Jakarta, VIVA - Nilai tukar rupiah mengalami tekanan sepanjang Oktober 2026. Mata uang Garuda bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus level Rp18.100 per dolar AS menjelang akhir bulan. Pergerakan tersebut dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik, mulai dari penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, hingga dinamika arus modal asing.
Pelemahan rupiah menjadi perhatian karena nilai tukar memiliki keterkaitan dengan berbagai aktivitas ekonomi. Mulai dari biaya impor bahan baku, pembayaran utang luar negeri, kegiatan perdagangan internasional, hingga keputusan investasi perusahaan.
Di tengah tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) terus mencermati perkembangan pasar valuta asing. Gubernur BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa pergerakan rupiah turut dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran di pasar.
Sepanjang Oktober, rupiah tidak selalu bergerak melemah setiap hari. Mata uang Garuda sempat menguat pada sejumlah sesi perdagangan, tetapi tekanan kembali terlihat menjelang akhir bulan.
Kronologi Rupiah Melemah Sepanjang Oktober 2026Tekanan terhadap rupiah mulai terlihat pada pertengahan Oktober. Berdasarkan data Bank Indonesia, nilai tukar rupiah pada 20 Oktober 2026 tercatat sebesar Rp17.985 per dolar AS atau melemah 0,61 persen dibandingkan posisi akhir September 2026.
Memasuki pekan terakhir Oktober, tekanan terhadap rupiah berlanjut. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), kurs rupiah pada 23 Oktober tercatat Rp18.069 per dolar AS.
Pada 26 Oktober, JISDOR bergerak ke level Rp18.116 per dolar AS. Pelemahan berlanjut pada 27 Oktober dengan kurs mencapai Rp18.139 per dolar AS.
Pergerakan rupiah kembali melemah pada 28 Oktober. JISDOR tercatat sebesar Rp18.183 per dolar AS. Sehari kemudian, rupiah mengalami penguatan dengan kurs berada di level Rp18.128 per dolar AS.
Namun, pada 30 Oktober 2026, rupiah kembali bergerak melemah. JISDOR tercatat sebesar Rp18.138 per dolar AS.
Pergerakan tersebut menunjukkan rupiah menghadapi tekanan menjelang akhir bulan. Meski sempat menguat dalam beberapa kesempatan, nilai tukar masih bertahan di kisaran Rp18.100 per dolar AS.
Perlu diketahui, JISDOR merupakan kurs referensi yang diterbitkan Bank Indonesia berdasarkan transaksi antarbank di pasar valuta asing. Angka tersebut berbeda dengan pergerakan kurs spot yang dapat berubah sepanjang jam perdagangan.





