Jakarta: Integrasi dengan sistem yang sudah digunakan perusahaan menjadi salah satu tantangan utama dalam penerapan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Perbedaan kesiapan infrastruktur dan kualitas data membuat perusahaan perlu menyesuaikan strategi adopsi AI dengan kondisi operasional masing-masing.
Country Head of Global Payments Solutions HSBC Anne Suhandojo mengatakan perusahaan di Indonesia memiliki tingkat digitalisasi yang beragam. Sebagian masih mengandalkan pencatatan manual dan spreadsheet, sedangkan perusahaan lain telah menggunakan sistem enterprise resource planning (ERP) untuk mengintegrasikan berbagai data keuangan.
"Perusahaan di Indonesia semuanya mempunyai proses yang berbeda-beda. Dari yang sangat manual sampai yang sangat elektronik, yang sangat digital," ujar Anne dalam pemaparan hasil survei di acara Media Briefing Survei HSBC: Tren Adopsi AI di Korporasi Indonesia, Kamis, 29 Oktober 2026
Menurut Anne, perbedaan tersebut turut memengaruhi proses integrasi AI. Perusahaan yang masih mengandalkan pencatatan manual perlu memperhatikan kualitas dan pengelolaan data sebelum mengadopsi teknologi tersebut. "Kalau data terpencar-pencar, data yang tidak akurat, bagaimana AI bisa membantu? Karena AI sebenarnya hanya tools," kata dia.
Data yang tersusun rapi dan terkonsolidasi memungkinkan AI mengolah informasi, melakukan analisis, serta menghasilkan rekomendasi berdasarkan kebutuhan perusahaan. Sebaliknya, data yang tersebar di berbagai sistem dapat membatasi pemanfaatan teknologi tersebut.
Selain integrasi sistem, Anne menyebut keamanan data, keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan AI, serta pertanggungjawaban atas keputusan yang didukung teknologi sebagai tantangan lainnya.
Dia menilai, perusahaan perlu memastikan data yang digunakan dalam sistem AI terlindungi dan hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang. Kesiapan sumber daya manusia juga diperlukan agar teknologi dapat diterapkan sesuai kebutuhan bisnis.
Tantangan penerapan AI turut menjadi perhatian perusahaan yang mulai menggunakannya untuk mendukung pekerjaan keuangan. Direktur Keuangan (CFO) Shipper Group, Leo Pontoh, mengatakan perusahaannya memanfaatkan AI untuk membantu menstandarkan dokumen penagihan dan pembayaran vendor.
Menurut Leo, dokumen dari klien maupun vendor memiliki format yang berbeda-beda. AI digunakan untuk membantu mengolah dokumen tersebut menjadi format yang lebih seragam, merangkum informasi, serta mempercepat proses rekonsiliasi dan pembayaran.
"Dari sisi penagihan sendiri kita sudah pasti menggunakan AI, di mana AI sangat membantu kita untuk menstandarkan hal yang tidak standar," ujar Leo.
Pertimbangkan keamanan data dan pengendalian akses Country Head of Global Payments Solutions HSBC Anne Suhandojo mengatakan perusahaan di Indonesia memiliki tingkat digitalisasi yang beragam. Sebagian masih mengandalkan pencatatan manual dan spreadsheet, sedangkan perusahaan lain telah menggunakan sistem enterprise resource planning (ERP) untuk mengintegrasikan berbagai data keuangan.
"Perusahaan di Indonesia semuanya mempunyai proses yang berbeda-beda. Dari yang sangat manual sampai yang sangat elektronik, yang sangat digital," ujar Anne dalam pemaparan hasil survei di acara Media Briefing Survei HSBC: Tren Adopsi AI di Korporasi Indonesia, Kamis, 29 Oktober 2026
Menurut Anne, perbedaan tersebut turut memengaruhi proses integrasi AI. Perusahaan yang masih mengandalkan pencatatan manual perlu memperhatikan kualitas dan pengelolaan data sebelum mengadopsi teknologi tersebut. "Kalau data terpencar-pencar, data yang tidak akurat, bagaimana AI bisa membantu? Karena AI sebenarnya hanya tools," kata dia.
Data yang tersusun rapi dan terkonsolidasi memungkinkan AI mengolah informasi, melakukan analisis, serta menghasilkan rekomendasi berdasarkan kebutuhan perusahaan. Sebaliknya, data yang tersebar di berbagai sistem dapat membatasi pemanfaatan teknologi tersebut.
