JAKARTA, KOMPAS - Sejumlah lembaga pendidikan informal mengalami kekurangan tenaga sukarelawan pengajar bagi anak-anak jalanan. Hal itu disebabkan oleh timpangnya antara jumlah peserta didik dengan jumlah sukarelawan, yang menyebabkan kegiatan-kegiatan belajar mengajar kerap terhambat.
Hal itu dirasakan Ajeng Satiti Ayuningtyas Oka Ferdiana (36), warga Pamulang, Tangerang Selatan yang merupakan pendiri Yayasan Sekolah Cinta Anak Indonesia (Sekoci). Pada awal berdiri tahun 2015, kegiatan belajar mengajar yang dilakukannya di Kolong Jembatan Cikini hanya dilakukannya seorang diri. Mulanya ia hanya mengajar tiga anak jalanan, hingga lambat laun jumlah anak-anak yang mau belajar terus bertambah hingga kini mencapai sekitar 60 anak.
“Awalnya tiga orang, terus empat, enam, delapan, dan seterusnya bertambah,” ujarnya.
Sejalan dengan bertambahnya peserta didik, Ajeng pun menambah jumlah pengajar. Kini yayasannya memiliki 10 orang pengurus dengan anggota sukarelawan terdaftar sekitar 57 orang. Kendati sukarelawan pengajar mencapai puluhan orang, Ajeng mengatakan, kehadiran sukarelawan dalam setiap kegiatan sangat fluktuatif.
“Kita paham kalau sukarelawan itu tidak berbayar (memperoleh honor), jadi pasti naik turun jumlahnya (kehadirannya) juga tinggi,” ujarnya.
Ajeng harus putar otak untuk memastikan setiap kegiatan belajar mengajar tetap berjalan lancar.
Persoalan tersebut akhirnya membuat Ajeng harus putar otak untuk memastikan setiap kegiatan belajar mengajar tetap berjalan lancar. Kini ia mengubah sistem rekrutmen sukarelawan yang semula satu tahun sekali menjadi 6 hingga 3 bulan sekali.
“Untuk mengajar, setidaknya dapat hadir sekali dalam satu bulan dan masuk ke divisi-divisi,” ucapnya.
Selain itu, ia juga kerap membuat acara bertema One Day as A Volunteer untuk sukarelawan yang hanya bisa mengikuti kegiatan satu kali saja. Adapun sukarelawan seperti ini diposisikan sebagai para pengajar tamu.
Keterbatasan pengajar juga dialami Valentina Palmarini Nugrahaningsih Sastrodihardjo (45), pendiri Yayasan Rumah Belajar Pelangi Nusantara di Tangerang. Yayasan yang semula berbentuk komunitas itu, ia dirikan tahun 2010 bertempat di Kolong Jembatan Rawamangun, Jakarta Timur.
Valen mengatakan, pada awal pendiriannya ia berhasil menarik 160 anak jalanan yang terdiri dari pengemis, pemulung, dan pengelap kaca mobil untuk belajar bersama. Adapun pada tiga tahun awal berdiri, Valen melakukan kegiatan belajar mengajar bersama empat orang temannya.
Valen banyak mengandalkan tawaran kegiatan dari mahasiswa atau pihak swasta yang ingin mengajarkan para siswanya.
Namun, pada tahun 2013, kesibukan pada pekerjaan dan pernikahan membuat teman-temannya perlahan tidak bisa berkontribusi untuk mengajar. Hingga kini, Valen hanya seorang diri mengurus yayasan yang sudah 16 tahun ia rawat.
“Kadang sebagai manusia, kan, ada jenuhnya, apalagi aku udah usia 45 tahun dan sekarang sendiri ngurusnya nggak ada teman diskusi,” ucapnya.
Kendati demikian, ia tetap berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Saat ini, Valen banyak mengandalkan tawaran kegiatan dari mahasiswa atau pihak swasta yang ingin mengajarkan para siswanya. Pada kegiatan tersebut, Valen hanya perlu memberikan persetujuan, sementara seluruh mekanisme pembelajaran diatur oleh penyelenggara acara.
“Kadang ada tugas-tugas mahasiswa yang mau praktek mengajar. Jadi mereka yang bikin acara dan semacamnya, saya tinggal accept,” ujarnya.
Kendala sukarelawan pengajar pada sekolah-sekolah informal tersebut pada akhirnya mendorong para pendiri yayasan untuk mengatur strategi. Mulai dari mengubah sistem rekrutmen menjadi lebih sering, hingga memperbanyak kolaborasi dengan instansi lain.





