jpnn.com - JOMBANG - Ketua Yayasan Gerak Pengabdian Santri Indonesia sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar Jombang KH Abdussalam Shohib a.k.a Gus Salam angkat bicara soal tindakan kepolisian di PP Hamalatul Qur’an, Mojolaban Sukoharjo, Jawa Tengah.
"Penggerebekan polisi ke ponpes putri tersebut tindakan sembrono walaupun dengan alasan sedang menangani kasus pidana. Itu tindakan yang berlebihan. Gegabah. Tidak pantas. Sangat ceroboh,” tutur Gus Salam.
BACA JUGA: Buntut Penggeledahan âPonpesâ di Sukoharjo, Wagub Taj Yasin Pastikan Pendampingan Psikologis Anak-Anak
Konon penggerebekan yang dilakukan polisi di PP Hamalatul Qur’an itu berawal dari dugaan ada keterlibatan pihak pesantren atau santri dalam kasus perusakan dan pembakaran Warung Mi Babi Tepi Sawah di Parangjoro, Sukoharjo.
Dari keterangan pihak PP Hamalatul Qur’an yang didapat Gus Salam, disebutkan bahwa polisi mendatangi pesantren menjelang subuh saat para santriwati masih tertidur. Santriwati dibangunkan, dikeluarkan, dan dibawa ke kantor polisi.
BACA JUGA: Gubernur Ahmad Luthfi Tunjuk Eko Sapto Purnomo Jadi Plt Bupati Sukoharjo
Baca Juga: Kasus Pembakaran Warung Mi Babi di Sukoharjo, LBH Pertanyakan Prosedur Penggeledahan 2 Ponpes
"Itu pesantren putri, ada santriwati masih anak-anak, didatangi dini hari menjelang subuh, ketika mereka semua sedang tidur, kemudian pintu didobrak, dibentak-bentak dibangunkan, ditodong senapan laras panjang, ditarik keluar kamar, diintimidasi ketika belum mengenakan jilbab dan sebagainya. Semua itu kan berlebihan secara etik dan moral. Mana pendekatan humanis yang digaungkan Pak Kapolri?” ujar Gus Salam.
BACA JUGA: Kapolri dan Babak Baru Reformasi Polri: Harapan Baru Dalam Konsep âPolisi Bersama Masyarakatâ
Menurut Gus Salam, dari pengalaman sebagai pengasuh pesantren, apa yang dialami santriwati dalam penggerebekan oleh kepolisian itu akan menimbulkan trauma mendalam.
"Trauma santriwati ini akan membawa luka psikologi dalam jangka panjang. Membentuk persepsi dan kesan yang buruk pada aspek penegakan hukum, terutama perlindungan dari rasa aman dan dari ancaman ketakutan,” tuturnya.
Menurut Gus Salam yang menjabat A’wan PBNU itu, kejadian tersebut akan menjadi ujian Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto atas konsistensinya untuk mengedepankan pendekatan humanis dan tindakan terukur dalam menangani perkara di tengah-tengah masyarakat.
“Menguji konsistensi Pak Kapolri. Kalau mau lulus ujian, maka selidiki dan usut tuntas secara internal tindakan penggerebekan aparat kepolisian gabungan di PP Hamalatul Qur’an, Mojolaban Sukoharjo,” kata Gus Salam. (*/jpnn)
Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:
Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan




