Saat Kepala Dusun Turun Tangan Membakar Lapak Pengedar di Kampung Narkoba

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Aksi seorang kepala dusun membakar lapak penjual sabu menunjukkan betapa mengkhawatirkannya peredaran narkoba di Sumatera Utara. Jaringan pengedar tersebar dari kota hingga dusun, menjual narkoba sangat terbuka. Disediakan pula tempat mengisap sabu dengan paket hemat.

“Peredaran narkoba telah menghancurkan banyak keluarga di dusun kami. Sabu menjerat anak-anak hingga menghancurkan keluarga. Banyak anak putus sekolah, kepala keluarga kehilangan pekerjaan, dan keluarga jatuh miskin,” kata Ayub Pringadi, Kepala Dusun III A Selambo, Desa Amplas, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Minggu (1/11/2026).

Aksi Ayub membakar lapak pengecer narkoba viral di media sosial. Ayub mengenakan seragam aparatus sipil negara menghardik para pengedar. Dengan kamera ponselnya, Ayub merekam lapak berukuran sekitar 3 meter x 3 meter dengan dinding triplek dan spanduk bekas.

Di lapak terlihat beberapa alat penghisap sabu berupa bong di atas meja yang dikelilingi kursi panjang. Para pengedar dan penyalahguna narkoba berhamburan dari lapak itu. Ayub lalu menyiramkan bensin lalu membakar lapak. “Kalau ada yang coba-coba lagi buka lapak narkoba di Selambo ini, aku bakar,” kata Ayub.

Ayub menyebut, dia membakar lapak narkoba itu pada Senin (26/10/2026). Dia sudah berulang kali mengingatkan para pengedar narkoba yang juga merupakan warga dusun itu. Namun, para pengedar itu tidak peduli.

Ayub mengungkapkan, lapak penjual narkoba marak di desanya dalam beberapa tahun ini. Narkoba bahkan dijual di lapangan terbuka. Para pengedar duduk di kursi. Timbangan digital diletakkan di atas meja lalu ditutup pakai kardus mi instan. Kardus bukan untuk menyamarkan, tetapi agar penimbangan sabu dengan akurasi hingga 0,1 gram itu tidak terganggu angin.

Sebagian besar warga di dusun yang merupakan daerah sub urban Kota Medan itu adalah pekerja pabrik, gudang, tukang bangunan, dan pedagang kecil. Di tengah hidup pas-pasan, jerat narkoba terasa sangat mencekik masyarakat.

Ayub menambahkan, banyak kepala keluarga yang terjerat narkoba. Anak-anak tak bisa minum susu dan putus sekolah, tetapi ayahnya bisa membeli narkoba. Banyak perceraian terjadi yang diawali dengan jerat narkoba. Bahkan, ada keluarga yang sampai menjual barang-barang rumah tangga demi beli narkoba, seperti kursi, meja, kulkas, dan kompor.

“Penanak nasi yang masih berisi nasi pun dijual. Kriminalitas sangat tinggi di dusun kami. Kalau ada rumah yang ditinggal beberapa hari saja, barang-barang langsung habis semua,” kata Ayub.

Baca JugaKronologi Operasi Senyap Pengungkapan Penyelundupan 1,16 Ton Narkoba dalam Kapal Tanker

Kawasan Selambo tersebut menjadi gambaran persoalan sosial yang dihadapi masyarakat Sumut, khususnya di Kota Medan dan kawasan sub urban di Deli Serdang. Sumut menjadi pintu masuk utama penyelundupan narkoba dari Selat Malaka sekaligus menjadi pusat peredaran narkoba terbesar di Indonesia.

Konten tentang darurat narkoba Sumut cukup ramai beredar di jagat media sosial. Beberapa video menunjukkan bagaimana kriminalitas yang tidak masuk akal terjadi akibat narkoba itu.

Sebuah video, misalnya, menunjukkan, beton-beton kuburan di Medan dibongkar untuk dicuri besi cor di dalamnya. Video lain menunjukkan rumah-rumah yang tak dihuni habis dipereteli oleh pencuri, mulai dari atap, kusen, besi cor, hingga batu batanya.

Ada pula video yang memperlihatkan seorang pria dewasa sedang ”mompa”, istilah untuk orang yang sedang mengonsumsi sabu, di pinggir jalan besar di Medan.

