1. Peningkatan wisatawan dibarengi perbaikan kualitas.
2. Perluas akses bebas visa pariwisata.
3. Infrastruktur dan higienitas jadi kunci.
4. Lebih banyak wisata pengalaman.
Kinerja pariwisata Indonesia terus menunjukkan tren positif. Namun, masih tersimpan pekerjaan besar untuk memastikan pertumbuhan sektor ini berkualitas dan berkelanjutan.
Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip dari laporan Kementerian Pariwisata, sepanjang tahun 2025 Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman). Angka ini meningkat 10,8 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya, bahkan telah melampaui target sebesar 14-15 juta kunjungan.
Sementara itu, angka perjalanan wisatawan Nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan, tercatat sebagai capaian tertinggi sepanjang sejarah pencatatan sektor pariwisata.
Dari sisi pendapatan, pada semester I-2026, devisa pariwisata tercatat 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp 140,95 triliun. Nilai tersebut meningkat 2,8 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Data Kementerian Pariwisata juga menunjukkan, sektor pariwisata menjadi penyerap tenaga kerja terbesar ketiga setelah pertanian dan perdagangan. Pada 2025, sektor pariwisata menyerap 25,91 juta tenaga kerja, tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Meski demikian, mengejar kuantitas kunjungan wisatawan bukan satu-satunya indikator utama bagi tumbuhnya sektor pariwisata. Penguatan jumlah wisatawan perlu diikuti dengan perbaikan kualitas. Perubahan orientasi dari pariwisata berbasis kuantitas menuju kualitas menjadi salah satu pekerjaan penting pemerintah.
Masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah, terutama infrastruktur dan layanan pariwisata, kesehatan dan kebersihan, kesiapan digital, keterbukaan perjalanan, serta keamanan. Kekayaan alam dan budaya yang kita miliki harus ditopang dengan kualitas ekosistem yang membuat wisatawan nyaman dan aman.
Perubahan perilaku wisatawan yang tidak lagi hanya mencari tempat yang indah atau murah, tetapi juga pengalaman unik dan berkualitas, menuntut pelaku industri pariwisata untuk terus beradaptasi. Tantangan tersebut semakin penting ketika persaingan destinasi wisata dunia semakin ketat.
Di tengah lanskap kompetitif yang semakin sengit, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Pariwisata memperkenalkan melalui website-nya 13 Destinasi Pariwisata Prioritas. Selasa (24/2/2026), sebagai ujung tombak devisa dan penciptaan lapangan kerja.
Kajian komparatif Pusat Kajian Pariwisata Indonesia (PKPI) terhadap 13 destinasi prioritas menggunakan kerangka 4A—attraction, accessibility, amenity, ancillary—mengungkap paradoks yang perlu menjadi perhatian serius.
Indonesia unggul mutlak di atraksi. Namun, di tiga A berikutnya, Indonesia tertinggal dari keempat kompetitor. Kita memiliki permata terbaik, tetapi menyimpannya di etalase yang sulit dijangkau.
Aksesibilitas adalah kelemahan paling akut. Indonesia memberikan bebas visa hanya kepada 13-17 negara. Jauh lebih sedikit dibandingkan dengan Malaysia 163 negara lebih, Thailand 93 negara, dan Vietnam 25 negara lebih, termasuk China secara resiprokal. Peraturan Presiden Nomor 95 Tahun 2024 yang memangkas negara bebas visa dari 169 menjadi 13 negara telah berdampak negatif terhadap daya saing.
Pasar outbound China mencapai lebih dari 100 juta per tahun. Malaysia berhasil meraup 3,8 juta wisatawan China berkat bebas visa reciprocal, sementara Indonesia hanya menerima 8,8 persen total wisman dari China. Potensi yang hilang diperkirakan 2 juta sampai 3 juta wisman per tahun.
Kementerian terkait perlu segera mengajukan usulan reformasi visa kepada Presiden, termasuk perluasan bebas visa minimal ke 50 negara dan pembukaan rute penerbangan langsung dari kota-kota sumber wisatawan ke destinasi prioritas di luar Bali.
