Pantau - Penyandang disabilitas di Bandung, Jawa Barat, mengembangkan keterampilan membatik melalui Batik Ge Hade (Griya Harapan Difabel) sebagai upaya membangun kemandirian ekonomi sekaligus membuktikan kemampuan mereka menghasilkan karya bernilai jual.
Kegiatan produksi batik tersebut berlangsung di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (PPSGHD) Dinas Sosial Jawa Barat yang berada di kawasan perbatasan Bandung dan Cimahi.
Di fasilitas tersebut, para penyandang disabilitas yang menjadi warga binaan sosial mempelajari berbagai tahapan pembuatan batik, mulai dari penggunaan canting, pencampuran warna, hingga penyelesaian motif pada kain.
Salah satu motif yang dikerjakan para perajin menggambarkan beragam biota laut melalui guratan lilin malam di atas kain putih.
Hasil karya mereka kemudian dikembangkan menjadi produk fesyen dan wastra yang memiliki nilai ekonomi.
Program Batik Ge Hade tidak hanya memberikan keterampilan produksi, tetapi juga menjadi sarana bagi penyandang disabilitas untuk membangun rasa percaya diri dan memperoleh kesempatan berkarya.
Nurdin Temukan Kemandirian Melalui Keterampilan MembatikSalah satu perajin Batik Ge Hade adalah Nurdin, penyandang disabilitas daksa asal Cianjur yang kini dipercaya menjadi koordinator pewarnaan.
Sebelum bergabung dengan fasilitas tersebut pada 2020, Nurdin menghabiskan kesehariannya di kampung dengan beternak ayam.
Ia mengaku sebelumnya mengalami kesulitan mencari pekerjaan karena banyak tempat tidak memberikan kesempatan kepada penyandang disabilitas.
Setelah mengikuti pelatihan di PPSGHD, Nurdin mulai mempelajari proses membatik dari tahap paling dasar hingga mampu terlibat langsung dalam produksi.
"Dulu saya bingung mau kerja apa karena banyak tempat menolak orang seperti kami. Di sini, saya diajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk membatik. Di Batik Ge Hade, saya diajari dari nol, mulai dari cara memegang canting, mencampur warna, sampai membuat motif. Waktu tahu karya buatan kami dibeli orang, bahkan dipakai artis luar negeri, rasa capek langsung hilang. Ada kebanggaan tersendiri, ternyata saya juga bisa," kata Nurdin.
Pengalaman tersebut memberikan perubahan terhadap cara Nurdin memandang kemampuan diri dan masa depannya.
Kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai koordinator pewarnaan juga menunjukkan keterlibatannya dalam kegiatan produksi Batik Ge Hade.
Anggi Bangkit Setelah Mengalami KecelakaanPengalaman membangun kembali kepercayaan diri juga dirasakan Anggi, salah satu penyandang disabilitas yang mengikuti program pelatihan di PPSGHD.
Anggi mengalami keterbatasan fisik setelah mengalami kecelakaan lalu lintas pada 2014 ketika masih duduk di kelas tiga SMA.
Saat itu, sepeda motor yang ditumpanginya mengalami kecelakaan hingga terlindas truk.
Peristiwa tersebut menyebabkan luka fisik berat dan memberikan dampak psikologis yang mendalam terhadap kehidupannya.
Selama bertahun-tahun, Anggi menghadapi rasa putus asa sebelum akhirnya memperoleh dukungan dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya.
Dukungan tersebut membantunya melanjutkan kehidupan dan memutuskan bergabung dengan program pelatihan PPSGHD.
"Saya sempat berada di titik paling gelap. Tapi, berkat dukungan keluarga dan orang-orang sekitar, saya bisa bangkit. Saya akhirnya ke sini dan mendapatkan kembali kepercayaan diri yang sempat hilang," ungkapnya.
Melalui kegiatan pelatihan, Anggi mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun kembali keyakinan terhadap dirinya.
Batik Ge Hade Jadi Sarana Pemberdayaan EkonomiBatik Ge Hade merupakan produk hasil keterampilan warga binaan sosial penyandang disabilitas di lingkungan PPSGHD Dinas Sosial Jawa Barat.
Kegiatan membatik di fasilitas tersebut melibatkan berbagai proses produksi yang membutuhkan ketelitian, kreativitas, dan keterampilan tangan.
Para perajin mengerjakan pembuatan motif, pewarnaan, serta tahapan penyelesaian kain sebelum hasilnya dikembangkan menjadi berbagai produk.
Produk yang dihasilkan meliputi kain batik, pakaian, dan barang berbahan kain batik yang ditampilkan di Galeri Batik Harapan Difabel.
Keberadaan produk tersebut memperlihatkan bahwa keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan dapat menghasilkan karya yang memiliki nilai ekonomi.
Bagi para perajin, kesempatan menghasilkan produk yang dibeli dan digunakan masyarakat juga menjadi bentuk pengakuan terhadap kemampuan mereka.
Keterampilan dan Kepercayaan Diri Menjadi Bekal KemandirianPengalaman Nurdin dan Anggi menggambarkan peran pelatihan keterampilan dalam membantu penyandang disabilitas memperoleh kesempatan untuk berkarya.
Melalui Batik Ge Hade, warga binaan tidak hanya mempelajari teknik membatik, tetapi juga mendapatkan ruang untuk mengembangkan kemampuan sesuai potensi masing-masing.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan penyandang disabilitas melalui keterampilan produktif di lingkungan PPSGHD Dinas Sosial Jawa Barat.
Batik Ge Hade sekaligus menunjukkan bagaimana kegiatan produksi kerajinan dapat menjadi sarana membangun kepercayaan diri dan membuka peluang kemandirian ekonomi bagi penyandang disabilitas.




