Sumba Timur: Pemerintah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyiapkan 75 ton benih padi bersertifikat untuk membantu petani meningkatkan produktivitas pertanian. Bantuan tersebut diprioritaskan bagi petani yang masuk kategori desil 1–2.
Bupati Sumba Timur Lili Pekuwali mengatakan penyediaan benih padi bersertifikat menjadi salah satu upaya pemerintah daerah dalam mendorong penggunaan benih berkualitas di kalangan petani.
Benih padi tersebut berasal dari para penangkar yang ada di wilayah Sumba Timur. Pemerintah daerah memprioritaskan petani dengan kemampuan permodalan terbatas agar mereka tetap memiliki akses terhadap benih padi yang baik.
"Untuk mendukung petani yang ingin mendapatkan benih bersertifikat, terutama yang kemampuan permodalannya kurang, kami di pemerintah daerah menyediakan 75 ton benih bersertifikat hasil dari para penangkar di daerah kami," kata Lili saat berbincang dengan Metrotvnews.com, Kamis, 29 Oktober 2026.
Ia menjelaskan bantuan tersebut diprioritaskan bagi petani yang masuk kategori desil 1–2. Dengan akses terhadap benih padi berkualitas, pemerintah berharap hasil produksi pertanian mereka dapat meningkat.
Baca Juga :
Petani di Sumba Barat Beralih ke Benih Sridewi, Hasil Panen Melonjak DrastisMenurutnya, proses pembelajaran tersebut berlangsung secara bertahap, baik melalui pengalaman petani maupun pendampingan penyuluh pertanian.
"Dalam perjalanan, ada proses pembelajaran secara alami di tingkat masyarakat. Mereka sudah bisa membandingkan ketika menanam jenis padi yang berkualitas dengan hasil yang diperoleh. Itu cukup berdampak bagi petani," ujarnya.
Ia menyebut permintaan terhadap benih padi bersertifikat juga semakin meningkat. Informasi mengenai benih berkualitas yang semakin mudah diperoleh, termasuk melalui media sosial, turut membantu meningkatkan pemahaman masyarakat.
"Sekarang dengan informasi yang begitu masif, masyarakat bisa melihat melalui media sosial. Pemahaman mengenai pemanfaatan bibit yang baik juga semakin meningkat, tidak seperti dulu," tuturnya.
Ilustrasi persawahan di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Foto: Metrotvnews.com/Zein Zahiratul Akses Pupuk dan Sarana Produksi Selain menyediakan benih, pemerintah daerah berupaya memperbaiki akses petani terhadap pupuk. Salah satu langkah yang dilakukan adalah menambah titik pengecer pupuk agar masyarakat tidak perlu menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan kebutuhan pertanian.
Lili mencontohkan, petani di salah satu wilayah sebelumnya harus menempuh perjalanan sekitar 70–80 kilometer menuju kota untuk mengambil pupuk.
“Tahun ini kami sudah menambah satu titik lagi di wilayah Pongolodu, yang merupakan daerah irigasi. Selama ini petani harus menempuh perjalanan hampir 70–80 kilometer ke kota untuk mengambil pupuk. Dengan adanya titik tersebut, mereka tidak perlu lagi ke sini,” jelasnya.
Pemerintah daerah juga menyalurkan bantuan alat pengolahan lahan kepada kelompok tani serta menyediakan mesin panen untuk membantu mengurangi biaya tenaga kerja.
Menurut Lili, penyediaan benih berkualitas, pupuk, alat pertanian, dan pendampingan menjadi bagian dari upaya meningkatkan produktivitas sekaligus mendorong petani kembali mengusahakan lahan mereka.
“Kalau hasilnya tidak baik, keinginan mereka untuk mengusahakan lagi lahannya pada periode tanam berikutnya bisa berkurang. Salah satu penyebab lahan menjadi tidur adalah hasil produksi yang tidak maksimal, antara lain karena benih kurang baik atau pupuk tidak tersedia dan tidak tepat waktu,” pungkasnya.




