jpnn.com - PALEMBANG - PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju atau Kilang Plaju di Sumatera Selatan berperan menjalankan implementasi Program Mandatory Biodiesel B50 yang resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto 9 Juli 2029 (berlaku sejak 1 Juli 2026). Program ini meningkatkan porsi bahan bakar nabati berbasis minyak sawit menjadi 50 persen dalam campuran Solar.
Hingga September 2026, penyaluran B50 mencapai 249.796 kiloliter yang diperuntukkan bagi pemenuhan kebutuhan sektor transportasi, industri, serta konsumen kategori public service obligation (PSO) maupun non-PSO. Capaian ini menjadi gambaran kontribusi operasional Kilang Plaju dalam mendukung implementasi kebijakan energi nasional.
BACA JUGA: 2.500 Pekerja Terlibat Pit Stop Kilang Plaju, 65 Persen Diisi Tenaga Lokal Sumsel
Namun, banyak tantangan di balik penyaluran ratusan ribu kiloliter Biodiesel, mulai kesiapan infrastruktur, kualitas bahan bakar, kesinambungan pasokan bahan baku, hingga keandalan distribusi kepada konsumen.
“Evaluasi implementasi B50 sejak 1 Juli hingga September 2026 menunjukkan performa operasional yang secara umum berjalan aman, stabil, dan lancar (smooth transition)," kata Area Manager Communication, Relationship & CSR RU Plaju Siti Fauzia, Sabtu (31/10).
BACA JUGA: B50, E5, dan E10: Jalan Baru Kedaulatan Energi dan Kewirausahaan Hijau
Menurut dia, keberhasilan program B50 tidak hanya ditentukan ketersediaan bahan bakar, tetapi kesiapan seluruh mata rantai distribusi. Oleh karena itu, Pertamina terus memperkuat koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), BPH Migas, serta pemangku kepentingan lainnya.
Koordinasi mencakup penerimaan bahan baku biodiesel berupa fatty acid methyl ester (FAME), proses pencampuran atau blending, hingga penyaluran kepada konsumen. Salah satu aspek penting yang dijaga ialah ketepatan waktu pasokan FAME dari badan usaha bahan bakar nabati ke terminal-terminal Pertamina, agar proses pencampuran dan distribusi tidak terganggu.
BACA JUGA: PSR Jadi Kunci PalmCo Memperkuat Pasokan CPO untuk Dukung Program B50
Kualitas bahan bakar pun menjadi perhatian. Peningkatan kandungan Biodesel menuntut sistem penyimpanan dan distribusi yang mampu mempertahankan mutu produk. “Edukasi kepada konsumen mengenai pemeriksaan filter serta perawatan sistem bahan bakar kendaraan juga penting agar penggunaan B50 berjalan optimal," jelas Siti.
Kilang Plaju dalam Transformasi Energi
Kilang Plaju berperan strategis sebagai ekosistem penyediaan energi nasional. Kontribusi kilang tidak hanya dilihat dari volume penyaluran, tetapi keandalan operasi, efisiensi energi, kualitas produk, serta kemampuan menjaga kesinambungan pasokan.
Dalam sistem implementasi B50, ketersediaan komponen Solar fosil dan kesiapan fasilitas pencampuran di terminal menjadi bagian yang saling berkaitan.
Pertamina menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat implementasi B50, antara lain, mendorong digitalisasi dan otomatisasi sistem pencampuran FAME di terminal BBM, memperluas edukasi publik dan pendampingan teknis bersama pemangku kepentingan otomotif, serta memperkuat fasilitas penyimpanan guna menjaga kualitas bahan bakar.
Bagi Kilang Plaju, capaian penyaluran 249.796 kiloliter hingga September 2026 menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung kebijakan energi nasional. Namun, perjalanan B50 masih membutuhkan konsistensi pasokan, inovasi teknologi, pengawas mutu, serta pengukuran manfaat ekonomi dan lingkungan secara transparan.
Tantangan Teknologi dan Kualitas Bahan Bakar
Implementasi B50 menjadi bagian perkembangan teknologi energi yang membutuhkan pengujian dan evaluasi berkelanjutan. Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Inovasi, Hilirisasi, Kerja Sama, Internasionalisasi, dan Alumni Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Dr. Ir. David Bahrin menjelaskan peningkatan dari B40 menjadi B50 membawa perubahan mendasar pada karakteristik bahan bakar.
