BBNI Positif di Kuartal III, Fundamental Kuat Topang Rebound Saham Himbara

idxchannel.com
7 jam lalu
Cover Berita

BNI salah satu sentimen positif bagi pemulihan saham perbankan BUMN setelah mengalami tekanan akibat kekhawatiran pasar terhadap isu Morgan Stanley Capital

BBNI Positif di Kuartal III, Fundamental Kuat Topang Rebound Saham Himbara (FOTO:iNews Media Group)

IDXChannel - Kinerja keuangan kuartal III 2026 PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi salah satu sentimen positif bagi pemulihan saham perbankan BUMN setelah mengalami tekanan akibat kekhawatiran pasar terhadap isu Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Tekanan sempat meningkat setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market. Sentimen tersebut mendorong sikap risk-off investor, terutama investor asing, dan menekan harga sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk perbankan BUMN.

Saham BBNI sempat turun ke level 2.800-an pada pertengahan Oktober 2026. Hingga penutupan perdagangan Rabu (28/10/2026), harga saham BBNI telah kembali ke kisaran 3.400-an, mendekati level sebelum tekanan akibat sentimen MSCI.

Analis Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji mengatakan, tekanan terhadap saham-saham Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), khususnya BBNI, BBRI, dan BMRI, tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian setelah pengumuman konsultasi MSCI.

Menurut Nafan, isu tersebut mendorong kehati-hatian investor karena berpotensi memengaruhi alokasi portofolio dan arus dana investasi berbasis indeks.

Namun, setelah mengalami koreksi cukup dalam, valuasi saham perbankan mulai kembali menjadi perhatian investor.

"Selain itu, investor mulai mencermati valuasi saham perbankan yang relatif lebih menarik setelah koreksi serta ekspektasi terhadap kinerja keuangan kuartal III 2026," kata Nafan, dikutip Kamis (29/10/2026).

Dia menilai saham-saham perbankan berkapitalisasi besar juga memiliki likuiditas yang relatif baik sehingga dapat menjadi pilihan investor ketika mulai kembali melakukan akumulasi.

Meski demikian, pemulihan harga belum otomatis menandakan terjadinya pembalikan tren secara berkelanjutan. Investor masih perlu mencermati konsistensi arus dana asing, volume transaksi, serta perkembangan kebijakan MSCI.

Di tengah volatilitas pasar, kinerja kuartal III 2026 menunjukkan fundamental BNI tetap solid.

BNI membukukan laba operasional sebelum pencadangan atau pre-provision operating profit (PPOP) sebesar Rp27,5 triliun, tumbuh 11,6 persen secara tahunan atau Year on Year (YoY).

Kinerja operasional tersebut turut ditopang pendapatan bunga bersih (NII) yang tumbuh 13,6 persen YoY menjadi Rp33,2 triliun. BNI juga membukukan laba bersih sebesar Rp16,1 triliun, meningkat 6,6 persen YoY.

Pertumbuhan bisnis juga tercermin dari penyaluran kredit yang meningkat 22,2 persen YoY menjadi Rp992,5 triliun.

Dari sisi pendanaan, current account saving account (CASA) BNI tumbuh 19,6 persen YoY menjadi Rp733,7 triliun. Pada saat yang sama, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) gross berada di level 1,9 persen.

Kombinasi pertumbuhan kredit, penguatan dana murah, serta perbaikan kualitas aset menjadi faktor penting dalam melihat daya tahan fundamental BNI di tengah volatilitas pasar.

Nafan menilai kinerja fundamental yang kuat dapat menjadi katalis positif bagi saham perbankan.

"Kinerja fundamental yang baik dapat menjadi katalis positif bagi saham BBNI dan BMRI melalui peningkatan ekspektasi laba, penguatan kepercayaan investor, serta potensi penilaian ulang valuasi saham atau re-rating," tuturnya.

