Jakarta: Kedutaan Besar Australia dan RMIT Southeast Asia Hub menggelar diskusi fesyen berkelanjutan. Diskusi bertema “Designers Talk: Fesyen Berkelanjutan bersama Desainer Australia Shiva Yousefpour” digelar di World Trade Centre 2, Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Acara tersebut menghadirkan, desainer Australia sekaligus pendiri merek SHIYO, Shiva Yousefpour, desainer dan pendidik fesyen sekaligus salah satu pendiri Pageant, Kate Reynolds, serta Associate Dean Design dari RMIT University, Dr. Tassia Johannides.
Diskusi ini membahas teknik fesyen sustainability mulai dari zero-waste, penggunaan kembali material tekstil, serta penerapan sistem produksi sirkular untuk mengurangi limbah industri fesyen.
Pakaian Bekas untuk Desain Zero-Waste Acara tersebut menghadirkan, desainer Australia sekaligus pendiri merek SHIYO, Shiva Yousefpour, desainer dan pendidik fesyen sekaligus salah satu pendiri Pageant, Kate Reynolds, serta Associate Dean Design dari RMIT University, Dr. Tassia Johannides.
Diskusi ini membahas teknik fesyen sustainability mulai dari zero-waste, penggunaan kembali material tekstil, serta penerapan sistem produksi sirkular untuk mengurangi limbah industri fesyen.
Shiva Yousefpour menerapkan teknik zero-waste dengan menggunakan pakaian bekas dan material yang sudah tersedia sebagai bahan utama desainnya. Dalam proyek kelulusannya di FDS School, Sydney, ia mengolah kemeja formal pria bekas tanpa memotong bagian kain.
Teknik yang digunakan meliputi lipatan, smocking, jahitan tangan, dan sashiko dari Jepang. Proses pembuatan satu desain membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
Karya tersebut mengantarkannya meraih Sustainable Fashion Prize dalam kompetisi mahasiswa internasional dari 17 negara. Karyanya kini masuk dalam koleksi National Wool Museum di Melbourne.
Untuk koleksi berikutnya, Shiva menggunakan pakaian bekas dari toko barang bekas. Ia juga memanfaatkan kain sisa produksi desainer lain atau deadstock, sarung bantal, tirai, penutup, hingga jaring pelindung jendela.
Ia menilai, desainer tidak harus selalu menggunakan bahan baru untuk menghasilkan produk fesyen. Material yang sudah tersedia dapat diolah kembali menjadi pakaian dengan nilai desain dan kualitas tinggi.
"Untuk menciptakan sesuatu yang baru, kita bisa memberikan kesempatan kedua kepada barang yang sudah ada dan bahkan menjadikannya sesuatu yang mewah,” ujarnya.
Selain mengikuti diskusi tersebut, Shiva Yousefpour juga dijadwalkan menampilkan karya eksklusif di Jakarta Fashion Week 2027. Dalam penampilan tersebut, ia akan berkolaborasi dengan dua mahasiswa program honours RMIT dan sejumlah kolaborator lainnya.
Designers Talk: Fesyen Berkelanjutan bersama Desainer Australia Shiva Yousefpour di World Trade Centre 2, Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026. Foto: Siti Nahdia Usman
Pembelajaran Material Sustainability di RMIT Teknik yang digunakan meliputi lipatan, smocking, jahitan tangan, dan sashiko dari Jepang. Proses pembuatan satu desain membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
Karya tersebut mengantarkannya meraih Sustainable Fashion Prize dalam kompetisi mahasiswa internasional dari 17 negara. Karyanya kini masuk dalam koleksi National Wool Museum di Melbourne.
Untuk koleksi berikutnya, Shiva menggunakan pakaian bekas dari toko barang bekas. Ia juga memanfaatkan kain sisa produksi desainer lain atau deadstock, sarung bantal, tirai, penutup, hingga jaring pelindung jendela.
Ia menilai, desainer tidak harus selalu menggunakan bahan baru untuk menghasilkan produk fesyen. Material yang sudah tersedia dapat diolah kembali menjadi pakaian dengan nilai desain dan kualitas tinggi.
"Untuk menciptakan sesuatu yang baru, kita bisa memberikan kesempatan kedua kepada barang yang sudah ada dan bahkan menjadikannya sesuatu yang mewah,” ujarnya.
Selain mengikuti diskusi tersebut, Shiva Yousefpour juga dijadwalkan menampilkan karya eksklusif di Jakarta Fashion Week 2027. Dalam penampilan tersebut, ia akan berkolaborasi dengan dua mahasiswa program honours RMIT dan sejumlah kolaborator lainnya.
Designers Talk: Fesyen Berkelanjutan bersama Desainer Australia Shiva Yousefpour di World Trade Centre 2, Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026. Foto: Siti Nahdia Usman
Selain melalui praktik desain, fesyen berkelanjutan juga dapat diterapkan melalui pendidikan. Dalam diskusi tersebut, Tassia Johannides mengangkat pendekatan pembelajaran fesyen berkelanjutan di RMIT School of Fashion and Textiles.