Selain integrasi sistem, Anne menyebut keamanan data, keterbatasan sumber daya manusia yang memiliki keterampilan AI, serta pertanggungjawaban atas keputusan yang didukung teknologi sebagai tantangan lainnya.
Dia menilai, perusahaan perlu memastikan data yang digunakan dalam sistem AI terlindungi dan hanya dapat diakses oleh pihak yang berwenang. Kesiapan sumber daya manusia juga diperlukan agar teknologi dapat diterapkan sesuai kebutuhan bisnis.
Tantangan penerapan AI turut menjadi perhatian perusahaan yang mulai menggunakannya untuk mendukung pekerjaan keuangan. Direktur Keuangan (CFO) Shipper Group, Leo Pontoh, mengatakan perusahaannya memanfaatkan AI untuk membantu menstandarkan dokumen penagihan dan pembayaran vendor.
Menurut Leo, dokumen dari klien maupun vendor memiliki format yang berbeda-beda. AI digunakan untuk membantu mengolah dokumen tersebut menjadi format yang lebih seragam, merangkum informasi, serta mempercepat proses rekonsiliasi dan pembayaran.
"Dari sisi penagihan sendiri kita sudah pasti menggunakan AI, di mana AI sangat membantu kita untuk menstandarkan hal yang tidak standar," ujar Leo.
Baca Juga :
Survei: 84% Manajer Keuangan RI Adopsi AI demi Operasional BisnisLebih lanjut Leo menjelaskan implementasi AI di Shipper dilakukan melalui diskusi lintas departemen untuk mengidentifikasi kendala operasional. Setelah menentukan proyek yang diprioritaskan, perusahaan menetapkan jadwal pengembangan dan tahapan implementasinya.
"Jadi kolaboratif antara tim tech, tim yang akan menerima penggunaannya nanti, user-nya, dan juga tim dari internal control dan juga risk," kata dia.
Leo menambahkan, pengembangan kemampuan AI melibatkan tim teknologi dengan mempertimbangkan keamanan data dan pengendalian akses. Sementara itu, tanggung jawab implementasi tetap berada pada unit bisnis yang menggunakan teknologi tersebut.
Sementara itu, Head of Finance ATIC Group, Minto Hartati, menjelaskan AI digunakan untuk membantu pekerjaan administrasi keuangan, terutama pengolahan invoice. Minto mengatakan timnya menangani sekitar 10 ribu invoice per bulan dari prinsipal dan vendor. Sebelumnya, informasi dalam invoice direkap secara manual ke dalam spreadsheet untuk kebutuhan pembayaran dan pelaporan.
"Yang kita lakukan adalah sekarang semua invoice yang masuk dalam bentuk soft copy itu bisa dibantu dengan AI, jadi list yang dulunya kita buat secara manual, diketik manual sekarang bisa ter-generate otomatis," ujar Minto.
Menurut Minto, proses pengembangan sistem tersebut berlangsung sekitar dua hingga tiga bulan, mulai dari diskusi dengan tim pengembang hingga pengujian dan penyesuaian sistem.
Anne menyarankan perusahaan memulai penerapan AI dari proses sederhana yang memiliki kebutuhan jelas. Setelah itu, penggunaannya dapat dikembangkan secara bertahap berdasarkan kesiapan sistem, kualitas data, dan kebutuhan operasional.
"Jadi kalau perusahaan mau menggunakan AI, sebetulnya bagaimana caranya? Start small, jadi mulai dari yang simpel dulu. Sama seperti kita menggunakan teknologi, kita mulai dari yang simpel, melakukan riset, melakukan komparasi mungkin dari beberapa opsi dan lain-lain. Jadi perusahaan bisa menggunakan AI untuk fungsi-fungsi tersebut terlebih dahulu," ujar Anne.
Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan mengevaluasi manfaat teknologi sekaligus mengidentifikasi kendala sebelum AI diterapkan pada proses yang lebih kompleks.
Dengan persiapan infrastruktur, pengelolaan data, dan pengawasan yang memadai, AI dapat membantu meningkatkan efisiensi operasional. Namun, keberhasilan penerapannya tetap bergantung pada kesiapan perusahaan dalam mengintegrasikan teknologi dengan sistem dan proses bisnis yang sudah berjalan. (Selsha Septifanie Gunawan)




