Sebanyak 200 santri dari 22 pesantren di Solo Raya diajari membuat konten video dan berjualan di marketplace. Pelatihan ini bagian dari program Santri Matic (Santri Melek Teknologi) yang diluncurkan di Pondok Pesantren Al Muayyad, Solo,.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengatakan santri harus ikut memanfaatkan perkembangan teknologi, mulai dari kecerdasan buatan, e-commerce, sampai media sosial. Nasaruddin tidak ingin santri hanya menjadi pengguna.
"Kita tidak boleh membiarkan santri hanya menjadi penonton atau sekadar konsumen dari perkembangan teknologi," kata Nasaruddin, Sabtu (31/10/2026).
Baca juga: Santri Menguatkan Negeri: Menjaga Tradisi Kitab Kuning di Tengah Arus Digitalisasi
Baca Juga:Profil Mayjen TNI Putra Widiastawa, Lulusan Akmil 1995 Kini Jabat Inspektur KopassusSantri Matic digelar Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Kemenekraf/Bekraf) bersama Kementerian Agama dan Masyarakat Ekonomi Syariah wilayah Surakarta. Untuk angkatan pertama ini, penyelenggara bekerja sama dengan Shopee Indonesia.Materinya cukup praktis. Santri belajar membuka dan mengelola toko di Shopee, membuat promosi, mengenal ShopeeFood untuk usaha kuliner pesantren, ikut program Shopee Affiliate, dan membuat video untuk memasarkan produk. Dengan bekal itu, santri bisa mendapat penghasilan sebagai kreator konten, penjual online, atau afiliator. Produk yang dipasarkan bisa berasal dari pesantren sendiri, seperti busana muslim, kerajinan, dan makanan halal.
Lihat video: Momentum Hari Santri Nasional, Pemerintah Dorong Penguatan SDM SantriNasaruddin mengakui pesantren punya banyak usaha, tetapi belum maksimal di dunia digital. Nasaruddin menyebut beberapa kendala, seperti kemampuan teknologi yang belum merata, pemasaran yang lemah, dan kemasan produk yang kurang menarik.
Karena itu, Nasaruddin berharap santri tidak berhenti pada kemampuan berjualan online. Santri diharapkan bisa membangun usaha sendiri dan membuka lapangan kerja. "Kita ingin santri tidak hanya pandai membaca kitab, tetapi juga mampu membaca perkembangan zaman," ujarnya.
Baca Juga:Istri Sewa Pembunuh Rp85 Juta untuk Habisi Suami, Jasad Korban Dikubur di KebunNasaruddin juga mengingatkan santri agar tidak asal mengejar viral. Media sosial, kata dia, jangan dipakai untuk menyebar hoaks dan fitnah. Jualan online pun harus jujur. "Jangan sampai kita mampu menghasilkan konten yang viral, tetapi tidak memberikan manfaat," katanya.
Nasaruddin meminta semua mitra tidak berhenti di pelatihan sehari. Nasaruddin berharap ada pendampingan lanjutan, misalnya membantu pesantren membuka toko online dan mempromosikan produknya.Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan pelatihan ini tidak hanya soal membuka pasar. Menurut dia, santri juga perlu dibekali keterampilan dan rasa percaya diri agar bisa bersaing.
“Al Muayyad sudah pernah bersentuhan dengan program teknologi. Pada Januari 2026, Kemenag menyebut pesantren ini meraih penghargaan Best School angkatan pertama dalam pelatihan AI Teaching Power,” ujarnya.
Riefky menambahkan, para peserta akan didorong membentuk Komunitas Alumni Santri Matic Solo Raya. Lewat komunitas ini, santri dari berbagai pesantren bisa saling berbagi ilmu, membuat konten, dan memasarkan produk bersama.
Acara ini juga dihadiri Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said, Wali Kota Solo Respati Achmad Ardianto, perwakilan Shopee Indonesia Balques Manisang, serta para kiai dan pengasuh pesantren se-Solo Raya.




