JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan, memasuki awal November 2026, potensi hujan di sejumlah wilayah Indonesia diprakirakan meningkat di tengah kondisi panas dan kering yang masih berlangsung di daerah lain.
Dalam prakiraan cuaca sepekan periode 30 Oktober-5 November 2026, BMKG menjelaskan kondisi kering di sejumlah wilayah dipengaruhi interaksi El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Meski demikian, dinamika atmosfer masih mendukung pertumbuhan awan hujan yang dapat memicu hujan dengan intensitas signifikan di beberapa daerah.
Baca Juga: BMKG Petakan Potensi Awan Cumulonimbus 30 Oktober-5 November 2026, Papua Masuk Kategori FRQ
"Kendati kekeringan masih melanda, cuaca ekstrem berupa hujan lebat tetap membayangi sejumlah daerah lain," tulis BMKG dalam siaran persnya, Kamis (29/10/2026).
Prediksi Hujan Awal November 2026Berdasarkan prediksi curah hujan kumulatif Dasarian I November 2026, BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan kategori menengah.
Dalam publikasi prediksi curah hujan dasarian, BMKG mencatat 67,62 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan kategori menengah, 30,57 persen kategori rendah, dan 1,81 persen kategori tinggi.
Curah hujan kategori rendah, yakni 0-50 milimeter per dasarian diprakirakan mendominasi sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Banten, DKI Jakarta, sebagian Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.
Sementara itu, wilayah lain masih berpeluang mengalami curah hujan kategori menengah hingga tinggi. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa distribusi hujan pada awal November tidak merata di seluruh Indonesia.
Perlu diperhatikan prediksi curah hujan dasarian menggambarkan akumulasi hujan selama sepuluh hari, bukan kepastian bahwa hujan akan turun setiap hari.
Baca Juga: Prakiraan Cuaca BMKG Besok Jumat 30 Oktober 2026: Hujan Petir di 2 Kota
Hujan lebat tetap dapat terjadi dalam durasi yang lebih singkat meskipun akumulasi curah hujan suatu wilayah diprakirakan berada pada kategori rendah atau menengah.
"Oleh sebab itu, meskipun akumulasi dasarian tergolong sedang, probabilitas presipitasi ekstrem harian tetap memerlukan antisipasi mitigasi bencana hidrometeorologi," kata BMKG.
Dinamika Atmosfer Picu Pertumbuhan Awan HujanBMKG memprakirakan aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO) berpotensi memengaruhi wilayah barat dan selatan Indonesia. Sementara itu, Gelombang Kelvin diprediksi aktif di bagian timur Indonesia.
Aktivitas fenomena atmosfer tersebut dapat mendukung pertumbuhan awan hujan, terutama apabila terjadi bersamaan dengan konvergensi massa udara dan kondisi atmosfer yang labil.
Selain itu, pola angin regional turut memengaruhi perkembangan cuaca. Dalam analisis BMKG, keberadaan sistem tekanan rendah dan sirkulasi siklonik dapat membentuk daerah pertemuan angin serta perlambatan kecepatan angin yang mendukung pembentukan awan konvektif.
Kondisi tersebut berpotensi memicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat, yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.
Karena itu, masyarakat tetap perlu memperhatikan prakiraan cuaca dan peringatan dini BMKG, terutama ketika beraktivitas di wilayah yang berpotensi mengalami hujan signifikan.
Baca Juga: Peringatan Dini Cuaca Indonesia 30-31 Oktober 2026, BMKG: Sejumlah Wilayah Hujan Lebat
Kekeringan dan Ancaman Karhutla Masih Perlu DiwaspadaiDi tengah peluang peningkatan hujan, kondisi panas dan kering masih menjadi perhatian di sejumlah wilayah Indonesia.
BMKG melaporkan selama 26-28 Oktober 2026, curah hujan terpantau minim dan tutupan awan terbatas di sejumlah daerah. Temperatur udara juga tercatat lebih dari 37 derajat Celsius di wilayah seperti Lampung dan Sulawesi Tengah.
Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan lingkungan terhadap kebakaran hutan dan lahan, terutama di daerah yang mengalami kekurangan hujan dan memiliki vegetasi kering.
Berdasarkan pemantauan citra satelit selama 10 hari terakhir, BMKG mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi terkonsentrasi di Kalimantan Tengah sebanyak 2.949 titik, Papua Selatan 894 titik, dan Sumatera Selatan 551 titik.
Sebaran asap kebakaran juga terpantau di sejumlah wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua.
Meski demikian, titik panas merupakan indikator yang perlu ditindaklanjuti melalui verifikasi di lapangan. Keberadaan titik panas tidak dengan sendirinya memastikan terjadinya kebakaran pada setiap lokasi yang terdeteksi.
Masyarakat diimbau memantau informasi cuaca terkini dari BMKG dan mengikuti arahan otoritas setempat sesuai kondisi di wilayah masing-masing.
Baca Juga: Peringatan Dini Cuaca BMKG Jabodetabek Besok 30 Oktober 2026, Tangerang-Depok Waspada Hujan Lebat
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Tito-Dirhantoro
Sumber : Kompas TV
- BMKG
- prakiraan cuaca November 2026
- potensi hujan
- El Nino
- kekeringan
- karhutla





