Surabaya (beritajatim.com) – Gedung lama Departemen Ortopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair)–RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang telah menjadi saksi perjalanan pendidikan dokter spesialis selama lebih dari tiga dekade akan segera dibongkar. Pembongkaran tersebut dilakukan seiring pengembangan fasilitas baru untuk menunjang pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan ilmu kedokteran.
Di balik rencana pembongkaran itu, tersimpan sejarah panjang perjuangan para dokter senior dalam membangun pendidikan ortopedi di Surabaya. Berawal dari fasilitas sederhana berupa satu ruangan dengan dua meja pada 1983, Departemen Ortopedi dan Traumatologi kini berkembang dengan puluhan staf pengajar serta berbagai kegiatan pendidikan dan pelayanan kesehatan.
Prof. Dr. dr. Bambang Prijambodo, Sp.B., Sp.OT., Subsp.OTB(K), mengenang masa-masa awal perkembangan bagian ortopedi yang masih dihadapkan pada keterbatasan sarana dan prasarana.
Saat itu, sejumlah dokter senior merintis pengembangan pendidikan dan pelayanan ortopedi dengan fasilitas seadanya. Mereka di antaranya dr. Soekarna, dr. Ikhwan Rajamin, dr. Djoko Rosadi, dr. Sarwani, dr. Satrio dan dr. Bambang.
Perjuangan membangun departemen tersebut tidak lepas dari inisiatif para staf pengajar. Keterbatasan anggaran membuat mereka harus mencari sumber pendanaan secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pendidikan.
Bahkan, sejumlah dokter senior rela menyisihkan sebagian penghasilan pribadi, baik dari praktik di luar rumah sakit, honor mengajar, maupun kegiatan akademik.
“Semua itu dulu murni dari keringat para staf sendiri. Tidak ada sokongan dana dari rumah sakit maupun fakultas. Para senior rela menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kemajuan pendidikan ortopedi,” kenang Prof. Bambang.
Menurutnya, perkembangan pendidikan ortopedi tidak hanya ditopang fasilitas dan kebijakan institusi, tetapi juga pengorbanan, kebersamaan, serta komitmen para pendahulu dalam membangun pendidikan kedokteran.
Perjalanan Keilmuan Ortopedi Terus Berkembang
Seiring berjalannya waktu, bidang ortopedi mengalami perkembangan, baik dari sisi keilmuan, pendidikan, maupun pelayanan kesehatan.
Dr. Satrio, salah satu dokter senior yang menyaksikan perjalanan tersebut, menjelaskan bahwa ortopedi pada awalnya merupakan bagian dari ilmu bedah. Perubahan struktur organisasi dan penamaan menjadi Ortopedi dan Traumatologi mencerminkan semakin luasnya cakupan keilmuan yang dikembangkan.
Pada periode 1998–2002, ketika turut membantu pimpinan fakultas sebagai Pembantu Dekan I, dr. Satrio juga menyaksikan perkembangan identitas keilmuan ortopedi di lingkungan institusi.
Perkembangan tersebut menegaskan bahwa ortopedi tidak hanya berfokus pada tindakan pembedahan, tetapi juga mencakup diagnosis, pencegahan, rehabilitasi, hingga penanganan berbagai kelainan sistem muskuloskeletal.
Prof. Bambang mencontohkan, penanganan ortopedi juga meliputi kelainan bentuk atau deformitas seperti skoliosis yang tidak seluruhnya harus ditangani melalui tindakan operasi.
Sejalan dengan perkembangan tersebut, jumlah tenaga pengajar dan peserta didik terus bertambah. Kebutuhan terhadap fasilitas pendidikan dan pelayanan kesehatan pun semakin kompleks.
Gedung Lama Menyimpan Kenangan Puluhan Tahun
Bagi orang-orang yang telah lama menjadi bagian dari Departemen Ortopedi dan Traumatologi, gedung lama bukan sekadar bangunan tempat bekerja. Tempat tersebut menyimpan kenangan dan menjadi saksi berbagai perjalanan akademik maupun pengabdian selama puluhan tahun.
Dra. Suparti, Sekretaris Departemen Ortopedi dan Traumatologi, menjadi salah satu orang yang memiliki ikatan emosional dengan bangunan tersebut. Ia telah menjabat sebagai sekretaris sejak gedung lama dibangun dan menyaksikan langsung berbagai aktivitas departemen dari masa ke masa.
Menurut Suparti, sejarah perkembangan ortopedi di lingkungan tersebut tidak dapat dilepaskan dari perjuangan enam dokter yang menjadi perintis awal. “Benar, sejarah ortopedi dimulai dari enam dokter. Saya sekretaris sejak gedung ini dibangun. Gedung ini tidak akan saya lupakan,” ungkapnya.
