Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menguji kandungan produk pemanis cair pengganti gula, Beeru Stevia, di laboratorium.
Permintaan itu muncul setelah produk Beeru Stevia disorot karena mengklaim nol kalori. Dokter Fiktif (Doktif), melalui akun TikTok-nya, menyebut produk tersebut tidak nol kalori berdasarkan hasil pengujian laboratorium yang dilakukannya secara mandiri.
“Pertama, saya minta BPOM untuk turun ke lapangan menguji kepastian kandungan gula produk pemanis tersebut. Dan melakukan uji lab langsung di tempat,” kata Yahya kepada wartawan, Kamis (29/10).
Yahya mengatakan, BPOM dapat memberikan sanksi jika menemukan bukti pelanggaran. Sanksi tersebut dapat berupa teguran hingga pencabutan izin edar produk.
“Kedua, jika ditemukan bukti pelanggaran, BPOM bisa memberikan sanksi mulai dari yang ringan sampai pencabutan izin edar produk tersebut,” ujarnya.
Yahya mendesak BPOM memperketat pengawasan peredaran makanan dan minuman. Menurutnya, pengawasan diperlukan untuk melindungi konsumen dari produk yang tidak sehat dan tidak aman.
“Ketiga, mendesak BPOM untuk memperketat pengawasan terhadap peredaran makanan dan minuman untuk melindungi konsumen dari makanan dan minuman yang tidak sehat dan tidak aman,” tutur Yahya.
Yahya juga meminta BPOM bekerja sama dengan Polri dalam pengawasan produk makanan dan minuman. Kerja sama tersebut dinilai perlu untuk memastikan produk yang beredar memenuhi aspek keamanan bagi konsumen.
“Keempat, dalam melakukan pengawasan BPOM dapat bekerja sama dengan Polri untuk memastikan peredaran makanan dan minuman yang sehat dan aman untuk melindungi konsumen,” katanya.
Yahya turut meminta BPOM meningkatkan edukasi kepada masyarakat mengenai risiko konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak. Menurutnya, konsumsi ketiga komponen tersebut secara berlebihan berisiko meningkatkan penyakit tidak menular.
“Kelima, meminta BPOM untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat agar menghindari makanan dan minuman yang tinggi gula, garam dan lemak. Sebab, berisiko terhadap timbulnya penyakit tidak menular,” ujarnya.
Ia juga mendorong percepatan penerapan standar atau label Nutri-Level pada makanan dan minuman yang mengandung gula, garam, dan lemak. Menurutnya, pelabelan tersebut dapat membantu masyarakat mengetahui kandungan produk sebelum mengonsumsinya.
“Keenam, meminta BPOM untuk mengkaji percepatan penerapan standar atau label Nutri-Level pada makanan dan minuman yang mengandung gula, garam dan lemak agar masyarakat terhindar dari penyakit katastropik yang trennya terus mengalami peningkatan akibat pola hidup masyarakat yang terlalu banyak mengkonsumsi gula, garam dan lemak,” kata Yahya.
Lebih lanjut, Yahya meminta pemerintah menyediakan anggaran yang memadai bagi BPOM untuk memperkuat fungsi pengawasan dan penindakan. Ia menilai dukungan tersebut diperlukan karena tugas BPOM semakin kompleks, termasuk dalam mengawasi peredaran produk secara daring.
“Ketujuh, mendesak pemerintah memberikan dukungan kepada BPOM dengan anggaran yang memadai untuk meningkatkan fungsi pengawasan dan penindakan. Sebab, anggaran BPOM terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun, sementara tugasnya semakin banyak dan kompleks, terutama dengan peredaran produk-produk online yang sulit untuk diawasi,” ucapnya.
Yahya menilai, tanpa dukungan anggaran, sumber daya manusia, dan infrastruktur yang memadai, BPOM akan kesulitan menjalankan fungsi pengawasan dan penindakan secara efektif.
Beeru Stevia Hentikan Sementara PenjualanSementara itu, manajemen Beeru Indonesia memutuskan menghentikan sementara penjualan Beeru Stevia hingga proses verifikasi selesai. Keputusan tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Beeru Indonesia pada Rabu (28/10).
Beeru menyatakan sedang berkoordinasi dengan mitra manufaktur dan melakukan verifikasi lebih lanjut untuk memastikan kesesuaian produk sebelum penjualan kembali dilanjutkan.
“Perlu kami sampaikan bahwa Beeru Stevia diproduksi melalui kerja sama dengan mitra manufaktur yang menangani formulasi, pengadaan bahan baku, dan proses produksi,” demikian keterangan Beeru Indonesia.





