FBS UNM Jadi Pionir Tata Kelola Konferensi Akuntabel, ICILLCE 2026 Hadirkan Enam Narasumber dari Lima Negara

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Penyelenggaraan konferensi internasional di lingkungan perguruan tinggi tidak hanya dituntut menghasilkan publikasi ilmiah dan memperluas jejaring akademik, tetapi juga harus didukung tata kelola keuangan yang transparan dan akuntabel.

Prinsip tersebut menjadi perhatian utama Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar (FBS UNM) melalui penyelenggaraan The 1st International Conference on Indonesian Language, Literature, Culture, and Education (ICILLCE 2026), pada 26–27 Oktober 2026 lalu.

Konferensi internasional perdana yang diinisiasi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) FBS UNM ini menjadi pionir penerapan tata kelola kegiatan akademik berbasis transaksi digital.

Seluruh pembayaran pendaftaran peserta dilakukan melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan langsung masuk ke rekening rektor.

Inovasi tersebut mendapat apresiasi dari Dekan FBS UNM, Prof. Dr. Anshari, M.Hum. Ia menilai mekanisme pengelolaan keuangan yang diterapkan panitia merupakan langkah penting dalam membangun standar penyelenggaraan konferensi yang lebih akuntabel di lingkungan fakultas.

Menurut Prof Anshari, penyelenggaraan ICILLCE 2026 tidak hanya mencatatkan sejarah sebagai konferensi internasional perdana JBSI, tetapi juga menghadirkan praktik tata kelola yang patut dijadikan rujukan bagi pelaksana kegiatan akademik lainnya.

“Pengelolaan konferensi ini dilakukan secara akuntabel. Pendaftaran peserta menggunakan QRIS dan pembayarannya langsung masuk ke rekening rektor. Ini merupakan kegiatan pertama yang menjadi pionir dan diharapkan menjadi model bagi penyelenggaraan konferensi maupun seminar di lingkungan FBS UNM,” ujar Anshari.

Prof Anshari mendorong seluruh jurusan di lingkungan FBS UNM untuk mengadopsi mekanisme serupa dalam penyelenggaraan konferensi dan seminar.

Menurutnya, penerapan sistem pembayaran digital yang terintegrasi dengan rekening institusi merupakan salah satu upaya memperkuat ketertiban administrasi dan pertanggungjawaban keuangan kegiatan akademik.

Anshari juga menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan konferensi tidak semata-mata diukur dari jumlah peserta, kehadiran narasumber internasional, maupun luaran publikasi ilmiah.

Kegiatan akademik juga perlu dilihat dari kontribusinya terhadap dampak ekonomi yang dihasilkan perguruan tinggi.

Prof Anshari menjelaskan bahwa kontribusi ekonomi dari kegiatan akademik menjadi salah satu aspek yang diukur setiap tahun dan dilaporkan kepada kementerian sebagai bagian dari dampak penyelenggaraan pendidikan tinggi.

“Pelaksanaan konferensi juga memberikan kontribusi terhadap dampak ekonomi kegiatan akademik. Aspek ini diukur setiap tahun dan dilaporkan kepada kementerian sebagai bagian dari dampak perguruan tinggi,” jelasnya.

Dalam konteks tersebut, Prof Anshari memandang penyelenggaraan konferensi internasional harus diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas, baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penguatan kerja sama kelembagaan, maupun kontribusi terhadap aktivitas ekonomi.

Di sisi lain, Prof Anshari mengapresiasi keberanian JBSI FBS UNM dalam menginisiasi konferensi internasional perdana yang mempertemukan akademisi dari berbagai negara.

Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan komitmen jurusan dalam memperluas ruang pertukaran pengetahuan sekaligus memperkuat posisi bahasa dan sastra Indonesia dalam percakapan akademik global.

Mengangkat tema “Strengthening Local Wisdom through Indonesian Language and Literature in the AI Era” atau “Memperkuat Kearifan Lokal melalui Bahasa dan Sastra Indonesia di Era Kecerdasan Buatan”, konferensi ini juga menjadi ruang refleksi mengenai hubungan antara perkembangan teknologi dan keberlanjutan identitas budaya.

Prof Anshari menegaskan bahwa perkembangan kecerdasan buatan tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman yang selalu bertentangan dengan upaya pelestarian bahasa dan budaya.

Sebaliknya, kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan untuk memperkuat pendidikan, penelitian, dan inovasi yang berakar pada nilai-nilai kebangsaan.

