Tinggal satu emas lagi, Gischa!

antaranews.com
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta (ANTARA) - Ada benda-benda kecil yang diam-diam mengatur gerak benda lain di sekitarnya. Matahari, misalnya.

​Atau, sebutir bola putih seukuran kepalan tangan di tengah lapangan boccia yang oleh para pemain disebut jack. Bola putih tidak bergerak setelah dilempar, hanya menunggu. Dua belas bola lain, enam merah dan enam biru, berebut mendekatinya seperti planet yang belum tahu orbitnya sendiri.

​Gischa Zayana sudah empat tahun hidup di dalam tata surya kecil itu.

​Siang itu, Kamis, 29 Oktober 2026, ia keluar dari kawasan Istana Merdeka setelah menerima penghargaan atlet peraih medali dari Presiden RI Prabowo Subianto.

​Mengenakan jaket biru muda dan topi yang menaungi separuh wajahnya, ia nampak sumringah di atas kursi rodanya yang melaju pelan. Di lehernya menggantung dua keping emas Asian Para Games Aichi-Nagoya yang beradu pelan setiap kali roda melintasi kerikil di atas aspal kompleks Istana Kepresidenan. Bunyinya nyaris tak terdengar, kecuali bagi siapa saja yang benar-benar memperhatikan.

​Ia tersenyum teduh ketika disapa. Senyum yang masih sama, meski raut wajahnya tampak kian dewasa.

Tiga tahun lalu di Phnom Penh, ada kacamata berbingkai bundar di wajah itu. Di balik kacanya, sepasang mata terpejam setiap kali bola merahnya meleset. Kini kacamata itu tak ada, dan garis pipinya tampak lebih tegas. Gadis tujuh belas tahun itu telah menjelma menjadi perempuan dua puluh satu tahun yang tahu cara duduk tenang di tengah keramaian.

​Juni 2023. ASEAN Para Games Kamboja, final nomor individu BC2 putri. Gischa menundukkan Nguyen Nhat Uyen dari Vietnam dengan skor tipis 6-5.

​Papan skor mencatatnya sebagai selisih satu angka. Namun, papan skor yang sama tidak pernah mencatat tangisan Gischa.

​Hari itu ia menangis seperti anak kecil yang baru saja diberi tahu bahwa mimpinya boleh menjadi nyata. Emas internasional pertamanya yang didapat Gischa itu bagai sebuah mukjizat, sebab ia tak bisa berbuat apa-apa lagi ketika lawannya sempat memiliki lima kali kesempatan untuk menang mudah.

Setahun kemudian Gischa ada di Paris. Panggung terbesar yang bisa dibayangkan seorang atlet disabilitas. Ia pulang membawa perunggu nomor individu, ditambah perak beregu. Dia pula atlet Indonesia pertama yang menyumbang medali boccia di Paralimpiade. Orang-orang menyebutnya kejutan. Gischa menyebutnya pertolongan.

Lalu Thailand, Januari 2026. ASEAN lagi. Dua emas lagi, dari nomor individu dan beregu campuran.

Lalu Nagoya. Tingkat Asia.

Di sana ia bertemu Hiu Lam Yeung dari Hong Kong, lawan yang selama ini hampir selalu mengalahkannya. Ada lawan yang mengalahkan kita karena lebih kuat. Ada pula yang mengalahkan kita karena sudah terlalu lama tinggal di kepala kita. Hiu Lam termasuk yang kedua.

Baca juga: Gischa Zayana wujudkan amanah orang tua berprestasi di Nagoya

Baca juga: Raih empat emas, Tim boccia bertekad jaga performa hingga Paralimpiade

Final itu berakhir 6-5. Angka yang sama dengan di Kamboja. Tapi kali ini Gischa tidak menangis.

Tiga hari kemudian, bersama Felix Ardi Yudha dan Muhamad Afrizal Syafa, ia menundukkan Thailand 11-3 di nomor beregu. Dua emas dari satu kota. Dua keping logam yang kini beradu pelan di lehernya, di lorong Istana.

"Dulu masih muda, masih nangisan," katanya, lalu tertawa. Tawa yang sama ketika dia diwawancara saat mendapatkan emas pertama. Dia seperti sedang membicarakan orang lain. Seperti sedang membicarakan adiknya sendiri.

Ketika ditanya apa yang berubah, jawabannya pendek:"Ya, lumayan sudah bisa mengontrol diri biar enggak terlalu panikan."

