Pariwisata Tetap Menggeliat, Kok Bisa?

kompas.id
9 jam lalu
Cover Berita

Apa yang Anda pelajari dari artikel berikut?

  1. Bagaimana tren industri wisata nasional 2025-2026?
  2. Bagaimana dengan daya beli masyarakat?
  3. Apa yang dilakukan masyarakat?
  4. Bagaimana respons pelaku usaha pariwisata?
Bagaimana tren industri wisata nasional 2025-2026?

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, ketegangan geopolitik, hingga perubahan perilaku wisatawan, sektor pariwisata Indonesia masih menunjukkan geliat positif dan mampu mempertahankan pertumbuhannya. Sejumlah parameter meningkat, seperti kunjungan wisatawan, investasi, devisa, serapan tenaga kerja, hingga capaian prestasi di tingkat internasional.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari laporan Kementerian Pariwisata, sepanjang 2025 Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Angka ini meningkat 10,8 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan telah melampaui target sebesar 14 juta-15 juta kunjungan.

Sementara itu, angka perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan, tercatat sebagai capaian tertinggi sepanjang sejarah pencatatan sektor pariwisata.

Momentum pertumbuhan tersebut berlanjut hingga 2026. Meski sempat menurun akibat terkendala perang AS-Iran di Timur Tengah pada Februari-April, tren kunjungan wisman meningkat kembali setelahnya.

Pada Agustus saja, kunjungan mencapai 1,6 juta, meningkat 6,27 persen secara tahunan. Sepanjang Januari-Agustus 2026, kunjungan wisman telah mencapai 10,58 juta atau tumbuh 5,38 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Dari pasar domestik, pergerakan wisnus tetap menjadi penopang utama. Sepanjang Januari-Agustus 2026, perjalanan wisnus tercatat sudah mencapai 842,15 juta atau tumbuh 4,29 persen. Bahkan, untuk bulan Agustus saja, kendati menurun dibanding Juli, perjalanan wisnus tercatat sudah meningkat 11,47 persen dibandingkan Agustus 2025.

Baca JugaMenjaga Pertumbuhan Pariwisata
Bagaimana dengan daya beli masyarakat?

Dalam Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) 2026 oleh Populix, skornya melemah di seluruh area, yakni 48,73, turun 6,17 poin dibandingkan 2025. Dibandingkan dengan tahun lalu, masyarakat lebih waswas akan kondisi keuangan dan perekonomian saat ini.

Laporan berjudul ”Consumer Confidence Index 2026” menunjukkan kekhawatiran terbesar datang dari kondisi perekonomian Indonesia. Sementara itu, masyarakat masih merasa relatif lebih yakin untuk mengelola keuangannya sendiri.

”Meski begitu, penyusutan ekonomi secara pribadi dan kontrol finansial menunjukkan bahwa kewaspadaan ini bisa memengaruhi pengeluaran, tabungan, dan keputusan-keputusan belanja besar dalam beberapa bulan mendatang,” demikian tertulis dalam laporan tersebut.

Tekanan ekonomi telah memengaruhi keputusan harian rumah tangga karena konsumen cenderung menyesuaikan pengeluaran, baik kebutuhan primer maupun nonprimer. Mereka tidak sungguh-sungguh menstop semua pengeluaran, tetapi lebih selektif dan memprioritaskan apa yang benar-benar penting.

Dari sederet pengeluaran tersier, melakukan perjalanan atau traveling masuk dalam daftar ongkos yang paling banyak dipotong. Dalam enam bulan terakhir, 35 persen responden memotong bujet ini, tepat di bawah makan di luar (42 persen) serta hiburan luar ruang (menonton film, konser, dan sebagainya).

Populix menyurvei 1.000 responden pada 10-15 Juli 2026 yang berusia 17-45 tahun. Mayoritas berasal dari Jawa (82 persen) disusul Sumatera (10 persen), serta pulau lainnya (9 persen).

Walau masuk kategori leisure atau tersier, masyarakat tetap menyempatkan diri untuk berwisata. Namun, memang ada pola yang berubah sehingga pelaku usaha pun dituntut beradaptasi.

Baca JugaDaya Beli Masih Rendah, Pariwisata Susah Pulih
Apa yang dilakukan masyarakat?

Temuan Survei Consumer Confidence Index 2026 oleh Populix merekam kecenderungan tersebut. Sebanyak 35 persen responden memilih memangkas anggaran berwisata di tengah situasi ekonomi saat ini.

Segmen rekreasi ini berada di urutan ketiga belanja nonpokok yang dipangkas masyarakat, mengikuti kebiasaan makan di luar atau pesan antar (food delivery) sebesar 42 persen. Sementara hiburan luar rumah sebesar 40 persen.

Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Pariwisata Indonesia Azril Azhari berpendapat, fenomena ini didefinisikan sebagai pergeseran perilaku pengunjung (visitor behavior) ketimbang perilaku wisatawan (tourist behavior).

Dalam wawasan pariwisata, pengunjung terbagi menjadi dua kategori, yaitu turis yang menginap di destinasi wisata dan ekskursionis atau pelancong yang hanya melakukan perjalanan satu hari tanpa menginap.

”Yang tadinya turis berubah jadi ekskursionis. Perubahan ini terjadi bukan karena pola perjalanannya yang bergeser begitu saja, melainkan perilaku pengunjungnya yang sudah berubah. Mereka sebenarnya tetap ingin berekreasi, tetapi menyesuaikan keadaan,” jelas Azril kala dihubungi, Kamis (29/10/2026).

Menurut Azril, tekanan ekonomi yang terjadi saat ini memaksa masyarakat untuk memodifikasi cara mereka berwisata demi tetap memenuhi kebutuhan rekreasi. Perubahan perilaku ini tidak hanya berdampak ke durasi, tetapi juga menggeser pemilihan destinasi wisata ke tempat yang lebih dekat dan murah.

Baca JugaEkonomi Boleh Berat, Liburan Tetap Berangkat
Bagaimana respons pelaku usaha pariwisata?

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran, Kamis (29/10/2026), menyatakan, pelaku usaha semakin sulit menemukan musim puncak (high season).

Lebih kurag dalam setahun terakhir, okupansi terlihat tumbuh. Namun, pemasukan menurun. Artinya, harga yang berlaku jauh dari harga yang seharusnya pada musim puncak. ”Prinsipnya saat ini bagaimana bisa menutup biaya operasional dulu,” katanya.

Pelaku usaha sudah mulai beradaptasi sejak triwulan II-2026. Penurunan mulai terjadi setelah masa libur sekolah, Agustus-September 2026. Penyusutan berlanjut pada Oktober sekaligus menjadi penyusutan terdalam.

”Jadi, kami mulai beradaptasi untuk menjual lebih banyak kamar guna mengejar okupansi. Sebab, selama ini pendapatan terbanyak disumbang bidang makanan dan minuman melalui aktivitas di ballroom,” ujar Maulana.

Baca Juga”Budget” Pelancong Ketat, Pebisnis Harus Cermat


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pemkab Sumba Timur Siapkan 75 Ton Benih Padi Bersertifikat untuk Petani
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dokter: Minum air es tak langsung sebabkan batuk dan flu
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Sedekah Barang Bekas Berkualitas Bantu Danai Program Sosial Duafa
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Benny Harman Demokrat: Sejak Putusan MA, Kedudukan Gibran sebagai Wapres Tidak Sah, Batal Demi Hukum
• 10 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
5 Kalimat yang Diucapkan Orang dengan Integritas Rendah di Pergaulan
• 19 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.