti dilaporkan Antara.
Berton merinci, personel yang disiagakan tersebar di sejumlah provinsi. Kalimantan Tengah menyiagakan 16.387 personel, Kalimantan Barat 14.458 personel, Sumatera Selatan 12.287 personel, dan Kalimantan Selatan 7.927 personel.
Selain personel, peralatan penanganan karhutla juga disiagakan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, serta satuan tugas di tingkat kabupaten dan kota.(ant/ham/rid)




