Freeport Habiskan US$934 Juta untuk Pemulihan Tambang Grasberg

wartaekonomi.co.id
3 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat biaya fasilitas menganggur, pemulihan langsung, dan restorasi terkait insiden tambang Grasberg mencapai US$934 juta atau sekitar Rp16,94 triliun selama Januari–September 2026. Biaya tersebut mencerminkan besarnya beban yang masih harus ditanggung perusahaan selama proses pemulihan tambang bawah tanah Grasberg Block Cave pascainsiden external mud rush pada September 2025.

Berdasarkan laporan kinerja kuartal III 2026 yang dirilis induk usahanya, Freeport-McMoRan (FCX), pada 27 Oktober 2026, biaya tersebut mencakup fasilitas menganggur (idle facility), pemulihan langsung (direct recovery), dan restorasi (restoration).

Manajemen menjelaskan, selama proses peningkatan kapasitas tambang hingga kembali beroperasi normal, sebagian biaya produksi dan pengiriman PTFI dikategorikan sebagai biaya fasilitas menganggur.

"Selama periode peningkatan kapasitas tambang bawah tanah Grasberg Block Cave dan hingga operasional PTFI kembali ke kapasitas normal, sebagian biaya produksi dan pengiriman PTFI akan diakui sebagai biaya fasilitas menganggur yang tidak dapat dimasukkan ke dalam persediaan," tulis manajemen dalam laporan tersebut.

Secara terperinci, biaya fasilitas menganggur, pemulihan langsung, dan restorasi tersebut mencapai US$244 juta atau sekitar Rp4,42 triliun pada kuartal III 2026. Nilai tersebut setara US$1,59 per pon tembaga. Sementara itu, secara akumulatif selama sembilan bulan pertama 2026, biayanya mencapai US$2,40 per pon tembaga.

Biaya tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan unit net cash credits PTFI. Dengan demikian, indikator biaya tunai bersih perusahaan tidak mencakup seluruh biaya pemulihan yang timbul akibat insiden tersebut.

Dari sisi operasional, PTFI masih mengejar pemulihan kapasitas tambang Grasberg Block Cave. Pada kuartal III 2026, rata-rata pengolahan bijih mencapai 141.000 ton per hari atau sekitar 67% dari kapasitas normal. Dari jumlah tersebut, sekitar 70.000 ton bijih per hari berasal dari Grasberg Block Cave.

"PTFI terus memperkirakan dapat mencapai 80% kapasitas pada pertengahan 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir 2027," tulis manajemen.

Perusahaan juga telah menyelesaikan kegiatan remediasi dan restorasi yang diperlukan untuk mengoperasikan kembali Production Block 2 dan 3. Kegiatan peningkatan produksi awal pada kedua blok tersebut dimulai pada akhir Maret 2026.

Selain itu, peningkatan sistem penanganan material (material handling system) di tingkat pengangkutan Grasberg Block Cave masih berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan selesai pada awal 2027. PTFI juga menyiapkan pengoperasian kembali Production Block 1S pada pertengahan 2027.

Proses pemulihan tersebut turut memengaruhi produksi dan penjualan mineral PTFI. Selama sembilan bulan pertama 2026, produksi tembaga tercatat sebanyak 549 juta pon, turun 43,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 966 juta pon.

Penjualan tembaga bahkan turun lebih dalam, yakni 64,5%, dari 1,093 miliar pon menjadi 388 juta pon. Sementara itu, produksi emas turun 42,4% dari 876.000 ons menjadi 505.000 ons. Penjualan emas juga merosot 66% dari 975.000 ons menjadi 332.000 ons.

Manajemen menyebutkan bahwa penurunan penjualan pada kuartal III 2026 terutama disebabkan tingkat operasi PTFI yang masih rendah selama peningkatan kapasitas tambang bawah tanah Grasberg Block Cave.

"Volume penjualan konsolidasi PTFI pada kuartal III 2026 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, terutama mencerminkan tingkat operasi PTFI yang lebih rendah selama proses peningkatan kapasitas tambang bawah tanah Grasberg Block Cave," tulis manajemen.

Di sisi lain, pemulihan operasional juga berdampak pada fasilitas pengolahan hilir. Keterbatasan pasokan konsentrat tembaga setelah insiden September 2025 menyebabkan kegiatan peleburan di smelter PTFI dan PT Smelting mengalami penyesuaian.

Baca Juga: Freeport Persoalkan Bea Keluar Emas 10%, Singgung Ketentuan IUPK

Baca Juga: Smelter Freeport Resmi Beroperasi Kembali, Apa Dampaknya Bagi Hilirisasi?

PT Smelting kembali beroperasi pada akhir 2025, sedangkan smelter PTFI di Manyar kembali beroperasi pada akhir Agustus 2026. FCX menyebut proses peningkatan kapasitas kedua fasilitas tersebut berjalan sesuai ekspektasi.

Perusahaan memperkirakan perbedaan antara volume produksi dan penjualan PTFI masih akan terjadi hingga fasilitas pengolahan hilir mencapai tingkat operasi normal. Untuk sepanjang 2026, penjualan tembaga PTFI diproyeksikan sekitar 700 juta pon dan emas sekitar 632.000 ons.

Dengan demikian, pemulihan Grasberg tidak hanya berkaitan dengan pengembalian kapasitas produksi tambang, tetapi juga normalisasi fasilitas pengolahan dan penjualan mineral. Selama proses tersebut berlangsung, PTFI masih harus menanggung biaya fasilitas menganggur, pemulihan langsung, dan restorasi.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Temuan Terbaru Kasus Dwi Bagus Mutilasi Istri Siri di Madiun
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Hasil Babak Pertama Dewa United Vs Persija Jakarta: Rayhan Hannan Buka Gol, Denilson Samakan Kedudukan
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Untuk Pertama Kalinya, Keluarga di China Tanggung Lebih Banyak Lansia daripada Anak
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
MA Batalkan Keabsahan Suket Ijazah SMA Gibran, PSI Singgung Kepastian Hukum
• 1 jam lalujpnn.com
thumb
Natalius Pigai Tanggapi Sinis Konten Guntur Romli yang Dukung Salib Merah di Demo Bundaran HI
• 11 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.