Ni Luh Made Dwi Indriati Abadikan Perjalanan Sampan Bujana Sentra dalam Buku Badai dalam Tungku

herstory.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
HerStory, Jakarta —

Di tengah perubahan zaman dan derasnya pengaruh budaya asing, upaya menjaga seni dan tradisi Indonesia membutuhkan ruang serta komitmen yang berkelanjutan. Salah satu kisah tentang perjuangan tersebut hadir melalui Sampan Bujana Sentra (SBS), sebuah ruang yang memadukan seni pertunjukan dengan kuliner tradisional Nusantara.

Perjalanan SBS kini diabadikan oleh Ni Luh Made Dwi Indriati atau yang akrab disapa Wiwiek melalui buku terbarunya berjudul Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra.

Buku ini berangkat dari keinginan Wiwiek untuk mendokumentasikan salah satu karya terbaik almarhum Sampan Hismanto, pendiri Sampan Bujana Sentra. Lebih dari sekadar catatan perjalanan sebuah tempat, buku tersebut mengangkat kisah tentang mimpi, perjuangan, dan keteguhan dalam mempertahankan ruang yang mempertemukan seni pertunjukan dengan kekayaan kuliner tradisional Indonesia.

Dalam sinopsisnya, Sampan Bujana Sentra digambarkan sebagai oasis budaya di Jakarta. Pengunjung tidak hanya dapat menikmati masakan tradisional Nusantara, tetapi juga menyaksikan pertunjukan seni autentik. Kehangatan rempah-rempah Indonesia berpadu dengan tari daerah, alunan angklung, serta lagu-lagu daerah yang menghadirkan pengalaman budaya melalui cita rasa dan pertunjukan.

Namun, perjalanan SBS tidak hanya berkisah tentang pertunjukan dan pengalaman kuliner. Di balik keberadaannya, terdapat perjuangan untuk mempertahankan sebuah mimpi. Setelah sang pendiri berpulang, perjalanan tersebut diteruskan oleh para penerus yang berupaya menjaga semangat dan keberlangsungan SBS di tengah berbagai perubahan.

Berawal dari Kenangan, Wiwiek Dokumentasikan Perjalanan SBS

Gagasan menulis buku ini tumbuh dari pengalaman personal Wiwiek. Saat duduk di dalam ruangan Sampan Bujana Sentra dan memandang sekelilingnya, ia teringat pada berbagai kegiatan serta pengalaman yang pernah berlangsung di tempat tersebut.

Kenangan itu kemudian mendorongnya untuk mengabadikan cerita SBS dalam bentuk buku. Dengan begitu, perjalanan dan nilai-nilai yang melekat di dalamnya dapat dikenal oleh lebih banyak orang.

“Keinginan saya adalah mendokumentasikan secara khusus salah satu karya terbaik almarhum Bapak Sampan Hismanto, yaitu Sampan Bujana Sentra. Saya ingin bercerita melalui buku,” ungkap Wiwiek.

Buku ini juga menjadi bagian dari perjalanan Wiwiek di dunia literasi. Sebelumnya, ia telah menerbitkan novel Wirasa Ayuri serta buku Sampan Hismanto Sang Maestro Tari, Panggungnya Tak Pernah Habis.

Melalui karya terbarunya, Wiwiek kembali menggunakan tulisan sebagai medium untuk merekam pengalaman, menyampaikan cerita, sekaligus menjaga ingatan tentang sosok dan tempat yang memiliki arti penting.

Dalam Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra, perjalanan SBS menjadi bagian dari upaya memperkenalkan seni dan budaya Indonesia melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Mempertemukan Seni Pertunjukan dan Kuliner Nusantara

Sampan Bujana Sentra menghadirkan gagasan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui berbagai cara. Seni pertunjukan, musik tradisional, tari daerah, dan kuliner Nusantara menjadi elemen yang saling melengkapi dalam pengalaman pengunjung.

Melalui sinopsis buku, pembaca diajak menelusuri perjalanan SBS sebagai destinasi di Jakarta yang tidak hanya menawarkan sajian tradisional, tetapi juga pengalaman mengenal kekayaan budaya Indonesia. Di tempat ini, makanan menjadi bagian dari cerita, sementara pertunjukan seni menghadirkan kembali tradisi dalam ruang yang dapat dinikmati masyarakat.

Kisah SBS semakin bermakna ketika memasuki fase setelah kepergian sang pendiri. Mempertahankan keberlangsungan sebuah ruang budaya menjadi tantangan tersendiri bagi para penerusnya.

Di tengah berbagai perubahan dan dinamika, komitmen untuk melanjutkan perjalanan menjadi penghubung antara masa lalu dan masa depan SBS. Melalui buku ini, Wiwiek ingin merekam keteguhan tersebut agar kisahnya tidak hanya tersimpan dalam ingatan orang-orang yang pernah menyaksikannya secara langsung.

