Polri Usut Kasus Penyelewengan Beras Terungkap di Sumut dan Pasuruan

idxchannel.com
5 jam lalu
Cover Berita

Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut.

Polri Usut Kasus Penyelewengan Beras Terungkap di Sumut dan Pasuruan. (Foto: Istimewa)

IDXChannel—Kasus penyelewengan beras kembali terungkap. Kali ini, kepolisian mengusut dugaan kecurangan beras fortifikasi di Sumatera Utara dan pengemasan ulang beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Pasuruan, Jawa Timur.

Adapun di Sumatera Utara, kepolisian mengungkap dugaan kecurangan beras fortifikasi dengan total produksi tercatat mencapai 525 ton dan nilai sekitar Rp14,1 miliar. Kasus tersebut berkaitan dengan dugaan ketidaksesuaian kandungan beras dengan informasi yang tercantum pada label produk.

Baca Juga:
25 Merek Beras Fortifikasi Bermasalah Ditarik, Bulog Diminta Lakukan Ini

Sementara itu, di Pasuruan, Jawa Timur, kepolisian mengungkap dugaan pengemasan ulang beras SPHP sebanyak 20 ton. Dalam kasus tersebut, empat orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Beras SPHP yang seharusnya disalurkan sesuai ketentuan diduga dikemas ulang menggunakan kemasan lain.

Menanggapi temuan tersebut, Menteri Pertanian (Mentan) sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus tersebut.

Baca Juga:
Bapanas Pastikan Stabilitas Beras Premium Usai Beras Fortifikasi Ditarik

Amran menegaskan pemerintah tidak akan memberikan toleransi terhadap pihak-pihak yang melakukan kecurangan dengan mempermainkan mutu, harga, maupun distribusi beras demi meraup keuntungan. Menurutnya, penindakan tegas diperlukan agar praktik tersebut tidak terus merugikan masyarakat.

“Tidak boleh kita berkompromi dengan yang melakukan pelanggaran,” tegas Amran dalam keterangan resminya pada Minggu (1/11/2026).

Baca Juga:
Bareskrim Temukan 5 Merek Beras Fortifikasi Tak Sesuai Klaim Kemasan

Dia menjelaskan bahwa pemerintah telah memberikan berbagai dukungan untuk menjaga keberlangsungan produksi sekaligus memastikan masyarakat memperoleh pangan dengan harga terjangkau. 

Salah satunya melalui kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk melindungi produsen dan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk menjaga keterjangkauan harga bagi konsumen.

“Ada HPP, harga pembelian pemerintah, supaya produsen bisa bertahan. Tapi ada HET, harga eceran tertinggi, supaya konsumen bisa menikmati. Ini tujuannya subsidi,” ujarnya.

Menurut Amran, penyalahgunaan beras SPHP maupun manipulasi produk beras fortifikasi bertentangan dengan tujuan kebijakan pemerintah. Masyarakat berhak memperoleh beras sesuai mutu, kandungan, label, dan harga yang dijanjikan.

Dia juga mengingatkan bahwa pangan merupakan komoditas strategis yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat luas dan stabilitas nasional.

“Pangan ini adalah komoditas strategis, bahkan komoditas politik. Kalau ini goyang, politik kita goyang. Kalau ini bermasalah, negara kita bisa bermasalah,” ungkapnya.

Selain penindakan, ia menekankan perlunya penguatan regulasi dan sosialisasi mengenai konsekuensi hukum bagi pelaku pelanggaran agar praktik serupa tidak terulang.

“Pengetatan, regulasi, nanti ada surat edaran. Supaya juga edukasi nanti, sosialisasi kita beritahu bahwa risikonya begini, dendanya sekian, ini pidana kalau melakukan. Sosialisasi diperkuat, tapi kolaborasi kita dengan kepolisian, kejaksaan sangat kuat,” kata Amran.


(Nadya Kurnia)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kabar Bahagia! Pasangan Pebulu Tangkis Bagas Maulana dan Aurum Oktavia Winata Resmi Menikah
• 13 jam lalutvonenews.com
thumb
Kedutaan Australia dan RMIT Gelar Diskusi Fesyen, Bahas Konsep Berkelanjutan
• 18 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Teatrikal Kisah Pemain Persebaya Era 1930-an Buka Parade Surabaya Juang 2026
• 4 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Peneliti dari enam negara bahas pemanfaatan AI di Bogor
• 18 jam laluantaranews.com
thumb
Menteri LH dorong pemulihan tata air gambut cegah karhutla di Sumsel
• 7 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.