B40 mengandung 40 persen FAME dan 60 persen Solar fosil. B50 memiliki komposisi 50 persen FAME dan 50 persen Solar fosil berdasarkan volume. Peningkatan kandungan FAME membuat B50 memiliki kandungan oksigen lebih tinggi yang berpotensi membantu proses pembakaran dan mengurangi pembentukan jelaga.
Namun, peningkatan kandungan Biodesel juga menghadirkan konsekuensi teknis. B50 cenderung memiliki viskositas dan densitas lebih tinggi serta nilai kalori lebih rendah dibandingkan B40. Kondisi tersebut memengaruhi proses penyemprotan dan karakteristik pembakaran bahan bakar, hingga konsumsi energi mesin.
David menilai tantangan utama penggunaan B50 terletak pada kestabilan kualitas bahan bakar dan kompatibilitas dengan berbagai jenis mesin diesel. Beberapa aspek yang perlu diperhatikan meliputi stabilitas oksidasi, penyerapan air, pembentukan endapan, serta potensi penyumbatan filter dan gangguan injektor.
Penggunaan B50 pada kendaraan modern maupun mesin diesel yang telah beroperasi selama bertahun-tahun juga membutuhkan perhatian berbeda. Pada mesin lama, misalnya, perlu dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi seal, selang bahan bakar, tangki, filter, dan komponen sistem injeksi.
Hasil pengujian awal pada mesin diesel modern, termasuk sistem common-rail, menunjukkan B50 memiliki potensi untuk digunakan apabila memenuhi spesifikasi teknis. Namun, hasil pengujian itu belum dapat menjadi jaminan seluruh jenis mesin aman menggunakan B50 dalam jangka panjang.
“Pengujian ketahanan komponen, pemantauan pelumas, serta rekomendasi perawatan dari produsen kendaraan tetap menjadi faktor penting," kata David.
Ketahanan Energi dan Tantangan Lingkungan
Di balik tantangan teknis, peningkatan penggunaan Biodiesel menyimpan peluang besar bagi ketahanan energi Indonesia. Dengan komposisi 50 persen FAME, B50 menggantikan porsi Solar fosil yang lebih besar dibandingkan B40. Kondisi ini membuka peluang mengurangi kebutuhan Solar berbasis fosil sekaligus memperkuat pemanfaatan bahan baku energi domestik.
Kementerian ESDM pada 2026 memproyeksikan implementasi B50 dapat membantu menghilangkan kebutuhan impor produk Solar yang sebelumnya berkisar 3-4 juta kiloliter per tahun. Program tersebut juga diproyeksikan menghasilkan penghematan devisa hingga Rp157,28 triliun berdasarkan perhitungan Juni 2026.
Meski demikian, David mengingatkan manfaat ekonomi B50 harus dihitung secara menyeluruh. Penghematan devisa dari penurunan impor perlu dibandingkan dengan biaya produksi Biodiesel, kebutuhan insentif, serta potensi perubahan alokasi minyak sawit untuk kebutuhan pangan dan industri lainnya. “Peningkatan kebutuhan FAME juga berpotensi meningkatkan persaingan penggunaan CPO (crude palm oil) yang dibutuhkan industri energi, pangan, kosmetik, dan oleokimia," ujar David.
Dari aspek lingkungan, B50 memiliki potensi mengurangi emisi gas rumah kaca dan partikulat tertentu. Namun, manfaat tersebut tidak bisa hanya dihitung berdasarkan persentase campuran Biodiesel. Seluruh proses harus diperhitungkan, mulai dari perkebunan sawit, pengolahan CPO menjadi FAME, penggunaan energi dan transportasi, hingga pembakaran bahan bakar di mesin.
David menekankan pengukuran manfaat lingkungan perlu menggunakan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA) atau analisis daur hidup. Metode ini menghitung keseluruhan emisi gas rumah kaca dalam satu siklus produksi dan penggunaan bahan bakar, sehingga perbandingan dengan Solar fosil dapat dilakukan secara lebih objektif.
“Pengembangan B50 juga harus diikuti peningkatan produktivitas perkebunan yang sudah ada, pengolaan limbah sawit, serta sistem ketertelusuran bahan bakar agar tidak mendorong pembukaan hutan, pengeringan lahan gambut, maupun kerusakan ekosistem," kata David. (mcr35/jpnn)
Redaktur : M. Kusdharmadi
Reporter : Cuci Hati