“Kemajuan teknologi dan pelestarian budaya bukanlah dua kepentingan yang harus dipertentangkan. Keduanya justru perlu dipertemukan melalui pendidikan, penelitian, dan inovasi yang berpijak pada identitas bangsa,” tegasnya.

Prof Anshari juga mengingatkan bahwa pengakuan bahasa Indonesia sebagai salah satu bahasa resmi Konferensi Umum UNESCO sejak November 2023 harus diikuti dengan penguatan kontribusi akademik Indonesia pada tingkat internasional.

“Kita tidak cukup hanya membawa bahasa Indonesia ke dunia. Kita juga harus mampu menghadirkan pengetahuan Indonesia bagi dunia,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FBS UNM, Prof. Dr. Hj. Kembong Daeng, M.Hum., menyampaikan bahwa penyelenggaraan ICILLCE 2026 merupakan tonggak sejarah bagi jurusan yang dipimpinnya.

Menurutnya, menyelenggarakan konferensi internasional untuk pertama kalinya bukan pekerjaan mudah. Namun, keberhasilan mempertemukan akademisi dari lima negara menjadi bukti bahwa JBSI FBS UNM memiliki kapasitas untuk mengambil peran lebih luas dalam pengembangan kajian bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan Indonesia.

“Hari ini kita tidak sekadar membuka sebuah konferensi biasa, tetapi juga sedang menorehkan sebuah sejarah baru, yaitu perhelatan The 1st International Conference on Indonesian Language, Literature, Culture, and Education. Sesuatu yang pertama itu selalu berat, penuh tantangan, tetapi percayalah ia akan selalu abadi dikenang,” ungkap Kembong.

Prof Anshari mengaku bangga atas kerja keras seluruh unsur jurusan dan panitia yang berhasil menghadirkan forum akademik internasional dengan melibatkan narasumber dari Korea Selatan, Australia, Uzbekistan, Mesir, dan Indonesia.

“Sebagai Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, ada rasa haru sekaligus bangga di dada saya. Jurusan yang kita cintai ini, JBSI FBS UNM, hari ini berhasil menjadi tuan rumah yang mempertemukan pikiran-pikiran besar dari lima negara,” tuturnya.

Keberhasilan tersebut sekaligus menjadi momentum bagi JBSI FBS UNM untuk membangun tradisi penyelenggaraan konferensi internasional secara berkelanjutan, dengan mengedepankan kualitas akademik dan tata kelola kelembagaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Diketahui, konferensi tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 2026. Tema yang diangkat merupakan respons akademik terhadap perkembangan kecerdasan buatan yang semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk bahasa, sastra, budaya, dan pendidikan.

Konferensi internasional perdana tersebut menghadirkan enam narasumber, terdiri atas empat narasumber dari luar negeri, yakni Korea Selatan, Australia, Uzbekistan, dan Mesir, serta dua narasumber dari Indonesia.

Selain itu, sebanyak 154 pemakalah dari berbagai latar belakang akademik turut berpartisipasi dalam kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut.

Pada hari pertama, 26 Oktober 2026, seluruh sesi pemakalah dilaksanakan secara daring. Sementara itu, pada hari kedua, 27 Oktober 2026, sesi pemakalah dilaksanakan secara luring dengan dukungan akses hibrida bagi peserta yang ingin menyaksikan kegiatan secara daring.

Tingginya antusiasme pemakalah membuat panitia memanfaatkan dua gedung sekaligus, yakni Gedung DG dan DH FBS UNM, dengan delapan ruang kelas untuk pelaksanaan sesi paralel.

Dari sisi luaran akademik, panitia menargetkan penerbitan prosiding yang dikelola Universitas Negeri Makassar serta publikasi artikel ilmiah pada jurnal terakreditasi Sinta 2, Sinta 3, dan Sinta 4.

Seluruh artikel yang diarahkan ke jurnal mitra tetap harus melalui proses seleksi dan penelaahan sesuai dengan ketentuan masing-masing jurnal.(ams)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pihak Sarwendah Bantah Dituding Eksploitasi Anak, Bawa Bukti dari Psikolog
• 20 jam lalucumicumi.com
thumb
3 Nelayan Tenggelam di Laut Selatan Cianjur, 1 Ditemukan Tewas-2 Hilang
• 15 jam laludetik.com
thumb
Dari Rp228 ke Rp111, Saham RANS Milik Raffi Ahmad Terjun Bebas
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Mahasiswa Demo Lagi Hari Ini
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Silmy Karim Didakwa Peras WNA soal Izin Tinggal, Terima Rp 1,2 M
• 2 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.