Jakarta, CNBC Indonesia - Saham Alphabet, induk usaha Google, ambruk setelah laporan keuangan kuartal III-2026 memperlihatkan lonjakan belanja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), sementara monetisasi layanan pencarian barunya masih menghadapi tantangan.
Saham kelas A Alphabet berkode GOOGL ditutup anjlok sekitar 12,6% menjadi US$283,82 pada Kamis (29/10/2026) waktu Amerika Serikat (AS), sehari setelah perusahaan merilis laporan keuangannya.
Berdasarkan perhitungan Yahoo Finance, sekitar US$524 miliar atau sekitar Rp 9.505,36 triliun (US$1= Rp 18.140) kapitalisasi pasar Alphabet terhapus pada titik terendah perdagangan hari itu. Besarnya penurunan valuasi berubah mengikuti pergerakan harga saham sepanjang sesi.
Tekanan tersebut muncul ketika pendapatan Alphabet masih tumbuh hampir 25% dan laba operasinya meningkat sekitar 30%. Namun, pertumbuhan bisnis dibayangi membengkaknya kebutuhan modal serta arus kas bebas yang berbalik negatif.
Pendapatan Naik, Laba Bersih Merosot
Alphabet membukukan pendapatan US$127,58 miliar pada kuartal III-2026, meningkat dari US$102,35 miliar setahun sebelumnya. Realisasi tersebut sedikit di bawah konsensus analis yang dihimpun FactSet, sekitar US$127,96-127,97 miliar.
Laba per saham dilusian atau diluted earnings per share (EPS) mencapai US$2,12, di bawah perkiraan sekitar US$3,01-3,02. Berikut ringkasan kinerjanya:
Penurunan laba bersih turut dipengaruhi kerugian investasi saham sekitar US$8,7 miliar, yang menurut manajemen terutama berasal dari penurunan nilai kepemilikan di SpaceX.
Setelah memperhitungkan pajak, pos tersebut mengurangi laba bersih sekitar US$6,7 miliar dan EPS sebesar US$0,55. Sementara itu, laba operasi tetap meningkat menjadi US$40,58 miliar, menunjukkan bahwa tekanan terhadap laba akhir juga berasal dari aktivitas di luar operasional.
AI Mode Ramai, Pendapatan Belum MengimbangiBisnis pencarian Google menjadi sorotan. Pendapatan Google Search & other tumbuh 12% menjadi US$63,35 miliar, melambat dibandingkan sekitar 17% pada kuartal sebelumnya.
Pada saat yang sama, CEO Alphabet Sundar Pichai menyampaikan bahwa pertumbuhan jumlah pencarian tahunan mencapai tingkat tertinggi dalam lima tahun. Pertanyaan melalui AI Mode rata-rata juga tiga kali lebih panjang dibandingkan pencarian tradisional.
Chief Business Officer Google Philipp Schindler mengakui bahwa peningkatan penggunaan AI Mode mempengaruhi hasil Search karena monetisasinya masih lebih rendah. Dengan demikian, pertumbuhan aktivitas belum menghasilkan pendapatan dengan tingkat yang sama seperti layanan yang lebih matang.
Schindler turut menyebut kurs sebagai faktor terbesar perlambatan Search dibandingkan kuartal sebelumnya. Faktor lainnya mencakup perubahan belanja pengiklan, termasuk normalisasi anggaran media dan hiburan setelah Piala Dunia.
Google kini memperluas penayangan iklan dalam AI Overviews dan AI Mode, termasuk ke pasar internasional, untuk meningkatkan pendapatan dari perubahan perilaku pencarian tersebut.
CAPEX Alphabet mencapai US$51,36 miliar, melonjak 114,4% secara tahunan. Pengeluaran tersebut melampaui arus kas operasi sebesar US$42,29 miliar, sehingga arus kas bebas negatif US$9,07 miliar.
Sebagian besar investasi infrastruktur dialokasikan untuk server, perangkat jaringan, dan pusat data pendukung AI.
Manajemen menjelaskan bahwa arus kas juga tertekan oleh penumpukan persediaan untuk penjualan sistem Tensor Processing Unit (TPU), serta pembayaran tunai denda Komisi Eropa sebesar US$5,2 miliar.
Alphabet mempertahankan panduan belanja modal 2026 sebesar US$195-205 miliar. Pengeluaran tersebut diperkirakan kembali meningkat signifikan pada 2027, disertai tambahan beban penyusutan serta biaya operasional pusat data.
Cloud Melesat, Margin Menghadapi TekananGoogle Cloud menjadi penopang pertumbuhan dengan pendapatan US$30,71 miliar, naik 102,6%. Laba operasinya meningkat menjadi sekitar US$11,12 miliar dari US$3,59 miliar.
Permintaan infrastruktur dan solusi AI menjadi penggerak utama, dengan kontribusi tambahan dari penjualan sistem TPU.
Namun, ekspansi membutuhkan kapasitas komputasi lebih besar. Alphabet mulai menggunakan kapasitas pihak ketiga pada akhir kuartal III dan berencana meningkatkan penggunaannya pada kuartal IV. Manajemen memperkirakan langkah ini menekan margin cloud dalam jangka pendek.
Kombinasi perlambatan Search, monetisasi AI yang masih berkembang, dan kebutuhan modal besar membantu menjelaskan kerasnya reaksi pasar. Alphabet menghadapi tuntutan untuk membuktikan bahwa pertumbuhan penggunaan AI mampu menghasilkan pendapatan dan arus kas yang sebanding dengan investasi infrastrukturnya.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(gls/gls)




