Proses pembuatan kain batik Gentongan dari masyarakat pesisir Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur tidak sekadar menggoreskan malam di atas selembar kain. Di balik setiap motif yang tercipta tersebut, terdapat sentuhan magis ketelitian, serta kreativitas yang menjadikan batik sebagai salah satu warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai estetika tinggi.
Muhtarib, salah satu pemilik usaha Batik Tanjungbumi mengungkapkan, dengan sentuhan magis tangan para perajin lokal, kain putih polos perlahan berubah menjadi karya seni yang sarat makna. Setiap goresan canting, perpaduan warna, hingga gentong yang terbuat tanah liat sebagai tempat rendaman kain batik di butuhkan tempat tersembunyiuntuk melindungi dari segala hiruk-pikuk dan riuh aktivitas masyarakat sehari-hari
“Demi menjaga kesakralan dan kekhusyukan ritual tersebut, keberadaan gentong-gentong perendam batik pun tidak boleh ditaruh sembarangan tempat. Ritual rumit dan penantian sampai 3-6 bulan di dalam kesunyian gentong itu kami tersimpan dan harus menjaga secara ketat. Hal ini, sebagai upaya untuk bisa menghasilkan sebuah karya berkualitas dan bernilai tinggi,” kata Muhtarib dengan logat bahasa Madura penuh kental ini.
Bahkan Muhtarib menyebutkan, bagi perajin khususnya kaum perempuan untuk membuatkan sebuah kain batik Gentogan dituntut harus berada kondisi jiwa bersih serta ketulusan hati.
“Bagi perajin kaum perempuan dalam kondisi datang bulan (haid ) serta tidak memiliki ketulusan hati dilarang mengerjakan. Masyarakat meyakini, jika lembaran kain itu disentuh tanpa ketulusan dan kesucian diri, pancaran warnanya tidak akan secerah yang diharapkan oleh kita,”ungkap pria ini.
Membuka Peluang Ekonomi Keluarga
Keberadaan kerajinan batik di pesisir Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur ini mempu meningkatkan perekonomian keluarga nelayan di pesisir laut
Perajin perempuan Suryaningsih misalkan, dirinya ikut membantu sang suami mencari penghasilan lewat lukisan pada selembar kain batik dengan upah Rp 25.000 per hari. Bagi Suryaningsih, penghasilan sebagai pelukis batik dapat membantu sang suami sebagai nelayan ditangah ke tidak pastian pendapatan hasil laut.
"Sejak anak-anak saya ajarkan membatik kini meraka bisa mendapatkan penghasilan sendiri. Kami ajarkan mereka membatik karena ini warisan kami turun temurun," sebut Suryaningsih
Sentuhan PHE WMO Lewat Pendampingan
Peluang pasar internasional perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas perajin lewat pendampingan terutama dalam menghadapi persaingan produk tekstil dan batik dari daerah diwilayah Tanjung Bumi
Sejak tahun 2004, PT Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) terus hadir mendampingi Kelompok UMKM Batik Tulis Tanjungbumi di Desa Macajah melalui pendekatan Konsep One Belt One Road (OBOR).
Menurut Senior Manager Relations Regional Indonesia Timur PHE, Sigit Dwi Aryono, bahwa pendampingan sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produk daerah tembus pasaran internasional. Hal ini sebagai wujud nyata komitmen PHE WMO dalam merajut keberlanjutan Environmental, Social & Governance (ESG) serta mendukung target SDGs Kesetaraan Gender dan Pertumbuhan Ekonomi
"Regional Indonesia Timur berkomitmen menjalankan program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan dalam kerangka Environmental, Social & Governance (ESG). Pengembangan Batik Tulis Tanjungbumi merupakan implementasi dari komitmen tersebut, khususnya pada aspek sosial melalui pemberdayaan perempuan, penguatan ekonomi lokal, dan pelestarian warisan budaya,” kata Sigit Dwi Aryono.
Baca Juga: INDUSTRYcoid Beri Penghargaan kepada 25 Perusahaan Industri Terbaik 2026
Baca Juga: Bukalapak Beri Modal dan Pendampingan bagi UMKM Lewat Program PUJAAN
Sigit Dwi Aryono berharap, lewat pendampingan tersebut mampu menciptakan ketidak tergantungan melainkan, mampu membangun kapasitas dan kemandirian bagi perajin batik Tanjung Bumi dapat terus berkembang, memiliki akses pasar yang semakin luas, serta memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat.
Dukungan PHE WMO merambah perluasan akses pasar melalui platform digital Bakaoo.id, media sosial, marketplace, hingga pameran berskala internasional seperti INACRAFT 2025. Hasil karya perajin Tanjung Bumi kini bahkan melintasi batas negara hingga ke Malaysia melalui jejaring masyarakat perantau.
“Regenerasi perajin diperlukan agar keterampilan membatik tetap terjaga dan tidak terputus oleh perubahan zaman. Dengan mempertahankan teknik tradisional sekaligus memperluas pemasaran, batik Tanjung Bumi berpotensi menjadi kekuatan ekonomi masyarakat,” pungkas Sigit Dwi Aryono.





