JAKARTA, KOMPAS.TV - Kasus pembunuhan istri siri berinisial DH (30) dan anaknya di Madiun, Jawa Timur, terus bergulir dan menyita perhatian publik.
Praktisi kepolisian, Brigjen (Purn) Sri Suari, menilai tindakan keji pelaku DBM (40) bukan sekadar aksi spontan, melainkan sebuah pembunuhan yang direncanakan secara sistematis.
Menurutnya, runutan peristiwa dan penanganan korban oleh pelaku menunjukkan adanya pola yang terpikirkan dengan matang, meskipun kemungkinan skenario tersebut baru disusun setelah pelaku menghabisi nyawa DH.
"Dari mulai perlakuannya dia membunuh di hotel, berapa jarak antara pintu hotel dengan mobilnya, bagaimana konstruksi hotel itu akan mengungkap semua," kata Sri dalam dialog Sapa Indonesia Malam KompasTV, Kamis (29/10/2026).
Baca Juga: Pembunuhan Istri Siri-Anak di Madiun: Pelaku Jalani Prarekonstruksi di 3 Lokasi, Hotel-Rumah Pribadi
Sebagaimana diketahui, pelaku sempat membawa jasad korban DH berpindah tempat, bahkan membunuh anaknya di lokasi berbeda.
"Apa yang dia lakukan, perencanaannya seruntut apa itu dilakukan, mengingat hari yang cukup panjang, sempat beli, sempat bawa ke sana bawa ke sini, korban bayi dibunuh di tempat lain. Ini satu perencanaan yang sistematis."
Dia pun menyampaikan, pelaku mungkin saja berkilah pembunuhan terhadap istri sirinya di hotel didasari atas rasa marah yang tidak terkontrol. Namun, eksekusi lanjutan terhadap sang anak menjadi bukti kuat adanya niat dan perencanaan yang utuh.
"Bisa saja dia mengatakan, 'perbuatan pertama saya lakukan karena saya dalam keadaan marah', sehingga bablas. Tapi bagaimana dengan kedua? Jelas perencanaannya full terbukti," tuturnya.
Lebih lanjut, Sri turut menyinggung terkait pentingnya prarekonstruksi maupun konstruksi dalam perkara pembunuhan.
Menurutnya, proses ini dimaksudkan untuk menguji konsistensi dan kebenaran dari seluruh informasi yang dikumpulkan penyidik.
"Mengapa di setiap kasus pembunuhan selalu diaksanakan pra atau rekonstruksi? Sepandai-pandainya orang berbohong pasti akan ada celah, dari puzzle-puzzle cerita, atau keterangan si pelaku, keterangan saksi, ketidaksesuaian itu akan dijadikan titik buta," tuturnya.
"Nah, titik buta ini akan dijawab di rekonstruksi, makanya motifnya nanti, bisa saja dia bilang a begitu hasil penyelidikan tuntas ternyata bukan itu."
Pembunuhan istri siri dan anak di Madiun
Diberitakan sebelumnya, tersangka DBM membunuh istri siri dan anaknya pada 20 Septemer 2026 di dua lokasi berbeda di Kota Madiun.
DH diduga dicekik oleh tersangka di sebuah hotel, sedangkan AG dibunuh dengan cara serupa di dalam mobil.
Tak sampai di situ, tersangka kemudian menyembunyikan serta menghilangkan jejak keberadaan kedua jenazah korban.
Berdasarkan pengakuan DBM kepada polisi, dia nekat membunuh DH karena motif pertengkaran atau percekcokan saat berada di hotel.
“Mengapa sampai dia menghabisi anaknya? Berdasarkan pengakuan dari tersangka kepada kami, penyidik, ada kekhawatiran yang bersangkutan, si anak ini akan menjadi saksi dalam peristiwa tersebut. Makanya ikut juga dihabisi," kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Jatim, Kombes Pol Roy Hutton Marulamrata Sihombing, Selasa (27/10).
Baca Juga: Polisi Jerat Pembunuh Ibu dan Anak di Madiun dengan Pembunuhan Berencana, Psikolog: Ada Kerancuan
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Isnaya Helmi Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- pembunuhan
- praktisi polisi
- pembunuhan istri siri
- madiun
- perencanaan
- pembunuhan berencana





