Jakarta, VIVA - Ancaman cuaca ekstrem akibat fenomena El Nino mendorong Bolivia menetapkan status darurat nasional. Pemerintah negara di Amerika Selatan tersebut bersiap menghadapi risiko kekeringan berkepanjangan, banjir, hingga tanah longsor seiring menguatnya fenomena iklim yang diperkirakan mencapai puncak pada akhir 2026.
Presiden Bolivia Rodrigo Paz menetapkan status darurat nasional untuk memobilisasi sumber daya dan memperkuat penanganan bencana. Keputusan tersebut juga memungkinkan pemerintah mengerahkan tim penyelamat tambahan serta meningkatkan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, militer, serta kepolisian.
Paz memperingatkan dampak El Nino kali ini berpotensi sangat serius, terutama terhadap kondisi kekeringan dan banjir di berbagai wilayah. "Ini akan menjadi fenomena yang akan menimbulkan dampak sangat parah dalam hal kekeringan dan banjir, dan kita membutuhkan kerja sama dari seluruh lembaga," kata Paz, dikutip dari DW, Minggu (1/11/2026).
Menurut laporan pemerintah Bolivia, kekeringan telah berdampak terhadap sedikitnya 78.000 keluarga yang tersebar di tujuh dari sembilan departemen atau wilayah administratif negara tersebut. Dampak kekeringan juga telah menyebabkan kematian lebih dari 75.000 ekor sapi. Kondisi ini mengancam mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sektor peternakan dan pertanian.
Selain kekeringan, otoritas Bolivia memperingatkan potensi banjir, banjir bandang, serta tanah longsor ketika musim hujan mulai berlangsung. Pemerintah meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi berbagai kemungkinan bencana tersebut.
El Nino Menguat, Dampaknya Meluas ke Berbagai Negara
El Nino yang berlangsung saat ini mulai berkembang pada Juni 2026 dan menguat dengan cepat. Fenomena tersebut diperkirakan berpotensi menjadi salah satu El Nino dengan intensitas sangat kuat, yang terkadang disebut sebagai super El Nino.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menggambarkan perkembangan El Nino saat ini sebagai fenomena yang "melampaui batas perkiraan". Puncak fenomena tersebut diperkirakan terjadi pada Desember 2026, meskipun dampaknya dapat berlangsung selama beberapa tahun.
PBB juga mendesak negara-negara di kawasan Pasifik untuk mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan dampak terburuk. Sejumlah peneliti memperkirakan suhu ekstrem yang berkaitan dengan El Nino kali ini berpotensi menyebabkan sekitar 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia pada periode Juni 2026 hingga Februari 2027.





