PT Global Digital Niaga Tbk atau Blibli (BELI) mencatatkan pendapatan neto sebesar Rp 22,23 triliun sepanjang Januari-September 2026. Angka tersebut tumbuh 46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 15,23 triliun.
Pendapatan tersebut merupakan pendapatan gabungan Blibli dan entitas anak usahanya, termasuk tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma, yang dilaporkan dalam laporan keuangan konsolidasian perusahaan.
Pertumbuhan pendapatan tersebut ditopang seluruh segmen usaha, terutama segmen institusi yang tumbuh 70 persen secara tahunan menjadi Rp 9,91 triliun. Sementara itu, total nilai pemrosesan transaksi atau Total Processing Value (TPV) konsolidasian naik 11 persen menjadi Rp 67,16 triliun.
CEO dan Co-Founder Blibli Kusumo Martanto mengatakan perusahaan tetap mencatatkan pertumbuhan sekaligus meningkatkan profitabilitas dan efisiensi operasional di tengah pola belanja konsumen yang selektif dan persaingan pasar yang ketat.
“Di tengah pola belanja konsumen yang selektif dan persaingan pasar yang ketat, kami terus mencatatkan pertumbuhan sekaligus meningkatkan profitabilitas dan efisiensi operasional,” ujar Kusumo dalam keterangan resmi, Sabtu (31/10).
Dari sisi profitabilitas, Blibli mencatatkan laba bruto sebesar Rp 3,46 triliun sepanjang sembilan bulan pertama 2026, tumbuh 29 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 2,67 triliun.
Sementara itu, rugi usaha perusahaan menyusut 53 persen menjadi Rp 783 miliar. EBITDA juga membaik 61 persen menjadi negatif Rp 566 miliar, dibandingkan negatif Rp 1,46 triliun pada periode Januari-September 2025.
Perbaikan tersebut terjadi seiring dengan pengendalian beban operasional. Blibli mencatatkan beban operasional sebesar Rp 4,30 triliun, turun 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CFO Blibli, Ronald Winardi, mengatakan kinerja keuangan tersebut mencerminkan perbaikan bauran pendapatan dan pengelolaan biaya yang lebih disiplin.
“Kinerja keuangan kami pada sembilan bulan pertama tahun 2026 mencerminkan manfaat dari perbaikan bauran pendapatan serta pengelolaan biaya yang disiplin,” tutur Ronald.
Dia menambahkan, peningkatan take rate dan perbaikan EBITDA menunjukkan kemajuan perusahaan dalam meningkatkan kualitas pertumbuhan dan efisiensi operasional.
“Peningkatan take rate menjadi 9,1 persen serta perbaikan kinerja EBITDA sebesar 160b ps semakin menunjukkan kemajuan dalam kualitas pertumbuhan dan efisiensi operasional,” ujarnya.
Blibli mencatatkan peningkatan take rate, yakni rasio pendapatan terhadap TPV, dari 8,4 persen pada Januari-September 2025 menjadi 9,1 persen pada periode yang sama tahun ini. Khusus kuartal III 2026, take rate Blibli mencapai 9,3 persen.
Dari sisi segmen usaha, selain institusi, pendapatan neto segmen toko fisik tumbuh 37 persen menjadi Rp 6,62 triliun. Segmen ritel pihak pertama (1P) meningkat 29 persen menjadi Rp 4,49 triliun, sedangkan segmen ritel pihak ketiga (3P) tumbuh 9 persen menjadi Rp 1,19 triliun.
Pertumbuhan segmen institusi didukung ekspansi regional pada kategori elektronik konsumen, khususnya smartphone, dan elektronik rumah tangga. Sepanjang periode tersebut, Blibli melayani sekitar 93.000 klien institusi. Belanja per klien institusi juga meningkat 63 persen secara tahunan menjadi Rp 145,1 juta.
Sementara itu, pertumbuhan segmen toko fisik didorong peningkatan volume penjualan smartphone, peluncuran produk baru, serta perluasan jaringan toko elektronik konsumen.
Hingga akhir September 2026, Blibli mengoperasikan 347 toko elektronik konsumen yang terdiri dari 160 toko merek tunggal dan 187 toko multi merek. Perusahaan juga mengoperasikan 24 toko elektronik rumah tangga dan satu toko fesyen dan olahraga, serta mengelola 60 gerai supermarket premium melalui Ranch Market.
Adapun jumlah pengguna aktif bertransaksi Blibli meningkat 10 persen menjadi 4,5 juta pengguna. Rata-rata nilai pesanan atau Average Order Value (AOV) tercatat sebesar Rp 1,94 juta.
Ronald mengatakan perseroan masih berfokus memperluas margin, meningkatkan leverage operasional, dan menjaga kedisiplinan alokasi modal untuk mempercepat langkah menuju profitabilitas.
“Kami tetap fokus pada upaya memperluas margin, meningkatkan leverage operasional, dan menjaga kedisiplinan dalam alokasi modal guna mempercepat langkah menuju profitabilitas, sekaligus membangun fondasi yang lebih kuat bagi pertumbuhan profitabilitas yang berkelanjutan serta nilai jangka panjang bagi pemegang saham,” ujarnya.