Selama lebih dari tiga dekade, gedung tersebut menjadi tempat berlangsungnya berbagai kegiatan akademik, diskusi ilmiah, pembimbingan, hingga interaksi antara staf pengajar dan peserta didik.
Dari bangunan itu pula lahir banyak dokter spesialis dan subspesialis ortopedi yang kemudian berkontribusi dalam pelayanan kesehatan serta pendidikan kedokteran di berbagai daerah di Indonesia.
Nilai historis gedung tersebut tidak hanya terletak pada usia bangunannya, tetapi juga pada tradisi akademik, pengalaman, dan hubungan antargenerasi yang terbentuk selama perjalanan departemen.
Fasilitas Baru untuk Menjawab Kebutuhan Pendidikan
Kepala Departemen Ortopedi dan Traumatologi, dr. Primadenny Ariesa Airlangga, M.Si., Sp.OT., Subsp.OTB(K), menjelaskan bahwa perpindahan ke fasilitas baru merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas sarana pendidikan dan aktivitas akademik.
Saat ini, Departemen Ortopedi dan Traumatologi memiliki sekitar 20 staf pengajar, belum termasuk tenaga kependidikan dan sekretariat. Bertambahnya aktivitas pendidikan membuat gedung lama dinilai tidak lagi memadai untuk menampung seluruh kebutuhan tersebut.
“Di gedung baru nanti, setiap staf pengajar maupun sekretaris akan memiliki meja masing-masing. Fasilitas untuk peserta didik juga akan lebih terakomodasi, termasuk ruang workshop dan tempat bekerja bersama,” jelasnya.
Gedung BPLK yang sedang dikembangkan direncanakan dapat menunjang kebutuhan perkantoran, pendidikan, serta fasilitas pelayanan kesehatan.
Meski demikian, pendidikan klinis dokter spesialis tetap berlangsung melalui pelayanan langsung kepada pasien, baik di poliklinik, ruang rawat inap, maupun kamar operasi.
Menurut dr. Primadenny, pendidikan dokter spesialis ortopedi tidak hanya dilakukan melalui pembelajaran teori. Peserta didik juga harus memperoleh pengalaman klinis, mengasah keterampilan operasi, dan terlibat langsung dalam penanganan pasien.
Pengembangan fasilitas baru tersebut diharapkan mampu menunjang proses pendidikan yang lebih berkualitas sekaligus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.
Kepala Departemen Ortopedi dan Traumatologi, dr. Primadenny Ariesa Airlangga, M.Si., Sp.OT., Subsp.OTB(K), Prof. Dr. dr. Bambang Prijambodo, Sp.B., Sp.OT., Subsp.OTB(K) dan Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Ortopedi dan Traumatologi, dr. Tri Wahyu Martanto, Sp.OT., Subsp.A(K)Warisan Para Pendahulu Harus Tetap Dijaga
Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Ortopedi dan Traumatologi, dr. Tri Wahyu Martanto, Sp.OT., Subsp.A(K), menilai perpindahan gedung sebagai langkah penting dalam pengembangan fasilitas pendidikan dan pelayanan kesehatan.
“Perpindahan ini merupakan langkah penting untuk melengkapi fasilitas dan sarana prasarana pendidikan dokter spesialis ortopedi agar sesuai dengan standar yang ditetapkan kolegium,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan agar modernisasi fasilitas tidak menghilangkan sejarah dan semangat perjuangan yang telah diwariskan para pendahulu.
“Walaupun gedung lama nantinya dirobohkan, sejarah dan nilai-nilai pendidikan yang diwariskan para pendahulu harus tetap dipertahankan. Jangan sampai perpindahan gedung membuat semangat itu ikut hilang,” tegasnya.
Pembongkaran gedung lama menjadi momentum bagi Departemen Ortopedi dan Traumatologi FK Unair–RSUD Dr. Soetomo untuk melangkah menuju fasilitas yang lebih modern. Namun, perjalanan panjang dan kontribusi para perintis tetap menjadi bagian penting dari sejarah institusi.
Dokumentasi sejarah, arsip, memorabilia, serta kisah perjuangan para pendiri menjadi warisan yang perlu dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya.
Dari sebuah ruangan sederhana dengan dua meja, pendidikan ortopedi tumbuh melalui dedikasi dan pengorbanan para pendahulu hingga berkembang seperti sekarang.
Gedung boleh berganti, tetapi sejarah, pengabdian, dan nilai perjuangan yang telah dibangun selama puluhan tahun diharapkan tetap hidup dalam setiap generasi yang melanjutkan pendidikan Ortopedi dan Traumatologi. [kun]




