Kabar duka menyelimuti dunia gastronomi Nusantara. Hj Suharti (86), pendiri sekaligus pemilik jaringan rumah makan legendaris Ayam Goreng Suharti, berpulang di Kota Yogyakarta. Bukan hanya meninggalkan jejak besar dalam jagat kuliner Tanah Air, Suharti juga mewariskan nilai-nilai perjuangan hidup, ketekunan, dan kesetiaan pada tradisi.
“Dengan penuh duka, kami sekeluarga mengabarkan bahwa telah berpulang ke rahmatullah Ibunda dan Eyang tercinta, Hj Suharti.”
Kabar itu disiarkan di akun Instagram resmi Ayam Goreng Suharti. Hj Suharti binti Tanudimejo tutup usia pada Jumat (30/10/2026) jelang tengah malam karena sakit. Jenazah Suharti dikebumikan di pemakaman keluarga di Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Sabtu (31/10/2026).
Karangan bunga dukacita dari berbagai pihak pun mengalir memenuhi halaman rumah makan Ayam Goreng Suharti di Jalan Laksda Adisutjipto, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Sebuah papan pengumuman bahwa rumah makan itu tutup sementara karena sedang berduka pun terpasang di halaman yang sekaligus menjadi area parkir restoran tersebut.
Rumah makan yang terletak di jalan nasional penghubung Yogyakarta-Solo itu merupakan tonggak awal kelahiran kuliner legendaris tersebut. Suharti bersama suaminya, Syahlan, mendirikan rumah makan itu pada tahun 1972 setelah selama bertahun-tahun menjajakan ayam kampung goreng buatannya dengan cara berkeliling kota.
Ayam goreng yang disajikan adalah ayam bumbu rempah dengan taburan kremes atau tepung renyah. Kuliner ini berkembang dari wilayah Kalasan yang resep awalnya dipelopori Mbok Berek. Hingga kini “genre” ayam goreng itu juga disebut ayam goreng kalasan sekaligus menancapkan identitasnya sebagai ayam goreng khas Yogyakarta.
Tri Harnoko (58), Supervisor Rumah Makan Ayam Goreng Suharti Yogyakarta sekaligus salah satu sanak saudara Suharti, saat ditemui, Minggu (1/11/2026), mengatakan, bangunan rumah makan pada awal berdiri kala itu hanya berupa warung gedhek atau anyaman bambu.
Seiring perjalanan waktu dan perkembangan usaha, warung kecil itu pun menjadi bangunan megah yang bisa menampung hingga 300 pelanggan. Ayam Goreng Suharti juga membuka cabang di berbagai kota, yakni Bandung, Jakarta, Pekanbaru, dan Bali.
Menurut Tri Harnoko, yang disapa Koko, sebelum sakit pada Oktober 2024, Suharti masih aktif memantau operasi rumah makan. Bahkan, dia juga kerap mengunjungi cabang-cabang di luar kota, termasuk menyiapkan pembukaan cabang terbaru di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung.
“Beliau memiliki semangat juang yang kadang kita sendiri yang muda-muda tidak terpikirkan ke arah sana,” kata Koko.
Etos kerja keras itu disebut Koko telah dilakoni Suharti sejak pertama merintis usaha dulu. Dari cerita yang diperolehnya, awalnya Suharti berjualan keliling dengan berjalan kaki sambil menggendong tenggok (sejenis bakul anyaman bambu).
“Beliau juga punya prinsip pantang membawa pulang ayam yang sudah dibawa. Jadi sebisa mungkin beliau berkeliling sampai ayamnya habis,” tutur Koko.
Koko menambahkan, satu hal lain yang menjadi perhatian Suharti adalah soal kebersihan. Setiap mengunjungi rumah makan, Suharti akan mengecek meja dengan mengusapkan jarinya. Kalau ada debu atau kotoran, Suharti akan meminta karyawan untuk membersihkan semua.
Pakar gastronomi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Minta Harsana menilai, warisan terbesar Suharti bukan hanya sebuah rumah makan atau sebuah merek, melainkan juga keyakinan bahwa rasa yang dibangun dengan ketekunan dapat melampaui usia manusia yang menciptakannya. Rasa itu pun konsisten terjaga selama puluhan tahun dan menjadi bagian dari perjalanan sejarah gastronomi Yogyakarta.
Ia menghidupkan kembali resep tersebut melalui pengalaman, selera konsumen, kreativitas, dan keberanian untuk menciptakan identitas sendiri.
Dia mengungkapkan, perjuangan Suharti dalam merintis usaha ini juga menjadi bagian warisan yang sangat penting. Hal itu menunjukkan kegigihan seorang perempuan yang setiap hari harus memilih rempah, membersihkan ayam, mengolah bumbu, memperhitungkan biaya, dan melayani pelanggan.
“Pada saat yang sama menjaga agar setiap potong ayam yang keluar dari penggorengan memiliki rasa yang sama. Itulah sesungguhnya pengetahuan gastronomi yang hidup,” kata Minta.
Dia menambahkan, Suharti juga berhasil mentransformasikan resep ayam goreng yang bermula dari Mbok Berek, yang memiliki garis keluarga dengan Suharti. “Suharti tidak hanya menerima resep. Ia menghidupkan kembali resep tersebut melalui pengalaman, selera konsumen, kreativitas, dan keberanian untuk menciptakan identitas sendiri,” ujar Minta.
Usaha ayam goreng ini pun sempat gamang saat Suharti dan Syahlan berpisah pada awal dekade 1990-an. Hal itu diikuti dengan munculnya dua merek berbeda, yakni Ayam Goreng Ny Suharti yang dikelola Syahlan dan Ayam Goreng Suharti yang dijalankan Suharti.
Suharti pun memasang foto dirinya untuk melengkapi logo rumah makan tersebut. Foto Suharti yang memakai kebaya dan bersanggul itu kemudian menjadi ciri khas yang melekat di benak publik.
Namun, Minta melihat kemunculan dua merek itu sebagai dua cabang dari satu pohon sejarah gastronomi keluarga. Keduanya sama-sama berakar pada perjalanan panjang keluarga dan tradisi ayam goreng Yogyakarta. “Keduanya tetap membawa satu warisan, yakni ayam goreng sebagai identitas kuliner,” ucapnya.





