Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan Jumat (30/10/2026), mencapai level tertinggi sejak akhir April 2026.
Lonjakan harga terjadi di tengah kekhawatiran eskalasi perang Iran setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS), terlebih setelah sebuah kapal tanker diserang di Selat Hormuz.
Kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember, yang berakhir pada Jumat kemarin, ditutup melonjak US$2,76 atau 2,4% ke US$117,64 per barel. Harga Brent sempat menyentuh US$118 per barel atau mendekati US$ 120.
Dalam sepekan, harga minyak brent naik 0,79%. Dengan demikian, harga minyak brent sudah menguat selama empat pekan beruntun.
Sementara itu, kontrak minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat US$2,12 atau 2,08% ke US$104,12 per barel.
Dalam sepekan harga minyak WTI naik 0,82% atau sudah naik selama empat pekan beruntun.
Sepanjang Oktober, harga Brent melesat 13,6%, sedangkan WTI menguat 15,2%.
Senior Vice President of Trading BOK Financial, Dennis Kissler, mengatakan perhatian pelaku pasar akan tetap tertuju pada arus pengiriman minyak dari Timur Tengah dan potensi eskalasi konflik oleh militer AS beserta sekutunya.
"Pelaku pasar akan terus mencermati arus pengiriman minyak dari Timur Tengah serta potensi eskalasi konflik oleh pasukan AS dan sekutunya," ujar Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial.
Kapal Tanker Diserang, Selat Hormuz Kembali MembaraKekhawatiran pasokan meningkat setelah sebuah kapal tanker di Selat Hormuz terkena perangkat peledak yang dipasang dari kapal kecil. Informasi tersebut disampaikan UKMTO, badan keamanan maritim Inggris, pada Jumat.
Hingga laporan tersebut dirilis, belum diketahui siapa yang bertanggung jawab atas serangan di jalur laut strategis yang menjadi pintu utama pengiriman minyak mentah dan bahan bakar dari kawasan Teluk.
Sumber maritim menyebut serangan tersebut merupakan insiden pertama yang diketahui berhasil menggunakan ranjau magnetik atau limpet mine di Selat Hormuz sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada Februari.
Bahan peledak jenis ini dipasang pada lambung kapal dari kapal kecil dan dapat mengancam keselamatan pelayaran serta kelancaran distribusi energi global.
Ketegangan regional juga meningkat setelah pemerintah AS memerintahkan pegawai pemerintah yang tidak bertugas darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi mulai 23 Oktober. Kedutaan Besar AS di Riyadh menyebut langkah tersebut diambil karena risiko keamanan, termasuk serangan Houthi terhadap bandara sipil dan infrastruktur penting lainnya.
Kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran pada Kamis mengklaim telah menyerang sejumlah lokasi di Arab Saudi, termasuk kilang minyak Ras Tanura, kilang Rabigh, serta fasilitas produksi Abqaiq milik perusahaan minyak negara Saudi Aramco.
Koalisi pimpinan Arab Saudi juga menyatakan telah mencegat rudal jelajah yang diluncurkan Houthi menuju wilayah barat kerajaan tersebut.
Di tengah meningkatnya risiko keamanan, upaya diplomatik untuk meredakan konflik masih berlangsung. Para mediator Qatar kembali ke Teheran pada Jumat sebagai bagian dari upaya terkoordinasi untuk mencapai kesepakatan antara AS dan Iran, menurut seorang pejabat yang mengetahui pembicaraan tersebut kepada Reuters.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan Wakil Presiden JD Vance telah menghubungi Iran untuk membantu pengiriman pasokan medis. Pernyataan itu muncul setelah laporan media AS menyebut Vance mengirim surat kepada pejabat keamanan tertinggi Iran untuk menghidupkan kembali pembicaraan damai.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan bahwa Teheran telah menerima surat tersebut, tetapi belum memberikan tanggapan. Iran disebut menginginkan AS memenuhi persyaratannya dan menolak posisi yang bertentangan dengan kerangka tuntutan tersebut.
Saxo Bank memperingatkan harga minyak berpotensi semakin volatil dalam beberapa pekan mendatang, seiring pemilu di Israel dan pemilu paruh waktu AS pada 3 November.
