Alumnus S1 dan S2 Computer Science RWTH Aachen, Pieter Patonedi, membagikan pengalamannya selama enam tahun kuliah di Jerman. Dia menyebut biaya kuliah di kampusnya gratis, sedangkan mahasiswa hanya perlu membayar biaya semester sekitar Rp6 juta.
"Cuma biaya semester doang, kayak sekitar 6 juta per semester. Kuliahnya sendiri itu tuh pun gratis, makanya kalau ada beasiswa di Jerman tuh biasanya buat biaya hidup aja," ujar Pieter saat ditemui Medcom.id di Goethe-Institut Jakarta, Sabtu, 31 Oktober 2026.
Sistem Seleksi Kuliah di Jerman
Selain biaya pendidikan, calon mahasiswa juga perlu memahami sistem penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi Jerman. Pieter menjelaskan, terdapat dua jenis program studi berdasarkan penerapan Numerus Clausus (NC), yakni program yang menerapkan NC dan yang tidak.
Pada program studi tanpa NC, calon mahasiswa umumnya dapat diterima selama dokumen dan seluruh persyaratan yang diminta sudah lengkap. Pieter mencontohkan program Teknik Mesin di RWTH Aachen yang tidak menerapkan sistem tersebut.
"Kalau ada yang NC, yang ada Numerus Clausus-nya, itu biasanya ada seleksinya lagi. Nah itu yang diurutin lah kalian dari nilai paling bagus sampai yang paling rendah gitu, dan nanti cuma segini yang keterima gitu," tutur Pieter.
Sementara itu, program studi dengan NC memiliki proses seleksi tambahan. Pendaftar akan diurutkan berdasarkan nilai, kemudian hanya sebagian yang dinyatakan diterima.
Ilustrasi pemandangan di Jerman. Foto: pixabay.com
Biaya Hidup Kuliah di Jerman
Setelah mengetahui biaya pendidikan dan sistem penerimaannya, calon mahasiswa patut memperhitungkan kebutuhan sehari-hari selama tinggal di Jerman. Menurut Pieter, besaran biaya hidup sangat bergantung pada kota tempat tinggal dan kebiasaan masing-masing mahasiswa.
Dia mencontohkan, biaya sewa tempat tinggal di Aachen sekitar 400 euro atau Rp8 juta per bulan. Sementara itu, biaya sewa di München bisa mencapai lebih dari 700 euro per bulan.
Untuk kebutuhan makan, Pieter mengeluarkan maksimal 150 euro atau sekitar Rp3 juta karena lebih sering memasak sendiri. Jika seluruh kebutuhan dihitung, Pieter biasanya menghabiskan sekitar 800 euro per bulan.
Pengeluaran tersebut dapat mencapai 900 euro atau sekitar Rp18 juta jika termasuk biaya perjalanan dan kebutuhan lainnya. "Total semuanya biasanya sekitar 800 euro itu paling maksimal, termasuk jalan-jalan dan apa pun itu, 800 sampai 900 euro, jadi sekitar 18 juta," kata Pieter.
Baca Juga :
Enggak Wajib Balik ke Indonesia! 5 Negara Ini Punya Beasiswa S1-S3 Gratis 2026Persiapan Kuliah di Jerman
Besarnya biaya hidup itu membuat calon mahasiswa perlu menyiapkan kemampuan finansial sebelum berangkat. Selain dana, ada pula sejumlah dokumen dan persyaratan lain yang perlu diperhatikan, terutama visa pelajar dan kemampuan bahasa.
Pieter menyebut mahasiswa internasional perlu memiliki Sperrkonto (blocked account) sebagai bukti jaminan dana untuk membiayai kebutuhan hidup selama tahun pertama di Jerman. Besaran dana yang harus disiapkan dapat dicari melalui situs resmi terkait.
"Itu amount-nya (Sperrkonto) sekian lah, dan kalian bisa cari juga di situs-situs resminya. Itu yang paling mungkin yang paling berat ya, kalian harus kumpulin dananya dulu gitu buat setidaknya setahun pertama di Jerman," jelas dia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
- URL Berhasil di Salin Alumnus RWTH Aachen Spill Tips Lolos dan Biaya Kuliah di Jerman Klik untuk baca: https://www.medcom.id/pendidikan/tips-pendidikan/Gbm0z8ON-alumnus-rwth-aachen-spill-tips-lolos-dan-biaya-kuliah-di-jerman
(CEU)





