Sekotak Nasi dan Kartu Transportasi, Strategi ”Healing” Tanpa Bikin Dompet Kering

kompas.id
58 menit lalu
Cover Berita

Healing kerap identik dengan pengeluaran yang membeludak. Kini, di tengah kondisi ekonomi yang sulit, warga mesti putar otak untuk bisa tetap berwisata tanpa harus menguras kantong. Mengunjungi Kota Tua atau sekadar keliling Jakarta masuk daftar pilihan sebagian warga.

Selasa (27/10/2026) pukul 10.00 WIB, di kawasan Kota Tua, Jakarta Barat, geliat mereka yang berwisata sudah terlihat. Sejumlah orang sibuk mengambil gambar dan video di depan bangunan-bangunan tua.

Meski tidak terlihat penuh dengan lautan manusia, beberapa sudut kawasan itu meriah dengan seragam warna-warni anak sekolah. Bersama mereka, ibu-bapak paruh baya hingga rombongan keluarga segala usia datang dengan harapan bisa mendapatkan secuil hiburan di Ibu Kota.

Salah satu pengunjung, Siti (64) warga Depok, Jawa Barat, datang bersama tiga teman sebayanya. Setelah turun melalui Stasiun Jakarta Kota, Jakarta Barat, mereka lantas mendatangi area ayunan, tepat di depan Museum Seni Rupa dan Keramik.

”Setelah dari Kota Tua, kami akan ke Pantai Aloha di Pantai Indah Kapuk 2,” katanya.

Siti mengatakan, perjalanan kali ini sudah direncanakan matang-matang. Tetap menyenangkan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Siti mengatakan, semua perjalanan sengaja dirancang menggunakan transportasi umum. Dari rumahnya di Depok, Jawa Barat, ia berangkat menggunakan LRT tujuan Stasiun Cikoko, Jakarta Selatan.

Dari Cikoko, ia beralih menggunakan KRL menuju Stasiun Jakarta Kota. Dalam satu kali perjalanan itu, biayanya Rp 13.500. ”Bawa uang Rp 100.000 sudah cukup, sisanya masih banyak,” ujarnya.

Selain menyiasati biaya perjalanan, Siti juga berhemat dengan membawa bekal makanan dan air minum sendiri. Bagi Siti, persiapan seperti ini penting agar tidak perlu mengeluarkan uang lebih banyak.

”Kita mah bekal nasi sama minum. Nanti kalau pengin paling cuma beli jajan ringan,” ujarnya. 

Sebagai ibu rumah tangga, Siti tetap memperhitungkan segala pengeluarannya. Namun, sebagai warga lansia, ia juga ingin tetap punya waktu bergaul bersama kawan-kawannya.

”Kita mah kalau pada bisa ya ayo aja, menikmati masa tua,” ujarnya.

Tidak hanya warga lansia, anak muda juga melakukan strategi serupa. Rabbani (23), warga Serang, Banten, misalnya, datang ke Kota Tua bersama tiga temannya menggunakan angkutan umum. Tiket kereta antarkota sudah dipesan sejak sepekan lalu.

Rabbani bercerita mulai pergi dari rumah sekitar pukul 06.00 WIB. Mereka menumpang KRL menuju Jakarta Kota. Rabbani mengatakan, perjalanan itu memerlukan waktu empat jam, tetapi hanya menghabiskan Rp 9.000 per orang untuk sekali perjalanan.

”Kita ngambil jadwal pagi supaya sampai sini masih siang, lumayan sambil ngukur jalan,” ujar saat ditemui tengah duduk melingkar menikmati bekal makan siang di belakang patung meriam persis di depan Gouverneur Kantoor.

Biaya itu, kata Rabbani, sesuai dengan uang yang ia siapkan, Rp 25.000. Demi menghemat bekal makan siang, ia dan kawan-kawannya sepakat membawa bekal makanan dari rumah.

”Enggak belanja, ini kita udah bawa bekal,” ujar mahasiswa itu.

Namun, in this economy, tidak hanya mahasiswa yang mesti berhemat. Hermansyah (40), warga Cikarang, Bekasi, Jabar, yang sudah bekerja sepakat wisata harus tetap dilakukan tetapi dengan biaya seminimal mungkin.

Pilihan itu terlihat saat dia bersama istri dan dua anaknya makan siang di salah satu sudut Kota Tua. Di bawah pohon rindah, mereka lesehan membuka dua nasi bungkus yang dibawa dari rumah. ”Enggak mesti mewah, kayak gini aja sudah cukup,” katanya.

Herman juga bercerita ongkos yang mesti ia habiskan dari Cikarang ke Kota Tua juga jauh dari mahal. Ia tidak sampai menghabiskan Rp 50.000 untuk membawa keluarganya menikmati Jakarta. ”Kalau liburan pakai motor ngabisin banyak bensin dan capek,” ujarnya.

Keliling Jakarta

Namun, bagi sebagian warga, healing tidak harus melulu mendatangi tempat tertentu. Gita (28), warga Kramat, Jakarta Pusat, misalnya, sudah cukup puas menikmati lanskap Kota Jakarta dari atas roda transportasi umum. Tidak ada tujuan pasti, ia suka-suka menentukan moda transportasi yang diinginkan.

Kegiatan itu, kata gita, biasa dilakukan saat ada waktu senggang, Senin-Jumat pukul 10.00-15.00. ”Aku biasanya naik pas lagi sepi. Biasanya naik Transjakarta dari Halte Juanda arah Lebak Bulus, nanti balik lagi ke Juanda,” katanya.

Dalam sekali jalan-jalan, Gita hanya mengeluarkan Rp 10.000-Rp 25.000. Dengan biaya tersebut, ia sudah cukup nyaman menikmati pemandangan Jakarta.

Hal serupa dilakukan Vera (32) asal Kalimantan Selatan saat sembilan hari berwisata di Jakarta. Ia bersama suami dan anaknya menjajaki berbagai moda transportasi selama di Jakarta, mulai dari Transjakarta, MRT, KRL, hingga LRT.

Vera bercerita, dirinya dan keluarga menggunakan moda transportasi tersebut sesuai kebutuhan. Untuk berkeliling ke tempat jauh seperti Bekasi dan Tangerang, ia menaiki KRL.

Sementara untuk jarak dekat rute Gelora Bung Karno menuju Sudirman dan Senayan, menggunakan MRT atau Transjakarta kerap menjadi pilihannya. Selama satu minggu di Jakarta, mereka hanya menghabiskan saldo e-money sebesar Rp 50.000.

”Ramah kantong banget. Kapan lagi keliling Jakarta cuma bayar sekitar Rp 3.000 dan dapat lihat citylight,” ujarnya.

Wisata irit biaya kini menjadi pilihan warga Ibu Kota. Otak dan hati nyaman, dompet pun tenang. Apakah Anda tertarik mencobanya?


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Link Live Streaming Hylo Open 2026: 4 Wakil Indonesia Berjuang Raih Tiket Semifinal
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
Catat Rekayasa Lalu Lintas di Jakarta 31 Oktober
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kesal Ditegur karena Ugal-ugalan, Pengendara Avanza Tusuk Pria di Surabaya
• 8 jam lalurctiplus.com
thumb
Patrick Stewart Pemeran Tokoh Ikonik Kapten Jean-Luc Picard di Star Trek Meninggal Dunia
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Kasus Film Pesta Babi, Polisi Jadwalkan Ulang Pemanggilan Dandhy Laksono 
• 22 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.