Di dimensi ancillary, gap dengan kompetitor tak kalah lebar. Kementerian Pariwisata Indonesia, yang baru berdiri mandiri kembali, telah menunjukkan langkah positif melalui platform indonesia.travel.id dan kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan untuk mengemas warisan budaya sebagai produk wisata. Namun, kampanye Visit Indonesia 2026 yang setara dengan Malaysia harus diluncurkan sekarang, buk
Kendala utama dalam mewujudkan pariwisata yang berkualitas, antara lain, infrastruktur dan konektivitas antardestinasi wisata, serta higienitas dalam pariwisata. Dalam 5 tahun terakhir, pemerintah Jokowi telah memiliki perhatian besar dalam pembangunan infrastruktur. Perbaikan infrastruktur tetap perlu dilanjutkan.
Selain itu, perbaikan-perbaikan higienitasjuga diperlukan, dan pemda memiliki peran untuk mengubah perilaku masyarakat. Kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan penanganan sampah sudah mulai muncul. Di Samosir, Sumatera Utara, misalnya, masyarakat lokal memprotes wisatawan yang buang sampah sembarangan.
Di sisi lain, dukungan pemda diperlukan dalam merumuskan regulasi sesuai pariwisata berkualitas. Selain itu, juga dukungan alokasi anggaran minimal 1 persen APBD sebagai wujud keberpihakan terhadap pengembangan pariwisata.
Indonesia menargetkan mampu menembus posisi 15 besar dunia melalui langkah-langkah strategis menuju peningkatan kinerja pariwisata. Langkah-langkah yang disiapkan adalah kolaborasi pemerintah dan dunia industri untuk fokus mengembangkan pariwisata yang berkualitas, penyempurnaan dalam memberikan pengalaman pariwisata, paket-paket wisata khusus, infrastruktur yang berkelanjutan, hingga pengolahan sampah. Juga digitalisasi pariwisata, pemberian layanan, dan pengalaman unik bagi wisatawan.
Digitalisasi pariwisata diperlukan sebagai instrumen menganalisasi data besar untuk melihat tren pola wisatawan dan menerapkan strategi pemasaran dan pelayanan. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi untuk mengintegrasikan program pariwisata dan program wisata lokal. Pelaku industri perlu fokus pada inovasi berkelanjutan dan adaptasi terhadap perubahan yang cepat. Selain itu, memastikan pekerjanya sejahtera.
Kini, sektor leisure secara umum mengarah pada pariwisata berkualitas yang turut mengandung wisata pengalaman atau experiential tourism. Di Indonesia, bagian pariwisata yang dikembangkan ini mengarah pada gastronomi (kuliner), wisata bahari (marine), serta kebugaran (wellness).
Berbicara soal pariwisata, rohnya tak pernah lepas dari usaha yang berkualitas dan berdampak ekonomi. Pengusaha yang berkualitas bisa memberikan nilai tambah yang tinggi untuk masyarakat, khususnya warga lokal. Taraf hidupnya meningkat, kesejahteraan naik secara ekonomi.
Hariyadi bersama pemangku kepentingan lain turut menggarap kerajinan tangan kulit yang menjadi salah satu ciri khas Garut. Para perajin kerajinan tangan atau artisan akhirnya mendapat ragam pelatihan dari para desainer pusat-pusat perajin kulit di Perancis dan Bali.
Wisata pengalaman atau experiental tourism juga tengah digarap Artotel Hub. Mayoritas pelanggan kini menggunakan alat penghitung kualitas tidur. Salah satunya biasa digunakan pada jam pintar (smartwatch).
Seiring dengan hotel sebagai tempat pemulihan (healing), ruang-ruang untuk berolahraga atau gym akan disediakan secara optimal. Sebab, olahraga kini sudah menjadi bagian dari gaya hidup banyak orang.
Generasi Z, sebagai pangsa pasar paling potensial saat ini hingga beberapa tahun ke depan, menunjukkan karakter berlibur yang berbeda. Kini, para pelaku usaha dan pemerintah perlu menyesuaikan dengan konsep pariwisata yang menekankan pada pengalaman guna mengikuti perkembangan zaman.
Dalam laporan Kantar (2025), Gen Z cenderung mencari pengalaman yang unik, sedangkan baby boomers lebih menyukai tipe berlibur yang mengedepankan kenyamanan dan relaksasi. Pola-pola tiap generasi ini ternyata memengaruhi pengalaman perjalanan secara global.





