Kawasan Transmigrasi di Papua Barat Kembangkan Energi Surya dan Biogas

republika.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

 

JAKARTA – Pemanfaatan energi terbarukan mulai dikembangkan di kawasan transmigrasi Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, untuk meningkatkan akses listrik dan mengurangi ketergantungan terhadap energi konvensional. Panel surya dan pengolahan kotoran sapi menjadi biogas juga dipadukan dengan penguatan layanan kesehatan, ketahanan pangan, serta pengelolaan sumber daya alam.

Baca Juga
  • Pemerintah Alokasikan Rp3 Miliar Benahi Infrastruktur Kawasan Transmigrasi di Kolaka
  • Penundaan Wajib Halal dan Momentum Penguatan Pendampingan Halal di Kawasan Transmigrasi
  • Dulu Dibakar, Limbah Jagung di Kawasan Transmigrasi Selaparang Kini Jadi Penyubur Tanah

Program tersebut dikembangkan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Indonesia (UI) di kawasan Werianggi-Werabur, Kabupaten Teluk Wondama. Tim menerapkan pendekatan Planetary Health yang menghubungkan kesehatan masyarakat, kelestarian lingkungan, dan pembangunan ekonomi lokal.

Di Kampung Werianggi, pemasangan panel surya di balai kampung mulai membantu warga memperoleh pasokan listrik dengan durasi lebih panjang. Tim juga mengembangkan pemanfaatan limbah kotoran sapi sebagai sumber biogas untuk kebutuhan memasak.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Pembina TEP UI di Teluk Wondama, Trevino Aristarkus Pakasi, mengatakan pengembangan energi terbarukan menjadi fondasi untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Pendekatan tersebut disusun berdasarkan pengamatan lapangan yang dilakukan tim selama Agustus hingga November 2026. Menurut Trevino, kondisi hutan memiliki keterkaitan langsung dengan ketersediaan pangan, air bersih, dan kesehatan masyarakat.

“Hutan yang sehat akan mencegah bencana alam. Hutan yang sehat merupakan rumah bagi semua makhluk hidup dan menjadi sumber pangan serta menyediakan udara yang bersih, oksigen, dan air bersih,” tulis kata Trevino dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026).

Berdasarkan pengamatan tim, kawasan hutan di Teluk Wondama masih menghadapi tekanan akibat kebakaran dan aktivitas industri kayu. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kehidupan masyarakat yang menggantungkan kebutuhan pangan pada sumber daya hutan.

TEP UI kemudian mengembangkan empat pendekatan yang saling berkaitan. Selain penyediaan listrik melalui tenaga surya dan biogas, tim memperluas digitalisasi layanan kesehatan, mendukung pelestarian pangan lokal, serta mengembangkan pengolahan hasil bumi untuk meningkatkan nilai ekonomi.

Pengembangan energi surya dan biogas dipimpin Ardiyansyah bersama timnya. Program tersebut ditujukan untuk mendukung penyediaan listrik selama 24 jam, meskipun capaian pasokan listrik sepanjang hari belum dijelaskan secara terperinci.

Salah seorang warga penerima manfaat pelatihan biogas, Obeth O, mengatakan pengolahan limbah ternak memberikan pengetahuan baru bagi masyarakat mengenai sumber energi alternatif untuk memasak.

“Hadirnya pelatihan biogas dari limbah kotoran sapi berguna bagi masyarakat, pertama kali ada pelatihan ini, kotoran sapi bisa menghasilkan gas untuk masak,” ujar Obeth.

Di sektor kesehatan, TEP UI memberikan pelatihan digitalisasi kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Nikiwar dan Windesi. Penggunaan rekam medis elektronik diharapkan membantu pencatatan dan pengelolaan layanan kesehatan masyarakat.

Tenaga kesehatan Puskesmas Windesi, Siti Harlina, mengatakan pelatihan tersebut membantu tenaga kesehatan memahami penggunaan sistem digital dalam pekerjaan sehari-hari.

“Setelah mengikuti kegiatan pelatihan ini, saya merasa sangat terbantu. Pelatihannya jelas, mudah dipahami, dan sangat relevan dengan kegiatan di puskesmas,” ujarnya.

Selain penguatan layanan kesehatan, tim mendukung pelestarian sumber pangan lokal seperti sagu dan ubi-ubian. Pengembangan ekonomi juga dilakukan melalui pengolahan hasil bumi, termasuk pemanfaatan limbah industri pala agar memiliki nilai tambah.

Trevino menjelaskan, seluruh kegiatan tersebut dikembangkan sebagai pendekatan pembangunan yang menghubungkan kebutuhan energi, ekonomi masyarakat, dan keberlanjutan lingkungan.

“Planetary Health sebagai kerangka pembangunan ekonomi bukanlah sebuah program tambahan. Energi adalah fondasinya, sistem pangan dan ekonomi lokal adalah jalur intervensinya, sedangkan kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan menjadi dimensi hasil yang dinilai,” tulis Trevino.

Pengembangan energi terbarukan di kawasan transmigrasi tersebut sejalan dengan kebijakan pemerintah untuk memperluas pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) hingga ke wilayah perdesaan.

Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menyampaikan pentingnya pengembangan PLTS untuk memperkuat kemandirian energi nasional dalam penyampaian Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027 di Gedung DPR/MPR, Jumat (14/8/2026).

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menekankan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dalam pengembangan ekonomi kawasan transmigrasi.

“Pembangunan ekonomi tidak boleh dengan merusak lingkungan,” kata Agus dalam acara Sosialisasi Transmigrasi Patriot di Jakarta, Ahad (17/5/2026).

Menteri Transmigrasi M Iftitah Sulaiman Suryanagara juga menyatakan pemerintah berupaya mengubah pendekatan pembangunan kawasan transmigrasi agar lebih memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

“Jika dulu program transmigrasi selalu dipersepsikan tidak ramah lingkungan, maka hari ini kita telah melakukan sebuah transformasi transmigrasi menjadi program yang sangat ramah lingkungan,” ujar Iftitah saat meninjau kawasan konservasi Samboja Lestari, Jumat (12/6/2026).

.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;} @font-face { font-family: "LPMQ"; src: url("https://static.republika.co.id/files/alquran/LPMQ-IsepMisbah.ttf") format("truetype"); font-weight: normal; font-style: normal } .arabic-text { font-family: "LPMQ"; font-weight: normal !important; direction: rtl; text-align: right; font-size: 2.5em !important; line-height: 49px !important; }

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Bukan Emas, Ini Raja Tambang Dunia! Produksinya Tembus 2,6 Miliar Ton
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Memalukan! Persebaya Ditahan Tim Dasar Klasemen Persijap 1-1 di GBT
• 17 jam laluberitajatim.com
thumb
Menkes Klaim Kasus ISPA di 7 Provinsi Terdampak Karhutla Turun Jadi 1.500-2.000 per Hari Usai Hujan
• 19 jam laludisway.id
thumb
Pakai Pembalut Aja Kena Pajak, Pengamat Minta PPN 11 Persen Dihapus
• 21 jam laludisway.id
thumb
Diperiksa Propam Polri, AKBP Edy Herwiyanto Dicopot dari Kabag Wassidik PPA-PPO
• 21 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.