Selain BNI, Bank Mandiri juga telah merilis kinerja kuartal III 2026 dengan membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp45,5 triliun, tumbuh 20,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Nafan, capaian tersebut menunjukkan fundamental bank-bank besar BUMN tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor di tengah dinamika sentimen pasar.

Nafan mengatakan, investor tidak hanya melihat besarnya pertumbuhan laba, tetapi juga kualitas pertumbuhan tersebut.

Sejumlah indikator yang perlu dicermati antara lain pertumbuhan kredit, net interest margin (NIM), biaya dana atau cost of fund, rasio efisiensi operasional atau cost-to-income ratio (CIR), rasio NPL, serta biaya risiko kredit atau cost of credit.

Pertumbuhan dana pihak ketiga, terutama CASA, juga menjadi salah satu indikator penting karena berpengaruh terhadap struktur biaya pendanaan dan profitabilitas bank.

Dari sisi valuasi, investor dapat mencermati rasio price-to-earnings (PER), price-to-book value (PBV), serta potensi dividend yield untuk membandingkan daya tarik saham dengan bank sejenis.

Apabila pertumbuhan laba dapat dipertahankan, kualitas aset tetap terjaga, dan valuasi menjadi lebih menarik setelah koreksi, ruang pemulihan saham perbankan BUMN dinilai tetap terbuka.

Namun, tekanan jual investor asing yang berlanjut akibat ketidakpastian kebijakan indeks masih dapat menahan pergerakan saham meskipun fundamental perusahaan relatif solid.

"Dalam kondisi pasar yang masih sensitif terhadap isu MSCI, respons harga saham tidak selalu langsung mencerminkan kinerja keuangan emiten," ujar Nafan.

Menurutnya, fundamental perusahaan cenderung menjadi penopang dalam jangka menengah hingga panjang, sedangkan sentimen dan arus dana dapat lebih dominan memengaruhi pergerakan saham dalam jangka pendek.

Nafan melihat bank-bank besar memiliki sejumlah keunggulan berupa skala bisnis, basis nasabah yang luas, diversifikasi pendapatan, serta peran strategis dalam pembiayaan perekonomian nasional.

Prospek saham perbankan BUMN akan banyak dipengaruhi oleh kemampuan bank menjaga pertumbuhan kredit, mengendalikan biaya dana, mempertahankan kualitas aset, serta menjaga profitabilitas.

Sejumlah katalis yang dapat mendukung pergerakan saham antara lain laporan keuangan yang solid, pertumbuhan kredit produktif, penurunan biaya pencadangan, prospek dividen, valuasi yang menarik, serta meredanya ketidakpastian terkait MSCI.

Kembalinya aliran dana asing dan membaiknya kepercayaan investor juga dapat memperkuat momentum pemulihan saham perbankan.

Di sisi lain, investor masih perlu mencermati risiko berupa berlanjutnya arus keluar dana asing, ketidakpastian reklasifikasi pasar Indonesia, pelemahan rupiah, tekanan suku bunga terhadap biaya dana, perlambatan pertumbuhan kredit, serta peningkatan risiko kredit.

"Saya melihat prospek saham-saham Himbara masih menarik untuk dicermati secara selektif, terutama bagi investor dengan horizon investasi menengah hingga panjang," kata Nafan.

(kunthi fahmar sandy)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
IHSG Dibuka ke Level 5.305 Hari Ini
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Demi Perkuat Daya Saing UMKM, BRI BO Diponegoro Gandeng Homer Coffee Bersinergi
• 18 jam laluerabaru.net
thumb
Kronologi Demo di Yogyakarta Ricuh, Massa dan Polisi Bentrok, Lempar Batu sampai Petasan
• 13 jam lalugrid.id
thumb
Soal Wacana BPJS Kesehatan Diganti Klinik Kopdes, Guntur Romli: KDMP Sudah Seperti ‘Vampir’
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kinerja APBN Kalteng: Penerimaan Pajak Tumbuh 34,47 Persen per September 2026
• 22 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.