JAKARTA -- Musim pancaroba sering kali datang membawa udara segar setelah kemarau panjang. Namun di balik kesejukannya, ada tantangan kesehatan yang tak boleh dipandang sebelah mata, khususnya bagi anak-anak.
Saat cuaca mulai berganti dan hujan mengguyur berbagai wilayah, tubuh kecil si buah hati dipaksa beradaptasi dengan cepat. Fenomena ini memicu perhatian para ahli kesehatan agar para orang tua lebih mawas diri dan tidak menganggap remeh perubahan musim.
Baca Juga
Ini Alasan Orang Bisa Sakit Setelah Kehujanan, Bukan karena Air Hujannya
Potret Ibu dan Anak Terjang Banjir yang Merendam Permukiman di Aceh Barat
Bukan Cuma soal Makanan, Kebiasaan Ini Jadi Pemicu Anak Obesitas di Indonesia
Dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dr Aisya Fikritama Aditya, Sp.A, mengingatkan para orang tua ekstra memperhatikan kondisi kesehatan anak pada masa peralihan cuaca ini. Menurutnya, proses perubahan musim itu sendiri bukanlah penyebab langsung anak menjadi sakit, melainkan kondisi lingkungan sekitar yang ikut berubah dan memicu berbagai kuman berkembang lebih cepat. “Bukan berarti perubahan cuaca secara langsung membuat anak sakit, tetapi perubahan suhu dan kelembapan, pola aktivitas, serta meningkatnya paparan kuman di lingkungan tertentu dapat memengaruhi risiko infeksi,” ujar dr Aisya saat diwawancarai di Jakarta pada akhir Oktober. .rec-desc {padding: 7px !important;}
Perubahan dari musim kemarau berkepanjangan menuju musim hujan membuka celah bagi berbagai penyakit untuk menyerang daya tahan tubuh anak. Beberapa gangguan kesehatan yang paling sering mengintai di antaranya adalah Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, dan influenza. Tak hanya penyakit pernapasan, gangguan pencernaan seperti diare juga mengancam akibat mengonsumsi makanan atau air yang terkontaminasi kuman di musim hujan.
Selain itu, ancaman serius lainnya adalah Demam Berdarah Dengue (DBD). Genangan air bersih yang bermunculan setelah hujan menjadi tempat ideal bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak. Bahkan, ketika curah hujan tinggi hingga menyebabkan banjir, risiko penyakit berbahaya lain ikut mengintai.
“Jika terjadi banjir, kita juga perlu mewaspadai leptospirosis, terutama pada anak yang berkontak dengan air atau tanah yang tercemar urine hewan terinfeksi,” ujar dokter yang juga aktif mengajar sebagai dosen di Fakultas Kedokteran UNS tersebut.