"Lumayan". Kata itu ia ucapkan dengan ringan, padahal di dalamnya ada ratusan jam latihan, puluhan pertandingan, dan entah berapa malam ketika pikirannya sendiri menjadi lawan paling keras kepala.

Barangkali begitulah remaja bermetamorfosa jadi dewasa. Ia tidak datang sebagai ledakan. Ia datang seperti air yang pelan-pelan mengikis batu, sampai suatu hari kita sadar bentuknya sudah lain.

Namun Gischa tidak sedang merayakan bentuk barunya. Ia justru sibuk menghitung retakan.

"Dari segi pola permainan, mental juga saya merasa masih kurang sekali, kadang masih suka goyah, sama hal-hal lain, masih banyak sekali yang harus diperbaiki pokoknya."

Dua emas di leher. Daftar kekurangan di kepala.

Ada jenis manusia yang berhenti ketika sudah sampai. Ada pula jenis yang baru mulai melihat jalan justru ketika sudah sampai. Gischa yang kedua. Bagi orang seperti ini, puncak bukanlah tempat berdiri. Puncak hanyalah tempat yang cukup tinggi untuk melihat gunung berikutnya.

Gunung itu bernama Paralimpiade.

Di Paris ia membawa pulang perunggu. Los Angeles 2028 menunggu dengan satu-satunya warna yang belum ia miliki di panggung itu.

Baca juga: Boccia rebut emas ke-15 bagi kontingen Indonesia

Ketika ditanya apakah emas Paralimpiade adalah sasaran berikutnya, ia menjawab:

"Oh, amin. Iya semoga, semoga. Amin. Amin."

Tiga kali amin. Seperti seseorang yang tidak berani menyebut mimpinya terlalu lantang, takut mimpi itu terbang sebelum waktunya.

"Latihan, Mas. Latihan, tanding, ngasih yang terbaik."

Jawaban sesederhana itu tidak terdengar seperti sebuah rencana besar, dan memang bukan. Namun dalam boccia, tak ada lemparan yang besar. Yang ada hanyalah lemparan yang tepat, diulang ribuan kali, sampai tangan hafal jarak dan hati berhenti gemetar.

​Pemerintah memberinya bonus sekitar Rp4,5 miliar untuk dua medali emas di Jepang. Angka yang bisa membuat siapa pun terlena. Namun, Gischa menyebut tujuannya dengan tenang, tanpa jeda:

​"Buat masa depan, buat investasi."

​Di usia dua puluh satu tahun, ia sudah memikirkan hari ketika tangannya tak lagi melempar bola.

​Sebelum kursi rodanya berlalu, ia menitipkan pesan bagi orang-orang yang barangkali tengah duduk di tempat yang dulu pernah ia tempati: di sebuah rumah di Solo, ketika ia belum tahu bahwa di dalam dirinya tersimpan orbit yang menunggu untuk ditemukan.

​"Semangat buat teman-teman yang sama seperti saya di luar sana. Mungkin kalian juga bisa seperti saya di kesempatan mendatang. Pokoknya, tetap terus cari potensi dari diri kalian sendiri, dan semoga kalian mendapatkan rezeki yang sama seperti saya."

​Empat tahun lalu, ia barangkali belum sepenuhnya mengerti apa itu boccia.

​Hari ini, ia hanya kekurangan satu warna.

Baca juga: Menpora sebut pemberian bonus bukti masa depan atlet tidak suram

Baca juga: Presiden serahkan bonus Rp158,3 miliar kepada atlet dan pelatih

Baca juga: Penghargaan dari Prabowo diharapkan pacu atlet tingkatkan prestasi




Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Ribuan ATM Tutup dan Bangkrut Bersamaan Gara-Gara Aturan Pemerintah
• 12 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Usai Putusan MK dan Putusan MA, Ray Rangkuti: Mau Alasan Apa Lagi? Mau Berdalih Apa Lagi buat Gibran?
• 11 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Kemenekraf Ungkap Pentingnya Consumer Insight untuk Mendorong Ekonomi Kreatif
• 3 jam laludisway.id
thumb
Penggerebekan Narkoba di Kampung Bahari: Polisi Tangkap Empat Pelaku, Bandar Kabur
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Pakai Info Rahasia Militer, Tentara Cuan Rp7,2 Miliar di Pasar Taruhan
• 10 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.