Malang (beritajatim.com) – Universitas Islam Malang (Unisma) menggelar Kuliah Tamu bertajuk “Islam, Negara, dan Syariat Agama” di Hall Gedung Pascasarjana Unisma Lantai 7, Jumat (30/10/2026). Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional ini menghadirkan Wakil Rais Aam PBNU, Dr. (H.C.) K.H. Afifuddin Muhajir, sebagai narasumber.
Di hadapan para mahasiswa pascasarjana S2 dan S3, Kiai Afifuddin menjelaskan bahwa relasi antara Islam, negara, dan syariat agama di Indonesia memiliki karakter yang moderat (tawasuth), integratif, serta dinamis. Pendekatan tersebut berlandaskan pada kerangka fiqih siyasah atau fiqih tata negara serta ushul fiqih.
Menurut pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo itu, kehadiran sebuah negara bukan merupakan tujuan akhir, melainkan instrumen atau sarana (wasilah) yang penting untuk mencapai kemaslahatan publik.
“Berdirinya negara bersifat wajib secara syar’i karena kewajiban agama membutuhkan stabilitas negara. Hal ini merujuk pada kaidah fiqih, bahwa sesuatu yang menjadi syarat terwujudnya perkara wajib, maka hukumnya adalah wajib,” ujar Kiai Afifuddin saat menyampaikan materinya.
Ia juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan titik temu yang sangat selaras dengan nilai-nilai Islam dan tidak bertentangan dengan syariat. Melalui metode induktif atau istiqra, substansi dalam Pancasila terbukti sejalan dengan tujuan utama syariat (Maqashid as-Syari’ah), seperti keadilan, persatuan, dan kemaslahatan umat.
Kuliah tamu di Unisma oleh Wakil Rais Aam PBNU, Dr. (H.C.) K.H. Afifuddin Muhajir (Foto: Dani Alifian)“Ajaran Islam secara garis besar terbagi menjadi tiga pilar utama, yakni akidah, akhlak tasawuf, dan syariat. Syariat dipahami sebagai aturan-aturan praktis yang mengatur perilaku manusia, baik dalam hubungannya dengan Sang Pencipta maupun antar sesama manusia,” ujarnya di hadapan mahasiswa pascasarjana Unisma.
Kendati demikian, aturan praktis tersebut tidak akan bisa terlaksana secara optimal tanpa ditopang oleh akidah yang kuat dan hati yang bersih. Syariat Islam sendiri, imbuhnya, memiliki dua dimensi penting yang senantiasa bersinergi, yakni sifat tsabat (tegar atau tetap pada ranah prinsipil) serta murunah (lentur dan adaptif pada ranah muamalah, sosial, serta politik).
Sementara itu, Direktur Pascasarjana Unisma, Prof. Mas’ud, menyampaikan bahwa kehadiran narasumber ahli dalam kuliah tamu ini diharapkan mampu memberikan pencerahan akademik. Utamanya bagi kalangan santri dan akademisi untuk memahami secara mendalam relevansi serta harmonisasi antara ajaran Islam, kehidupan bernegara, dan penerapan syariat di Indonesia. (dan/ian)




