Perusahaan Ini Adopsi AI untuk Rekrutmen, Tapi Tolak Kontrol Penuh

medcom.id
59 menit lalu
Cover Berita
Jakarta: Proses rekrutmen kini mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), mulai dari menyaring CV hingga menilai keterampilan kandidat. Namun, perusahaan di Singapura belum sepenuhnya menyerahkan keputusan kepada teknologi.

Survei yang dilakukan Singapore National Employers Federation (SNEF) terhadap 1.000 perusahaan pada Juni-Juli 2026 mencatat hampir 3.000 penggunaan AI dalam fungsi SDM. Sebanyak 85 persen di antaranya masih membutuhkan konfirmasi manusia setelah AI memberikan rekomendasi.

Sementara itu, 15 persen penggunaan lainnya memungkinkan AI mengambil keputusan tanpa persetujuan manusia. Namun, 73 persen di antaranya hanya digunakan untuk pekerjaan administratif rutin, seperti penyaringan CV dan penilaian keterampilan. Perusahaan juga umumnya tetap menunjuk kepala HR atau manajer untuk mengoreksi keputusan AI jika diperlukan.

Presiden SNEF, Kuah Boon Wee, menegaskan bahwa pengawasan harus disesuaikan dengan dampak keputusan. Menurutnya, keputusan yang berpengaruh besar terhadap kehidupan karyawan membutuhkan pengawasan lebih ketat.

"Itulah yang seharusnya menjadi contoh penggunaan yang bertanggung jawab dalam praktiknya," katanya, dilansir dari Channel News Asia pada Sabtu, 31 Oktober 2026.

Penggunaan AI lebih banyak ditemukan di perusahaan besar, yaitu 81 persen perusahaan dengan lebih dari 200 karyawan, dibandingkan 65 persen usaha kecil dan menengah (UKM). Teknologi ini umumnya digunakan dalam perencanaan tenaga kerja, perekrutan, dan pengembangan keterampilan. Sementara pemanfaatannya lebih rendah dalam proses pemutusan hubungan kerja.
 

Baca Juga :

Peta Jalan AI Nasional Segera Disahkan, Pemerintah Siapkan Aturan Etika Kecerdasan Buatan
Ketergantungan pada AI Jadi Kekhawatiran Perusahaan
Meski membantu meningkatkan efisiensi, penggunaan AI juga memunculkan kekhawatiran. Sebanyak 39 persen perusahaan khawatir ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat melemahkan kemampuan tim HR. 

Selain itu, 36 persen masih ragu kapan harus mempercayai AI dibandingkan penilaian profesional, 35 persen mempertanyakan tanggung jawab ketika AI melakukan kesalahan, dan 31 persen membutuhkan pelatihan penggunaan teknologi.

Risiko bias dalam rekrutmen turut menjadi perhatian. SNEF mencatat 84 persen perusahaan telah memahami pedoman terkait praktik ketenagakerjaan yang adil dan tata kelola AI.

Chief Executive SNEF, Hao Shuo, mengatakan perusahaan perlu memastikan proses penyaringan CV menggunakan AI tidak mengandung bias.

“Ketika mereka menerapkan AI dalam keseluruhan proses penyaringan CV yang masuk, para pemberi kerja akan memastikan bahwa tidak ada bias dalam proses tersebut,” katanya.

Pemerintah Singapura juga berkomitmen memantau dampak teknologi terhadap pekerja dan dunia usaha.

Keberhasilan penggunaan AI tidak cukup diukur dari banyaknya perusahaan yang mengadopsi teknologi tersebut, tetapi juga dari kemampuannya membuka kesempatan baru bagi pekerja untuk berkembang dan berkontribusi. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
  • URL Berhasil di Salin Perusahaan Ini Adopsi AI untuk Rekrutmen, Tapi Tolak Kontrol Penuh Klik untuk baca: https://www.medcom.id/ekonomi/bisnis/nN9dW18K-perusahaan-ini-adopsi-ai-untuk-rekrutmen-tapi-tolak-kontrol-penuh

(ANN)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tolak Kasasi Kerry Riza, MA Ubah Besaran Uang Pengganti Kasus Pertamina
• 13 jam laluokezone.com
thumb
Prabowo Singgung Kelompok Tak Suka Pancasila: Ini Sumber Perpecahan
• 14 jam laludetik.com
thumb
APBN Harus Tetap Fleksibel di Tengah Ketidakpastian, Begini Strategi Pemerintah
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Golkar Sebut Polemik Ijazah Gibran Hampir Final Usai Putusan MA: Ini Urusan Politik Negara
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
BPGMN Kembangkan SAGARA, Sistem Terintegrasi untuk Pantau Gambut dan Mangrove
• 17 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.