OJK Sebut 23 Perusahaan Tunda IPO Sepanjang 2026 karena Pasar Belum Kondusif

katadata.co.id
2 jam lalu
Cover Berita

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan sebanyak 23 perusahaan memutuskan untuk menunda penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sepanjang 2026. Keputusan tersebut diambil karena perusahaan menilai kondisi pasar modal belum bagus untuk menghimpun dana dari publik.

Kepala Departemen Pengaturan dan Pengembangan Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Agus Firmansyah mengatakan, dari 38 perusahaan yang sempat masuk dalam proses IPO tahun ini, baru tujuh perusahaan yang telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sementara itu, delapan perusahaan lainnya masih dalam proses dan 23 perusahaan memutuskan menunda rencana IPO.

“Mereka menunda, karena memang mungkin dilihat tahun ini bukan tahun yang bagus untuk IPO,” kata Agus saat ditemui usai acara Capital Market Journalist Workshop di Lombok, Sabtu (31/10).

Menurut Agus, keputusan menunda IPO tidak terlepas dari pertimbangan perusahaan terhadap kondisi perekonomian dan pasar saham Indonesia. Perusahaan menilai saat ini belum menjadi waktu yang tepat untuk menawarkan saham kepada publik.

Agus mengatakan, ada perusahaan memang menyampaikan pembatalan rencana IPO. Namun, sebagian besar memilih menunda hingga kondisi pasar dinilai lebih mendukung.

“Mereka mungkin melihat kurang pas, either perusahaan sendiri belum siap atau memang mereka melihat kondisi pasarnya juga yang belum pas,” ujarnya.

Agus menjelaskan, perusahaan yang berencana melakukan IPO perlu mempertimbangkan kesiapan internal sekaligus kondisi pasar. Sebab, melalui IPO, perusahaan akan menghimpun dana dari investor publik.

Sementara itu dia melaporkan pipeline penawaran umum di pasar modal masih mencatatkan 23 perusahaan dengan perkiraan nilai penggalangan dana mencapai Rp 27,9 triliun. Namun, angka tersebut mencakup seluruh jenis penawaran umum bukan hanya IPO saham.

Penawaran umum tersebut meliputi IPO saham, penawaran umum terbatas atau rights issue serta penawaran umum efek bersifat utang dan sukuk (EBUS).

Sepanjang 2026, tujuh perusahaan telah mencatatkan saham perdana di BEI. Ketujuh emiten tersebut adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA), PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) dan PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI).

Sementara itu, pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (28/10) lalu, BEI menargetkan sebanyak 25 perusahaan melantai di bursa pada 2027. Target tersebut lebih rendah dibandingkan sasaran IPO pada 2026 yang mencapai 50 perusahaan.

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan, salah satu faktor yang diharapkan dapat mendorong pencapaian target tersebut adalah perbaikan kondisi pasar modal. Tapi BEI juga melihat peluang IPO dari perkembangan investasi di sektor industri dan restrukturisasi perusahaan milik negara yang digencarkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara.

Jeffrey mengatakan, pemerintah saat ini aktif membangun kawasan industri dan mendorong investasi di sektor manufaktur. Aktivitas tersebut berpotensi menciptakan kebutuhan pembiayaan yang dapat dipenuhi melalui pasar modal.

“Tentu, itu akan membutuhkan pembiayaan. Salah satu potensi pembiayaannya tentu adalah melalui pasar modal. Itu ada satu potensi yang kita lihat di situ,” kata Jeffrey saat ditemui usai RUPSLB BEI, Rabu (28/10).

Selain itu, BEI melihat peluang pencatatan saham dari perusahaan-perusahaan yang merupakan hasil restrukturisasi Danantara. Menurut Jeffrey, proses penataan ulang perusahaan dalam kelompok Danantara berpotensi menghasilkan sejumlah perusahaan yang dapat melantai di bursa.

“Dari hasil restrukturisasi tersebut juga tentu ada potensi. Ada beberapa perusahaan hasil restrukturisasi dari kelompok Danantara yang bisa dicatatkan juga di bursa,” ujarnya.

Jeffrey mengakui tantangan untuk mencapai target IPO pada 2027 masih cukup besar. Namun, BEI menilai peluang untuk meningkatkan jumlah perusahaan tercatat tetap terbuka melalui berbagai upaya tersebut.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Netanyahu Terancam Lengser, Oposisi Israel Gandeng Partai Arab Bentuk Pemerintahan Baru
• 10 jam laluviva.co.id
thumb
Indonesia Jadi Negara dengan Spam Call Tertinggi di Asia Pasifik, Awas Jangan Asal Angkat Telepon!
• 21 jam laluviva.co.id
thumb
Menjahit Timur dan Barat, Indramayu Simpul Raksasa yang Menyatukan Jaringan Gas Bumi Pulau Jawa
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Viral Warga Konsumsi Hiu Paus Satwa Dilindungi yang Terdampar di Sikka
• 9 jam lalurctiplus.com
thumb
Video: Gali Potensi Gas Alam Jumbo, RI Masih Terkendala Infrastruktur
• 15 jam lalucnbcindonesia.com
Berhasil disimpan.