Pesan tentang Keberanian Memulai Sebuah Mimpi

Selain mendokumentasikan perjalanan SBS, Wiwiek juga ingin menyampaikan pesan tentang pentingnya keberanian untuk memulai sebuah mimpi.

“Menurut saya, setiap mimpi yang baik perlu dimulai dari satu langkah kecil. Kita tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk mulai melangkah. Yang terpenting adalah memiliki keberanian untuk memulai dan menjaga komitmen agar apa yang kita impikan bisa diwujudkan,” ungkap Wiwiek.

Baginya, sebuah gagasan tidak selalu harus diwujudkan melalui langkah besar. Keinginan sederhana, pengalaman yang membekas, dan keputusan untuk mulai mengerjakannya dapat menjadi awal dari sebuah karya yang bermakna.

Dalam proses menyelesaikan buku ini, Wiwiek juga menghadapi tantangan berupa kondisi dan situasi internal yang berubah dengan cepat. Dinamika tersebut menguji komitmennya untuk menuntaskan penulisan. Pengalaman itu sekaligus menjadi pengingat bahwa inspirasi perlu disertai konsistensi agar sebuah gagasan dapat diwujudkan.

Nilai tersebut sejalan dengan kisah yang diangkat dalam buku ini. Membangun sesuatu yang bermakna membutuhkan keberanian untuk memulai sekaligus keteguhan untuk terus melangkah ketika keadaan berubah.

Berharap Sampan Bujana Sentra Menjadi Destinasi Wisata Budaya

Melalui penerbitan buku ini, Wiwiek berharap semakin banyak masyarakat mengenal Sampan Bujana Sentra dan memahami pentingnya keberadaan ruang yang mendukung pelestarian seni serta budaya Indonesia.

“Harapan saya, buku ini dapat menarik minat banyak orang untuk membeli dan membacanya, serta mendapatkan manfaat dari cerita yang disampaikan. Saya juga berharap melalui buku ini, semakin banyak masyarakat yang mengenal Sampan Bujana Sentra,” ungkap Wiwiek.

Ia juga berharap SBS dapat berkembang sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman lebih dari sekadar kunjungan. Perpaduan seni pertunjukan dan kuliner tradisional diharapkan menjadi daya tarik bagi masyarakat maupun wisatawan yang ingin mengenal kekayaan budaya Nusantara.

“Saya ingin masyarakat mengetahui bahwa tempat seperti Sampan Bujana Sentra perlu ada untuk memperkenalkan dan melestarikan seni serta budaya Indonesia. Saya juga berharap SBS dapat dikenal sebagai destinasi wisata sekaligus tempat bagi para pelaku seni untuk berkarya dan membangun karier,” tambahnya.

Harapan tersebut menjadikan buku ini sebagai salah satu upaya memperluas jangkauan cerita SBS. Melalui dokumentasi tertulis, masyarakat dapat mengenal perjalanan tempat tersebut, nilai yang diperjuangkan, serta harapan agar ruang seni dan budaya tetap memiliki tempat di tengah kehidupan modern.

Buku Diluncurkan pada 28 November 2026

Buku Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra dijadwalkan meluncur pada 28 November 2026 di Galeri Seni Sampan Bujana Sentra, Jalan Cik Ditiro II No. 1, RT 1/RW 2, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350.

Pembaca yang ingin memiliki buku ini dapat melakukan pemesanan melalui WhatsApp di nomor 0818811037 atau mengirimkan pesan langsung (direct message) ke akun Instagram @wiwiekmade.

Melalui buku tersebut, Wiwiek berharap perjalanan Sampan Bujana Sentra dapat menjangkau lebih banyak pembaca sekaligus menghidupkan kembali perhatian terhadap pentingnya ruang bagi seni dan budaya Indonesia.

Pada akhirnya, Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra bukan hanya bercerita tentang sebuah tempat, melainkan juga tentang mimpi yang diperjuangkan, kenangan yang dijaga, dan semangat yang diteruskan. Sebuah kisah tentang pertemuan seni, kuliner, dan keteguhan manusia dalam menjaga warisan budaya agar tetap hidup bagi generasi berikutnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Antisipasi Banjir, DPRD Serang Harap Normalisasi Sungai Tonjong Dikebut
• 11 jam laludetik.com
thumb
Pemprov DKI Kaji Usulan 76 Taman di Jakarta Buka 24 Jam
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Gempa Megathrust Bangkitkan Tsunami 8 Meter, Sapu Pesisir Pangandaran
• 42 menit lalucnbcindonesia.com
thumb
Pahlawan Senyap di Balik Distribusi Energi Negeri
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Polisi soal Kelompok Penyerang Polres Merangin: SAD Tumenggung Jang
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.