Ketika konsentrasi gas rumah kaca kembali memecahkan rekor, dunia terus memanaskan planet yang sudah semakin rentan. Di Indonesia, El Nino memperbesar ancaman kebakaran hutan dan lahan, tetapi krisis ini bukan semata-mata takdir alam. Ia juga mencerminkan pilihan pembangunan dan kegagalan mengendalikan emisi.
Ada sesuatu yang mengerikan dari sebuah rekor yang terus berulang. Bukan karena manusia tidak mengetahui bahayanya, melainkan karena peringatan ilmiah telah disampaikan berulang kali. Dampaknya semakin nyata, tetapi penyebab utama krisis iklim terus bertambah.
Pada 2025, konsentrasi karbon dioksida (CO₂) di atmosfer mencapai 426,8 bagian per sejuta (parts per million/ppm), setara dengan 153 persen tingkat praindustri. Konsentrasi metana dan dinitrogen oksida, dua gas rumah kaca penting lainnya, juga mencatat rekor tertinggi. Demikian laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), "Greenhouse Gas Bulletin", yang dikeluarkan pada Selasa (27/10/2026).
“Bertambah satu tahun lagi, rekor baru lagi,” kata Wakil Sekretaris Jenderal WMO Ko Barrett. Gas rumah kaca, ujarnya, memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, menyediakan energi bagi cuaca ekstrem dan meningkatkan risiko bagi perekonomian serta masyarakat.
Angka itu bukan sekadar statistik atmosfer. Ia menunjukkan bahwa dunia terus menumpuk gas pemerangkap panas ketika manusia sudah menghadapi gelombang panas, kekeringan, hujan ekstrem, banjir, dan kebakaran yang semakin membebani kehidupan.
Serial Artikel
Rekor Emisi Kini dan Esok
Dunia menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat terkait upaya menjaga kestabilan cuaca dan iklim.
Sejak dekade 1960-an, laju pertumbuhan CO₂ di atmosfer meningkat tiga kali lipat. Ketika WMO pertama kali menerbitkan buletin ini pada 2004, konsentrasi CO₂ global rata-rata tercatat 377,5 ppm. Pada 2025, angkanya mencapai 426,8 ppm.
Kenaikan 49,3 ppm dalam sekitar dua dekade itu memperlihatkan betapa sulitnya dunia mengendalikan akumulasi emisi.
Penting dipahami, angka tersebut menunjukkan konsentrasi gas yang menumpuk di atmosfer, bukan jumlah emisi yang dilepaskan selama setahun. Sekitar separuh CO₂ yang diemisikan setiap tahun tetap berada di atmosfer, sementara sisanya diserap daratan dan lautan. Selama emisi terus berlangsung, konsentrasi gas rumah kaca akan terus bertambah.
Pada 2024–2025, konsentrasi CO₂ meningkat 2,8 ppm. Angka itu sedikit lebih rendah daripada lonjakan luar biasa pada 2023–2024, tetapi masih melampaui rata-rata pertumbuhan selama satu dekade terakhir.
Penurunan laju kenaikan bukan berarti masalah telah terkendali. Itu hanya berarti penambahan karbon berlangsung sedikit lebih lambat dibandingkan tahun sebelumnya.
Artinya, keputusan energi dan pembangunan sekarang bukan hanya menentukan nasib generasi hari ini, melainkan juga kondisi iklim ketika anak-anak kita dewasa.
CO₂ juga memiliki umur atmosfer yang panjang. Sebagian dampak emisi hari ini akan bertahan selama puluhan hingga ratusan tahun. Artinya, keputusan energi dan pembangunan sekarang bukan hanya menentukan nasib generasi hari ini, melainkan juga kondisi iklim ketika anak-anak kita dewasa.
Jika tren emisi dan kebijakan saat ini tidak berubah secara signifikan, suhu rata-rata Bumi diproyeksikan meningkat sekitar 2,8 derajat celsius pada akhir abad ini dibandingkan masa praindustri. Proyeksi Program Lingkungan PBB (UNEP) dalam Emissions Gap Report 2025 bahkan menunjukkan bahwa jika seluruh komitmen iklim negara dipenuhi, pemanasan masih berada pada kisaran 2,3–2,5 derajat Celsius.
