Ikut-ikutan Emas, Harga Perak Terjun Bebas ke Level Terendah Setahun

cnbcindonesia.com
59 menit lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia anjlok ke level terendah dalam setahun terakhir pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (30/10/2026), mengikuti pergerakan harga emas karena lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang tak kunjung mereda.

Merujuk Refinitiv, harga perak ditutup di posisi US$49,10 per troy ons pada perdagangan Jumat kemarin. Harganya ambruk 6,27%. Dalam sepekan terakhir, perak ambruk 8,89% secara point-to-point.

Baca: Harga Emas Jatuh 3,6% ke US$ 3800, Terburuk Setahun! Bisa ke US$3.600?

Pergerakan harga perak sejalan dengan emas, karena keduanya merupakan logam mulai yang dipengaruhi oleh faktor makroekonomi global yang serupa, seperti tingkat inflasi, suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), fluktuasi nilai tukar dolar AS, serta ketegangan geopolitik.

Tekanan terhadap logam mulia datang dari lonjakan harga energi dan kekhawatiran inflasi yang tak kunjung mereda. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga Amerika Serikat (AS) akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kekhawatiran inflasi membuat sejumlah bank sentral tetap mengambil sikap hawkish atau cenderung ketat dalam kebijakan moneter.

"Kekhawatiran yang terus berlanjut terhadap inflasi membuat sejumlah bank sentral cenderung mengambil sikap lebih hawkish atau mengetatkan kebijakan moneter," ujar Peter Grant, Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist di Zaner Metals, dikutip dari Refinitiv.

Sejumlah bank sentral utama memang menahan kenaikan suku bunga pada pekan ini. Namun, mereka menegaskan bahwa perjuangan melawan inflasi belum berakhir.

Bank Sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) dan Bank Sentral Eropa (Europe Central Bank/ECB) sama-sama menyoroti risiko inflasi akibat lonjakan biaya energi.

Data yang dirilis Kamis juga menunjukkan inflasi AS meningkat pada September karena konsumen harus membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lainnya.

Kondisi ini memperkuat perkiraan ekonom bahwa The Fed berpotensi kembali menaikkan suku bunga pada Desember.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/luc)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polda Metro Jaya Ringkus 20 Tersangka Curanmor di Jabodetabek
• 10 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Bareskrim Bongkar Kasus Impor Ilegal, Sita Ribuan Bal Pakaian Bekas Senilai Rp15 Miliar
• 8 jam laluokezone.com
thumb
Kota Ini Terancam Tumbang Gara-Gara Ulah Presiden, Warga Teriak
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Menteri LH Minta Auditor Lingkungan Diperbanyak, Dorong Audit Berkala Korporasi dan Industri
• 17 jam lalurepublika.co.id
thumb
Tes Kepribadian: Burung Gagak atau Sarung Tangan yang Pertama Dilihat Ungkap Kekuatan Tersembunyi
• 9 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.