Sumut pun menjadi salah satu daerah yang pertama kali dikunjungi oleh Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Jenderal Suyudi Ario Seto, Jumat (23/10/2026). Dia memaparkan pembongkaran kasus penyelundupan 1,16 ton narkoba berbentuk kristal jenis ketamin klorida yang diselundupkan dengan kapal tanker MT Global 168.

“Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) dan BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional), Sumut saat ini berada di peringkat pertama dalam angka prevalensi narkoba,” kata Suyudi.

Prevalensi penyalahguna narkoba di Sumut bahkan mencapai 10 persen atau 1,5 juta penyalahguna dari total 15,3 jiwa penduduknya. Satu dari 10 warga Sumut adalah penyalahguna narkoba. Pengungkapan narkoba paling besar di Indonesia, kata Suyudi, juga berada di Sumut.

Belum selesai pemberantasan narkoba dengan bentuk konvensional seperti sabu, ekstasi, dan ganja, sindikat pengedar pun mencari cara baru untuk mengedarkan narkoba berbentuk cair yang dikonsumsi dengan rokok elektrik atau vape. Sumut pun menjadi tempat peredaran terbesar narkoba jenis ini dengan sebutan “vape getar”.

“Evolusi narkotika di dunia dan Indonesia menunjukkan perubahan bentuk dari padat menjadi cair. Vape sebagai salah satu sarana yang berpotensi digunakan untuk memasukkan narkotika,” kata Suyudi.

Persoalan darurat peredaran narkoba itu menjadi sorotan utama Gubernur Sumut Bobby Nasution. Di berbagai daerah di Sumut, kata Bobby, para pengedar menjual narkoba dengan sangat terbuka. Anak-anak muda bahkan dengan mudah menemukan para pengedar untuk membeli narkoba. Namun, ironisnya, aparat penegak hukum kesulitan menemukan dan menangkap para pengedar narkoba itu.

”Kehadiran Bapak Kapolri di Sumut ini sangat tepat dan memberikan semangat kepada kami untuk terus berupaya mewujudkan Sumut yang bebas narkoba,” ujar Bobby.

Pintu masuk peredaran

Kriminolog dari Universitas Pembangunan Panca Budi, Medan, Redyanto Sidi, menilai, Sumut menjadi pusat peredaran gelap sekaligus pintu masuk utama narkoba sebelum dikirim ke sejumlah wilayah di Indonesia.

Penyelundupan narkoba lewat Sumut terus berkembang karena modus kejahatan lama tidak pernah diputus secara tuntas. Jalur pengiriman narkoba masih menggunakan jalur lama, yakni masuk melalui Selat Malaka, berlabuh di pelabuhan tikus di pantai timur Sumatera bagian utara, lalu dikirim lewat jalur darat ke Jakarta dan daerah lainnya di Indonesia.

”Dalam perspektif kriminologi, kejahatan akan muncul kembali jika kejahatan dengan pola dan modus yang sama yang terjadi sebelumnya tidak dituntaskan. Penyelundupan narkoba melalui pantai timur Sumbagut sudah berlangsung lama. Sindikat penyelundup melihat jalur itu sangat mudah ditembus,” kata Redyanto.  

Tindakan kepala dusun yang membakar lapak narkoba di Deli Serdang menjadi refleksi betapa masyarakat Sumut sudah sangat frustasi pada jerat narkoba. Para remaja putus sekolah, lalu keluarga jatuh miskin.

Langkah tegas Kapolri Suyudi melakukan penindakan narkoba di awal masa jabatannya diapresiasi. Langkah ini diharapkan konsisten dalam jangka panjang. Masyarakat menunggu pemberantasan narkoba secara besar-besaran hingga ke akar-akarnya…

Baca JugaRazia September Bebas Narkoba, Kini Viral Video Pesta Narkoba di Rutan Depok


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dari Panggung Borobudur, Andrea Bocelli Ajak Dunia Peduli Anak-Anak Palestina
• 22 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
IHSG Anjlok ke 5.057, BEI Tetap Perkuat Reformasi Pasar Modal
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Iran Ancam akan Balas jika AS-Israel Menyerang, Timur Tengah di Ambang Perang Baru
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Sering Dikaitkan dengan Percintaan, Arti Mimpi Menikah Ternyata Jadi Pertanda Karier dan Komitmen, Ini Penjelasannya
• 23 jam lalugrid.id
thumb
Polisi Gerebek Pesantren Putri, DPR Minta LPSK Turun Tangan Pulihkan Trauma Santriwati
• 20 jam lalurctiplus.com
Berhasil disimpan.