Angka ini jauh melampaui target Perjanjian Paris untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat celsius dan mengupayakan agar tidak melampaui 2 derajat celsius. Bahkan, dunia diperkirakan akan melampaui ambang 1,5 derajat celsius sebagai rata-rata jangka panjang dalam dekade mendatang.
Ini bukan sekadar perbedaan angka dalam simulasi iklim. Setiap pecahan derajat tambahan berarti risiko lebih besar bagi kehidupan dalam bentuk El Niño yang makin sering dan kuat, gelombang panas yang lebih ekstrem, hujan dan banjir yang lebih intens, kekeringan berkepanjangan, serta meningkatnya ancaman terhadap pangan, kesehatan, dan ekosistem.
El Nino bukan pembenaran
Di Indonesia, ancaman nyata dari iklim yang kian ekstrem tersebut hadir melalui kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, kabut asap, serta gangguan terhadap produksi pangan. El Nino pada 2026 meningkatkan kekhawatiran akan musim kering dan kebakaran, terutama di wilayah rawan di Sumatera dan Kalimantan.
Namun, menjadikan El Nino sebagai penjelasan tunggal atas kebakaran merupakan kekeliruan. Fenomena ini mengubah pola hujan dan memperpanjang kondisi kering, membuat vegetasi dan gambut lebih mudah terbakar. Akan tetapi, El Nino tidak menentukan siapa yang menyalakan api, bagaimana lahan dikelola, atau mengapa kebakaran berulang di kawasan yang sama.
Kebakaran hutan dan lahan bukan semata-mata bencana alam. Risikonya juga dibentuk oleh keputusan pemerintah dalam pengeringan gambut, pembukaan lahan, penggunaan api, lemahnya pengawasan, dan penegakan hukum yang tidak memadai.
Di lahan gambut, api dapat membara di bawah permukaan, sulit dipadamkan, dan melepaskan karbon yang tersimpan selama ribuan tahun. Kebakaran dengan demikian menjadi bagian dari lingkaran krisis iklim: kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran, kebakaran melepaskan karbon, dan tambahan karbon memperburuk pemanasan jangka panjang.
WMO mengingatkan bahwa laju kenaikan CO₂ yang sedikit lebih rendah pada 2025 antara lain mencerminkan pulihnya kemampuan ekosistem daratan menyerap karbon setelah El Nino kuat pada 2023–2024. Kekeringan, vegetasi yang mengering, dan kebakaran mengurangi kemampuan biosfer menyerap karbon.
“Pada 2026, kita dapat memperkirakan peningkatan konsentrasi lebih lanjut akibat pembakaran bahan bakar fosil dan berkembangnya El Niño yang kuat, yang akan memengaruhi penyerap karbon daratan seperti pada 2023–2024,” kata Oksana Tarasova, pejabat ilmiah senior WMO.
Peringatan ini menegaskan bahwa El Nino bukan hanya ancaman terhadap keselamatan masyarakat, melainkan juga dapat memperlemah kemampuan alam membantu menyerap emisi.
Karena itu, respons Indonesia tidak cukup berhenti pada pemadaman ketika api membesar. Perlindungan gambut, pengawasan konsesi, pencegahan pembakaran, pemulihan ekosistem, dan penegakan hukum harus menjadi prioritas. Tanpa pembenahan tata kelola lahan, setiap musim kering berisiko kembali menjadi krisis asap dan emisi.
Beban berat generasi mendatang
Dampak krisis iklim tidak berhenti pada kerusakan ekosistem. Kabut asap mengancam kesehatan, terutama anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Partikel halus dari kebakaran dapat menembus jauh ke paru-paru, meningkatkan risiko gangguan pernapasan dan kardiovaskular.
