Takut Dianggap Tak Bisa Punya Anak, Pasutri di Kaltim Rekayasa Kematian Bayi

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Kabar seorang bayi meninggal dunia setelah dilahirkan di RS Yabis Bontang, Kalimantan Timur, viral di media sosial. Namun, polisi mengungkap bahwa kabar tersebut merupakan rekayasa pasangan suami istri (pasutri). Mereka mengganti jasad bayi dengan bantal saat hendak dimakamkan.

Perempuan berinisial AR ternyata tidak pernah hamil maupun menjalani persalinan di rumah sakit tersebut. Cerita mengenai kelahiran hingga kematian bayi itu dibuat oleh AR bersama suaminya, DN.

Humas Polres Bontang, Iptu Dani Purwantoro, mengatakan polisi melakukan penyelidikan setelah narasi dan video pemakaman bayi tersebut ramai beredar di Facebook.

Petugas kemudian mendatangi kediaman AR untuk meminta klarifikasi terkait kabar kehamilan dan kematian bayi yang disebut dilahirkan di RS Yabis.

“Iya, itu direkayasa dan diakui yang bersangkutan. Yang bersangkutan mengaku hamil, padahal faktanya tidak ada kehamilan. Jadi, jasad yang dimakamkan kemarin itu memang buatan saja,” kata Dani, Jumat (30/10).

Dari hasil pemeriksaan dan klarifikasi dengan pihak rumah sakit, AR diketahui tidak tercatat sebagai pasien persalinan di RS Yabis Bontang.

Berdasarkan penelusuran rekam medis, AR hanya pernah berobat pada Senin (26/10) karena mengeluhkan keterlambatan menstruasi.

Takut Dianggap Tidak Bisa Memiliki Keturunan

Polisi mengungkap, rekayasa tersebut dilakukan karena AR takut dianggap tidak mampu memiliki keturunan oleh keluarganya maupun keluarga suaminya.

Ketakutan itu kemudian mendorong AR dan DN membuat cerita seolah-olah AR telah melahirkan seorang bayi yang kemudian meninggal dunia.

“AR bersama suaminya, DN, nekat membuat cerita penukaran bayi lantaran AR merasa takut dianggap tidak bisa memberikan keturunan oleh pihak keluarga maupun keluarga mertuanya,” ujar Dani.

Pasutri Minta Maaf

Setelah fakta tersebut terungkap, Polres Bontang memfasilitasi pertemuan antara AR dan DN, keluarga kedua belah pihak, serta perwakilan manajemen RS Yabis Bontang.

Pertemuan itu digelar untuk mengklarifikasi persoalan sekaligus menyelesaikan kesalahpahaman yang telanjur berkembang di masyarakat.

Dalam video klarifikasi, AR dan DN menyampaikan permintaan maaf kepada pihak rumah sakit dan masyarakat Kota Bontang. AR juga mengakui bahwa cerita tersebut merupakan rekayasa yang berasal dari idenya.

“Melalui video ini kami meminta maaf sebesar-besarnya kepada pihak yang dirugikan dan masyarakat Kota Bontang atas kegaduhan ini. Ide itu merupakan rekayasa saya sendiri,” ujar AR.

Polres Bontang mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Polisi mengingatkan, informasi yang tidak dipastikan kebenarannya dapat memicu keresahan dan merugikan pihak lain, termasuk lembaga atau fasilitas pelayanan publik.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya dan menyebarkan informasi yang belum dipastikan kebenarannya. Pastikan terlebih dahulu setiap informasi melalui sumber resmi agar tidak menimbulkan keresahan maupun merugikan pihak lain,” tutup Dani.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Polisi Ungkap Dugaan Penyebab Kecelakaan Maut Truk Molen di Bekasi yang Tewaskan Enam Orang
• 8 menit lalutvonenews.com
thumb
Marc Marquez Ungkap Kunci Kemenangan di Sepang, Kini Bidik Gelar Juara MotoGP 2026 di Qatar
• 13 jam lalurepublika.co.id
thumb
Musim Laporan Keuangan 3Q26 Masih Berjalan, Kinerja Emiten Tunjukkan Kesenjangan Antar-Sektor
• 48 menit laluidxchannel.com
thumb
Pakar soal Putusan MA Batalkan Suket Ijazah Gibran: Dasar Pencalonan Wapres Dipersoalkan
• 20 jam lalukompas.tv
thumb
OJK Terapkan Asas Una Via, Sanksi Pidana Jadi Langkah Terakhir di Pasar Modal
• 16 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.