Ribuan demonstran di berbagai kota di Prancis kembali turun ke jalan untuk memprotes kebijakan pemerintah dan melonjaknya biaya hidup. Aksi unjuk rasa berskala nasional yang telah memasuki pekan ketiga berturut-turut ini diwarnai dengan kerusuhan dan bentrokan terbuka antara massa dengan aparat keamanan.
Kemarahan publik atas memburuknya kualitas layanan publik dan tingginya tekanan ekonomi disimbolkan secara dramatis dalam aksi protes di Kota Bordeaux. Di kawasan tersebut, para demonstran meluapkan ketidakpuasan mereka dengan menghancurkan sebuah piñata yang secara khusus dibentuk menyerupai kepala Presiden Prancis, Emmanuel Macron.
Baca Juga :
Eskalasi protes tidak hanya terpusat di Bordeaux, tetapi juga melumpuhkan sebagian wilayah ibu kota Paris dan sejumlah kota besar lainnya. Massa yang marah tampak mendirikan barikade-barikade di jalanan dan melemparkan berbagai benda keras ke arah petugas kepolisian yang berjaga.
Merespons tingkat anarkisme yang meluas, Kementerian Dalam Negeri Prancis mengerahkan sedikitnya 70.000 personel gabungan polisi dan gendarmerie untuk mengendalikan situasi keamanan.
Hingga Sabtu malam, 31 Oktober 2026 waktu setempat, otoritas keamanan mencatat sebanyak 565 orang telah ditangkap di seluruh penjuru Prancis. Adapun total massa yang berpartisipasi dalam gelombang demonstrasi ini diestimasikan mencapai 320.000 orang.