Kekeringan juga mengancam ketersediaan air dan produksi pangan. Ketika panen terganggu dan harga meningkat, keluarga berpenghasilan rendah menanggung beban yang lebih berat. Biaya kesehatan, kehilangan pendapatan, gangguan pendidikan, dan kerusakan lingkungan menjadi ongkos tersembunyi yang tidak selalu tercatat dalam perhitungan ekonomi.
Di sinilah ketidakadilan iklim terlihat jelas. Mereka yang paling rentan sering kali bukan pihak yang paling diuntungkan dari aktivitas penghasil emisi. Generasi muda bahkan tidak memiliki suara ketika keputusan yang menentukan masa depan iklim mereka dibuat.
Setiap tambahan pemanasan memperbesar risiko iklim, sebagaimana diperingatkan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC). Sebaliknya, pengurangan emisi yang cepat, dalam, dan berkelanjutan masih dapat membatasi besarnya pemanasan pada masa mendatang.
Masa depan belum sepenuhnya ditentukan. Namun, ruang untuk bertindak semakin menyempit setiap kali dunia menunda pengurangan emisi.
Indonesia telah menyampaikan Second Nationally Determined Contribution (NDC-2) pada 2025, dengan sasaran menuju emisi nol bersih pada 2060 atau lebih cepat. Akan tetapi, komitmen jangka panjang harus diuji melalui keputusan yang diambil hari ini.
Seberapa cepat ketergantungan pada batu bara dikurangi? Seberapa besar investasi dialihkan ke energi terbarukan? Apakah hutan dan gambut sungguh-sungguh dilindungi? Apakah pembangunan pangan dan industri memperhitungkan biaya emisi serta kerusakan ekosistem?
Target emisi nol bersih akan kehilangan makna jika kebijakan sekarang justru mengunci ketergantungan pada bahan bakar fosil selama puluhan tahun. Kemampuan hutan menyerap karbon juga bukan cek kosong untuk membenarkan emisi yang terus meningkat. Hutan dapat terbakar, gambut dapat rusak, dan karbon yang tersimpan dapat kembali ke atmosfer.
Transisi energi memang harus mempertimbangkan kebutuhan pembangunan, pekerjaan, dan keterjangkauan energi. Namun, kebutuhan itu tidak membenarkan penundaan tanpa batas. Dukungan pendanaan dan teknologi internasional perlu diperkuat, sementara pemerintah memastikan investasi publik dan swasta bergerak searah dengan pengurangan emisi.
Laporan WMO dirilis menjelang Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-31 (COP31) di Antalya, Turki, pada November 2026. Tantangannya bukan lagi kekurangan peringatan ilmiah, melainkan bagaimana mengubah komitmen menjadi tindakan yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah harus menjelaskan dari sektor mana pengurangan emisi dilakukan, kapan target dicapai, siapa yang bertanggung jawab, dan bagaimana hasilnya diverifikasi. Penanganan kebakaran pun harus diukur dari penurunan luas lahan terbakar, pemulihan gambut, dan berkurangnya kejadian berulang, bukan hanya jumlah personel pemadam yang dikerahkan.
Ko Barrett mengingatkan bahwa CO₂ berumur sangat panjang dan akan memengaruhi iklim “bukan hanya selama bertahun-tahun, tetapi selama puluhan bahkan ratusan tahun”.
Peringatan itu membawa kita pada pertanyaan tentang warisan seperti apa yang sedang disiapkan bagi generasi mendatang?
Anak-anak yang hari ini bersekolah tidak ikut memutuskan pembangunan pembangkit fosil, pembukaan hutan, atau kebijakan yang memperbesar emisi. Namun, ketika dewasa, mereka mungkin harus menghadapi suhu lebih tinggi, risiko bencana lebih besar, serta biaya pangan dan kesehatan yang semakin berat.
Kita tidak dapat menghapus emisi yang telah dilepaskan. Namun, kita masih bisa menentukan seberapa banyak karbon tambahan yang masuk ke atmosfer, seberapa cepat energi bersih dikembangkan, dan seberapa serius ekosistem dilindungi.
Rekor gas rumah kaca adalah catatan ilmiah sekaligus ukuran jarak antara pengetahuan dan tindakan manusia.





