Makassar (ANTARA) - Yayasan Baitul Maal (YBM) PT PLN (Persero) menghadirkan Program Bidan Cahaya untuk mendukung tenaga kesehatan yang mengabdi di wilayah terpencil, termasuk membantu mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di pelosok Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Bidan Husniati yang melayani masyarakat di sejumlah dusun di Majene, termasuk Dusun Coci yang sulit dijangkau.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) Didik Wicaksono melalui keterangannya di Makassar, Sabtu mengatakan dukungan kepada bidan yang bertugas di wilayah terpencil merupakan bagian dari kepedulian PLN terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama dalam mengakses pelayanan kesehatan.
"Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat," ujarnya.
Husniati telah menjalani profesi sebagai bidan selama sekitar enam tahun dengan memilih mengabdi di tanah kelahirannya.
Ia melayani warga di Dusun Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci, termasuk memberikan pemeriksaan kesehatan serta edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak, kebersihan diri, dan lingkungan.
Untuk mencapai wilayah tersebut, ia harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan sepeda motor, menyeberangi sungai, kemudian berjalan kaki selama kurang lebih satu jam.
Tantangan geografis menjadi bagian dari kesehariannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sebelum bergabung dengan Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela pasien untuk menunjang pelayanannya. Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala yang dihadapinya dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Baca juga: PLN: Program bidan cahaya dukung perbaikan gizi bayi di tanah Papua
Baca juga: Bidan penerabas sungai itu dinobatkan jadi tenaga kesehatan teladan
Di tengah pengabdiannya, Husniati juga menjalankan tanggung jawab keluarga. Berasal dari keluarga sederhana di Banua Adolang, ia merupakan satu-satunya dari tujuh bersaudara yang memilih profesi sebagai bidan.
Ia turut berupaya membantu pendidikan dua adiknya, selain menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak.
Husniati berharap dukungan melalui Program Bidan Cahaya dapat membantu keberlanjutan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.
"Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi," ujarnya.
Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, PLN UID Sulselrabar berupaya mendukung para bidan yang mengabdikan diri di wilayah dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan agar masyarakat di pelosok memiliki kesempatan lebih baik untuk memperoleh layanan kesehatan.
Baca juga: Tiga bidan di pelosok menangkan Srikandi Award
Baca juga: Bidan desa terpencil di Tabalong dapat kendaraan operasional
Baca juga: BKKBN Malut siapkan bidan pelayanan KB di pulau terpencil
Salah satu penerima manfaat program tersebut adalah Bidan Husniati yang melayani masyarakat di sejumlah dusun di Majene, termasuk Dusun Coci yang sulit dijangkau.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (UID Sulselrabar) Didik Wicaksono melalui keterangannya di Makassar, Sabtu mengatakan dukungan kepada bidan yang bertugas di wilayah terpencil merupakan bagian dari kepedulian PLN terhadap kesejahteraan masyarakat, terutama dalam mengakses pelayanan kesehatan.
"Dedikasi para bidan yang tetap hadir di tengah keterbatasan menjadi pengingat bahwa kepedulian harus menjangkau semua lapisan masyarakat," ujarnya.
Husniati telah menjalani profesi sebagai bidan selama sekitar enam tahun dengan memilih mengabdi di tanah kelahirannya.
Ia melayani warga di Dusun Belalang, Belia, Ratte, Adolang, dan Coci, termasuk memberikan pemeriksaan kesehatan serta edukasi mengenai kesehatan ibu dan anak, kebersihan diri, dan lingkungan.
Untuk mencapai wilayah tersebut, ia harus menempuh perjalanan sekitar dua jam menggunakan sepeda motor, menyeberangi sungai, kemudian berjalan kaki selama kurang lebih satu jam.
Tantangan geografis menjadi bagian dari kesehariannya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Sebelum bergabung dengan Program Bidan Cahaya pada Februari 2024, Husniati mengandalkan kontribusi sukarela pasien untuk menunjang pelayanannya. Keterbatasan peralatan menjadi salah satu kendala yang dihadapinya dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat.
Baca juga: PLN: Program bidan cahaya dukung perbaikan gizi bayi di tanah Papua
Baca juga: Bidan penerabas sungai itu dinobatkan jadi tenaga kesehatan teladan
Di tengah pengabdiannya, Husniati juga menjalankan tanggung jawab keluarga. Berasal dari keluarga sederhana di Banua Adolang, ia merupakan satu-satunya dari tujuh bersaudara yang memilih profesi sebagai bidan.
Ia turut berupaya membantu pendidikan dua adiknya, selain menjalankan perannya sebagai istri dan ibu dari dua anak.
Husniati berharap dukungan melalui Program Bidan Cahaya dapat membantu keberlanjutan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, khususnya ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak di wilayah yang memiliki keterbatasan akses.
"Saya berharap masyarakat semakin mudah mendapatkan pelayanan kesehatan, terutama ibu hamil, ibu setelah melahirkan, bayi, dan anak-anak. Semoga saya bisa terus mendampingi warga dan memberikan pelayanan terbaik, meskipun banyak keterbatasan yang harus dihadapi," ujarnya.
Melalui Program Bidan Cahaya yang diinisiasi YBM PLN, PLN UID Sulselrabar berupaya mendukung para bidan yang mengabdikan diri di wilayah dengan keterbatasan akses pelayanan kesehatan agar masyarakat di pelosok memiliki kesempatan lebih baik untuk memperoleh layanan kesehatan.
Baca juga: Tiga bidan di pelosok menangkan Srikandi Award
Baca juga: Bidan desa terpencil di Tabalong dapat kendaraan operasional
Baca juga: BKKBN Malut siapkan bidan pelayanan KB di pulau terpencil