Tassia menjelaskan bahwa RMIT School of Fashion and Textiles memiliki tiga program, yakni Fashion Design, Fashion Enterprise, dan Fashion Sustainability. Program fashion sustainability berfokus pada pemahaman tekstil, inovasi material, biomaterial, dan fesyen digital.
Mahasiswa dapat mempelajari perbedaan serat alami dan sintetis, karakteristik bahan, daya tahan saat dikenakan, serta cara pencucian dan perawatannya.
“Salah satunya adalah mempelajari tekstil. Bagaimana saya mengidentifikasi suatu material? Apakah material tersebut alami atau sintetis? Kita juga mempelajari karakteristiknya,” jelas Tassia.
Mahasiswa juga akan belajar tentang ethical sourcing atau pengadaan material secara etis, seperti cara mempertimbangkan asal bahan baku, penggunaan serat alami, metode memperoleh material, serta dampak pengiriman terhadap lingkungan.
“Kemudian, proyek berikutnya adalah mencari material dan memikirkan seperti apa pengadaan material yang etis,” katanya.
Fesyen Sirkular Tassia menjelaskan bahwa RMIT School of Fashion and Textiles memiliki tiga program, yakni Fashion Design, Fashion Enterprise, dan Fashion Sustainability. Program fashion sustainability berfokus pada pemahaman tekstil, inovasi material, biomaterial, dan fesyen digital.
Mahasiswa dapat mempelajari perbedaan serat alami dan sintetis, karakteristik bahan, daya tahan saat dikenakan, serta cara pencucian dan perawatannya.
“Salah satunya adalah mempelajari tekstil. Bagaimana saya mengidentifikasi suatu material? Apakah material tersebut alami atau sintetis? Kita juga mempelajari karakteristiknya,” jelas Tassia.
Mahasiswa juga akan belajar tentang ethical sourcing atau pengadaan material secara etis, seperti cara mempertimbangkan asal bahan baku, penggunaan serat alami, metode memperoleh material, serta dampak pengiriman terhadap lingkungan.
“Kemudian, proyek berikutnya adalah mencari material dan memikirkan seperti apa pengadaan material yang etis,” katanya.
Kate Reynolds mengembangkan praktik produksi sirkular melalui Pageant, merek yang didirikannya bersama Amanda Penning pada 2010. Pendekatan tersebut dilakukan dengan menggunakan kembali material yang tersedia dan mengurangi kebutuhan produksi bahan baru. Salah satu penerapannya terlihat dalam kolaborasi Pageant dengan Hyatt Centric. Tim desainernya menggunakan desain lama, sampel pakaian, kain, dan aksesori dari arsip untuk menghasilkan produk dengan penyesuaian warna sesuai kebutuhan proyek.
“Kami menggunakan semua yang ada di arsip. Kami menggunakan sampel kain dan kain yang sudah tersedia, serta aksesori yang juga sudah ada di dalam arsip,” ucapnya.
Menurut Kate, penggunaan kembali material yang sudah ada dapat mengurangi kebutuhan membuat pola dan bahan baru. Ia juga mendorong perubahan model produksi Pageant dari sistem linear menuju sistem sirkular.
Perawatan Pakaian Baca Juga :
RiaMiranda Archive Sale 2026 Digelar, Pengunjung Bisa Nikmati Promo Spesial BRI
“Kami menggunakan semua yang ada di arsip. Kami menggunakan sampel kain dan kain yang sudah tersedia, serta aksesori yang juga sudah ada di dalam arsip,” ucapnya.
Menurut Kate, penggunaan kembali material yang sudah ada dapat mengurangi kebutuhan membuat pola dan bahan baru. Ia juga mendorong perubahan model produksi Pageant dari sistem linear menuju sistem sirkular.
Pengurangan limbah fesyen juga membutuhkan perubahan kebiasaan konsumen. Kate menyarankan masyarakat untuk membeli pakaian sesuai kebutuhan, memilih produk berkualitas, dan merawatnya agar dapat digunakan lebih lama.
Perawatan tersebut meliputi pencucian sesuai karakteristik bahan dan perbaikan pakaian yang rusak, seperti mengganti kancing.
Sementara itu, Shiva mengingatkan konsumen agar tidak langsung membuang pakaian fast fashion setelah beberapa kali pemakaian.
(Siti Nahdia Usman)
Perawatan tersebut meliputi pencucian sesuai karakteristik bahan dan perbaikan pakaian yang rusak, seperti mengganti kancing.
Sementara itu, Shiva mengingatkan konsumen agar tidak langsung membuang pakaian fast fashion setelah beberapa kali pemakaian.
(Siti Nahdia Usman)




