Jakarta, tvOnenews.com - Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) terus menunjukkan komitmen dan kesiapsiagaan penuh dalam menanggulangi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.
Salah satu metode penanganan yang dinilai paling efektif untuk menjangkau medan sulit adalah water bombing atau pengeboman air.
Berdasarkan rilis resmi TNI AU, operasi water bombing sejauh ini telah dikerahkan di lima titik karhutla utama, yakni Pekanbaru (Riau), Pontianak (Kalimantan Barat), Balikpapan (Kalimantan Timur), Gunung Lawu (Jawa Tengah), serta Gunung Ciremai (Jawa Barat).
- istimewa
Dalam menjalankan misi ini, TNI AU mengerahkan armada andalannya, yaitu Helikopter H225M Caracal dari Skadron Udara 8 dan NAS-332 Super Puma dari Skadron Udara 6. Masing-masing helikopter dilengkapi fasilitas Bambi Bucket berkapasitas maksimal 2.950 liter air dalam sekali pengambilan (pick up).
Di balik keberhasilan misi kemanusiaan tersebut, tersimpan cerita penuh tantangan dari dalam kokpit. Komandan Skadron Udara 6 sekaligus Pilot in Command (PIC) helikopter NAS-332 Super Puma, Letkol Pnb M. Ravi Rakasiwi, S.E., M.I.Pol., membagikan pengalamannya saat memimpin misi pemadaman karhutla di Gunung Lawu, Jawa Tengah.
Meski dari luar tampak bersahabat, Gunung Lawu menyimpan medan operasional yang cukup ekstrem.
"Gunung yang terlihat friendly ternyata punya medan yang cukup sulit. Terdapat banyak obstacle [rintangan] yang harus dilalui untuk mencapai titik api maupun dalam proses perilisan air," ungkap Letkol Ravi melalui sambungan telepon kepada tim redaksi Saksi Mata Network.
Ia menjelaskan, titik api kerap berada di tengah atau dikelilingi oleh tebing-tebing curam yang menjulang tinggi. Hal ini menuntut perhitungan matang serta koordinasi tingkat tinggi agar air dapat dirilis secara tepat sasaran.
Letkol Ravi juga menekankan bahwa keberhasilan setiap misi water bombing sangat bergantung pada kekompakan tim di dalam kabin.
Sedikitnya ada lima awak yang bertugas di dalam helikopter: pilot dan kopilot yang dituntut menjaga konsentrasi penuh dalam mengendalikan helikopter; dua operator yang bertugas memantau situasi di area target sekaligus mengontrol buka-tutup katup Bambi Bucket; serta seorang juru mesin yang bertanggung jawab penuh atas aspek teknis mesin helikopter.




