CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Pemerintah Amerika Serikat secara resmi mengeluarkan peringatan bagi seluruh operator kapal agar menunda pelayaran yang sifatnya tidak mendesak di kawasan perairan Teluk Oman serta Selat Hormuz demi mencegah potensi hambatan di tengah perjalanan.
Pesan peringatan tersebut dirilis langsung oleh Komando Pusat Angkatan Laut AS melalui platform Pusat Informasi Maritim Gabungan pada Rabu (28/10) waktu setempat
"Mengingat situasi geopolitik saat ini, kapal-kapal yang tidak perlu melintasi wilayah tersebut diimbau untuk tetap berada pada jarak yang cukup jauh guna menghindari keterlambatan yang tidak perlu dalam pelayaran mereka," tulis keterangan resmi itu.
Di samping itu, pihak militer AS juga meminta kepada para nakhoda dan awak kapal untuk senantiasa siaga mengubah arah jalur pelayaran atau bahkan menghentikan operasional apabila mendapat instruksi langsung dari pasukan AS. Kelengkapan berkas serta dokumen legal juga wajib dipersiapkan guna mengantisipasi pemeriksaan mendadak sewaktu-waktu.
"Kapal-kapal netral yang membawa muatan atau dalam kondisi kosong yang berlayar di antara pelabuhan-pelabuhan netral di Teluk Oman dan Selat Hormuz bisa menjalani interogasi, pemeriksaan, dan penggeledahan untuk memastikan apakah tujuan mereka terkait dengan blokade yang berlangsung," lanjut pernyataan tersebut.
Situasi keamanan di kawasan ini mulai bergejolak sejak akhir Februari lalu, tatkala koalisi militer AS bersama Israel melancarkan serangkaian serangan udara ke berbagai titik strategis di Iran, termasuk jantung kota Teheran, yang langsung dibalas oleh aksi pertahanan dari pihak Iran.
Meski sempat ada titik terang pada pertengahan Juni ketika Washington dan Teheran sepakat meneken nota kesepahaman demi meredam permusuhan, eskalasi justru kembali pecah akibat serangan susulan dari kedua belah pihak. Sampai detik ini, perseteruan terbuka antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menemukan titik temu perdamaian.
Dampak buruk dari memanasnya konflik ini berimbas langsung pada terciptanya blokade de facto di jalur vital Selat Hormuz. Padahal, rute perairan ini merupakan koridor utama penyeberangan pasokan minyak mentah serta gas alam cair (LNG) dari negara-negara Teluk Persia menuju pasar internasional.
Kondisi genting ini praktis mengganggu stabilitas ekspor serta volume produksi minyak mentah regional, yang pada akhirnya memicu lonjakan harga komoditas energi tersebut di pasar global.
Sumber: Antara