Bank asal Denmark tersebut memperkirakan harga minyak mentah akan bertahan pada rentang yang lebih tinggi, yakni US$70-US$90 per barel, bahkan setelah konflik berakhir. Sebelum perang, harga minyak diperkirakan bergerak di kisaran US$60-US$70 per barel.
Ekspor Minyak Arab Saudi Naik, Data Berbeda
Di tengah ancaman terhadap pasokan energi, ekspor minyak mentah Arab Saudi justru tercatat meningkat pada Oktober dibandingkan September, menurut dua dari tiga perusahaan pelacak kapal.
Sebagai catatan, minyak ekspor Saudi salah satu sumbernya adalah Saudi Aramco.
TankerTrackers.com mencatat ekspor minyak mentah Arab Saudi rata-rata mencapai sekitar 7,9 juta barel per hari (bph) selama 29 hari pertama Oktober, melonjak dari 5,8 juta bph pada September.
Data sementara tersebut mencakup ekspor sebesar 3,32 juta bph dari pesisir barat dan 4,55 juta bph dari wilayah timur Arab Saudi.
Perusahaan pelacak kapal lainnya, Petro-Logistics, juga mencatat peningkatan ekspor dari Pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah setelah mengalami penurunan pada September.
Virginie Bahnik dari Petro-Logistics mengatakan volume minyak yang melewati Selat Hormuz telah turun sekitar 2 juta hingga 3 juta bph dibandingkan puncak yang tercatat pada awal Oktober.
"Namun, secara keseluruhan, ekspor Arab Saudi masih kuat dan akan mengakhiri Oktober pada level lebih tinggi dibandingkan September," ujarnya.
Berbeda dengan kedua pelacak tersebut, Kpler mencatat total ekspor minyak mentah Arab Saudi baru mencapai 5,72 juta bph sepanjang Oktober, turun dari 6,70 juta bph pada September.
Perbedaan angka tersebut menunjukkan sulitnya memastikan volume ekspor sebenarnya. Data pelacakan kapal dapat berbeda dan berubah seiring masuknya informasi baru, terutama ketika aktivitas pelayaran semakin sulit dipantau.
Selat Hormuz Makin Sulit DipantauKetidakpastian meningkat karena banyak kapal tanker mematikan sinyal pelacakan di tengah memburuknya risiko keamanan di kawasan Teluk.
Akibatnya, analis tidak bisa hanya mengandalkan data pelacakan kapal. Mereka juga menggunakan citra satelit, pengamatan aktivitas pelabuhan, serta sumber data lainnya untuk memperkirakan arus pengiriman minyak.
Penurunan volume minyak yang melewati Selat Hormuz menjadi perhatian penting karena jalur tersebut merupakan salah satu titik strategis perdagangan energi dunia. Gangguan berkepanjangan berpotensi membatasi pengiriman minyak dan bahan bakar ke pasar global.
Di sisi lain, kenaikan ekspor Saudi belum tentu berarti pasokan global kembali aman. Perbedaan data pelacakan membuat pelaku pasar masih kesulitan memastikan berapa banyak minyak yang benar-benar berhasil dikirim.
Produksi AS Naik, Libya Hadapi GangguanDi luar Timur Tengah, data energi AS menunjukkan jumlah rig minyak bertambah dua unit, menjadi indikator potensi produksi pada masa mendatang.
Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan produksi minyak mentah AS meningkat pada Agustus. Namun, permintaan minyak mentah dan produk petroleum justru menurun.
Gangguan pasokan juga terjadi di Libya. Perusahaan minyak nasional Libya menyatakan sebuah kelompok bersenjata menutup katup pada jalur pipa utama minyak mentah Hamada pada Jumat. Pipa tersebut menghubungkan ladang minyak Hamada dengan kilang Zawiya.
Penutupan katup itu menghentikan aliran minyak sekitar 15.000 barel per hari.
Kombinasi serangan terhadap kapal tanker, ancaman terhadap fasilitas energi, gangguan infrastruktur, dan ketidakpastian diplomatik membuat pasar minyak kembali dibayangi risiko geopolitik.
(mae/mae)




