Jakarta (ANTARA) - Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso mengajak dunia usaha Amerika Serikat (AS) untuk terus memperkuat kerja sama perdagangan dan investasi dengan Indonesia.
Budi menyambut baik berbagai upaya United States-ASEAN Business Council (US-ABC) untuk menjembatani komunikasi antara dunia usaha kedua negara.
Menurut dia, peningkatan kolaborasi dengan AS menjadi penting, terutama karena AS merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.
"Indonesia menyambut baik berbagai upaya peningkatan perdagangan dunia usaha kedua negara. Kami mengajak AS untuk terus memperkuat kerja sama dengan Indonesia," kata Budi dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Dalam pertemuan dengan Presiden sekaligus CEO US-ABC, Duta Besar Brian D. McFeeters di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (28/10), Budi mengatakan bahwa pertemuan ini menjadi kesempatan Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan AS yang merupakan negara penyumbang surplus neraca perdagangan Indonesia.
Pada pertemuan ini, US-ABC membawa perwakilan berbagai berbagai sektor AS. Beberapa di antaranya meliputi perusahaan teknologi informasi dan komunikasi, jasa konsultasi bisnis, hingga industri penerbangan dan kedirgantaraan.
Para perwakilan AS memberikan pertanyaan dan masukan terkait perdagangan kedua negara hingga membahas peluang kolaborasi lebih lanjut.
Turut dibahas perkembangan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan peningkatan kerja sama untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.
Di sisi lain, Dubes McFeeters menyampaikan dukungan US-ABC terhadap Indonesia dan siap bekerja sama untuk mendorong tercapainya target ekonomi Indonesia. Ia turut menyampaikan, US-ABC siap memberikan rekomendasi bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekonomi nasional.
"Kami memiliki minat yang besar terhadap Indonesia dan ingin turut berkontribusi terhadap keberhasilan pencapaian tujuan ekonomi serta pertumbuhan Indonesia. Meski ketidakpastian global belum akan berakhir dalam waktu dekat, kami berupaya untuk menghadirkan kesinambungan dan membangun kemitraan yang lebih dapat diandalkan dengan Indonesia," ujar Dubes McFeeters.
AS merupakan negara penyumbang surplus terbesar bagi neraca perdagangan Indonesia. Pada Januari-Agustus 2026, total perdagangan Indonesia dengan AS tercatat sebesar 32,34 miliar dolar AS.
Ekspor Indonesia ke AS sebesar 22,40 miliar dolar AS, sedangkan impor Indonesia dari AS sebesar 9,94 miliar dolar AS. Indonesia surplus 12,47 miliar dolar AS terhadap AS.
Sementara itu, pada 2025, total perdagangan Indonesia dan AS tercatat 43,87 miliar dolar AS dengan tren pertumbuhan 3,11 persen dalam lima tahun terakhir (2021-2025). Ekspor Indonesia ke AS sebesar 30,95 miliar dolar AS dan impor Indonesia dari AS sebesar 12,92 miliar dolar AS. Indonesia surplus 18,02 miliar dolar AS terhadap AS.
Produk ekspor utama Indonesia ke AS, yakni mesin/peralatan listrik; barang-barang rajutan; alas kaki; pakaian jadi bukan rajutan; serta lemak dan minyak hewan/nabati. Kemudian, untuk produk yang diimpor Indonesia dari AS, yakni mesin/pesawat mekanik; biji-bijian berminyak; mesin/peralatan listrik; ampas/sisa industri makanan; serta bahan bakar mineral.
Baca juga: Dua tahun kabinet, tiga program Kemendag dorong kinerja perdagangan
Baca juga: India hentikan penyelidikan antisubdisi produk kaca polos bening RI
Budi menyambut baik berbagai upaya United States-ASEAN Business Council (US-ABC) untuk menjembatani komunikasi antara dunia usaha kedua negara.
Menurut dia, peningkatan kolaborasi dengan AS menjadi penting, terutama karena AS merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia.
"Indonesia menyambut baik berbagai upaya peningkatan perdagangan dunia usaha kedua negara. Kami mengajak AS untuk terus memperkuat kerja sama dengan Indonesia," kata Budi dalam keterangan di Jakarta, Kamis.
Dalam pertemuan dengan Presiden sekaligus CEO US-ABC, Duta Besar Brian D. McFeeters di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Rabu (28/10), Budi mengatakan bahwa pertemuan ini menjadi kesempatan Indonesia untuk memperkuat kerja sama dengan AS yang merupakan negara penyumbang surplus neraca perdagangan Indonesia.
Pada pertemuan ini, US-ABC membawa perwakilan berbagai berbagai sektor AS. Beberapa di antaranya meliputi perusahaan teknologi informasi dan komunikasi, jasa konsultasi bisnis, hingga industri penerbangan dan kedirgantaraan.
Para perwakilan AS memberikan pertanyaan dan masukan terkait perdagangan kedua negara hingga membahas peluang kolaborasi lebih lanjut.
Turut dibahas perkembangan Agreement on Reciprocal Trade (ART) dan peningkatan kerja sama untuk mendukung usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.
Di sisi lain, Dubes McFeeters menyampaikan dukungan US-ABC terhadap Indonesia dan siap bekerja sama untuk mendorong tercapainya target ekonomi Indonesia. Ia turut menyampaikan, US-ABC siap memberikan rekomendasi bagi Indonesia untuk meningkatkan kinerja ekonomi nasional.
"Kami memiliki minat yang besar terhadap Indonesia dan ingin turut berkontribusi terhadap keberhasilan pencapaian tujuan ekonomi serta pertumbuhan Indonesia. Meski ketidakpastian global belum akan berakhir dalam waktu dekat, kami berupaya untuk menghadirkan kesinambungan dan membangun kemitraan yang lebih dapat diandalkan dengan Indonesia," ujar Dubes McFeeters.
AS merupakan negara penyumbang surplus terbesar bagi neraca perdagangan Indonesia. Pada Januari-Agustus 2026, total perdagangan Indonesia dengan AS tercatat sebesar 32,34 miliar dolar AS.
Ekspor Indonesia ke AS sebesar 22,40 miliar dolar AS, sedangkan impor Indonesia dari AS sebesar 9,94 miliar dolar AS. Indonesia surplus 12,47 miliar dolar AS terhadap AS.
Sementara itu, pada 2025, total perdagangan Indonesia dan AS tercatat 43,87 miliar dolar AS dengan tren pertumbuhan 3,11 persen dalam lima tahun terakhir (2021-2025). Ekspor Indonesia ke AS sebesar 30,95 miliar dolar AS dan impor Indonesia dari AS sebesar 12,92 miliar dolar AS. Indonesia surplus 18,02 miliar dolar AS terhadap AS.
Produk ekspor utama Indonesia ke AS, yakni mesin/peralatan listrik; barang-barang rajutan; alas kaki; pakaian jadi bukan rajutan; serta lemak dan minyak hewan/nabati. Kemudian, untuk produk yang diimpor Indonesia dari AS, yakni mesin/pesawat mekanik; biji-bijian berminyak; mesin/peralatan listrik; ampas/sisa industri makanan; serta bahan bakar mineral.
Baca juga: Dua tahun kabinet, tiga program Kemendag dorong kinerja perdagangan
Baca juga: India hentikan penyelidikan antisubdisi produk kaca polos bening RI





