Ironi Raja Minyak: Harga Meroket, Ekonomi Arab Saudi Terancam Resesi

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi sedang menghadapi masa-masa sulit. Negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu penguasa pasar minyak dunia tersebut justru harus menyaksikan perekonomiannya kembali menyusut, meskipun harga minyak internasional tengah melambung tinggi.

Kondisi ini tentu menjadi persoalan besar bagi Arab Saudi. Pasalnya, minyak yang selama ini menjadi salah satu sumber kekuatan ekonominya justru menjadi penyebab utama kemerosotan yang terjadi sepanjang 2026.

Bahkan, sebelum memasuki paruh kedua tahun ini, perekonomian Arab Saudi sebenarnya sudah sempat terjerumus ke dalam resesi teknis.

Baca: Mimpi Buruk Usai! Harga Emas Antam Logam Mulia Hari Ini Naik Rp5.000

Berdasarkan estimasi awal General Authority for Statistics (GASTAT) yang dirilis Minggu (1/11/2026), produk domestik bruto (PDB) riil Arab Saudi mengalami kontraksi sebesar 3,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada kuartal III-2026.

Hasil tersebut membuat ekonomi Arab Saudi mengalami kontraksi tahunan selama dua kuartal berturut-turut. Sebelumnya, pada kuartal II-2026, ekonomi negara tersebut menyusut sebesar 4,8% berdasarkan rilis pertama, sebelum direvisi menjadi kontraksi 4,7%.

Padahal, kondisinya sangat berbeda dibandingkan tahun lalu.

Baca: Ini 4 Aturan Baru di Industri Keuangan RI Berlaku November: HSC - GWM

Sepanjang 2025, ekonomi Arab Saudi masih mampu tumbuh positif. Bahkan, pada kuartal III-2025, pertumbuhannya sempat mencapai 5%.

Namun, memasuki 2026, kondisi tersebut berubah drastis. Ekonomi yang awalnya masih tumbuh positif pada kuartal pertama justru berbalik mengalami kontraksi dalam dua kuartal berikutnya.

Perubahan tersebut memperlihatkan betapa cepatnya kondisi ekonomi Arab Saudi memburuk. Dalam waktu kurang dari setahun, pertumbuhan yang sebelumnya mencapai 5% berubah menjadi kontraksi hampir 4%.

Sempat Terjerumus ke Resesi

Persoalan ekonomi Arab Saudi sebenarnya jauh lebih serius jika melihat perkembangannya dari kuartal ke kuartal.

Pada kuartal I-2026, ekonomi negara tersebut sudah mengalami kontraksi sebesar 1,4% dibandingkan tiga bulan sebelumnya.

Bukannya membaik, kondisinya justru semakin buruk pada kuartal II-2026, ketika ekonomi kembali menyusut sebesar 4,8%.

Kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut umumnya disebut resesi teknikal (technical recession). Namun, belum tentu otomatis dinyatakan sebagai resesi secara keseluruhan.

Memasuki kuartal III-2026, kondisi ekonominya memang mulai membaik. PDB Arab Saudi kembali tumbuh sebesar 1,3% secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq).

Namun, pertumbuhan tersebut belum cukup untuk menutup penurunan tajam yang terjadi pada semester pertama.

Ketika Minyak Justru Menjadi Sumber Masalah

Salah satu persoalan terbesar yang dihadapi Arab Saudi adalah ketergantungannya terhadap industri minyak.

Selama bertahun-tahun, minyak menjadi sumber kekuatan ekonomi negara tersebut. Ketika produksi dan ekspornya berjalan lancar, kegiatan ekonomi ikut terdorong.

Namun, situasinya berubah ketika konflik Timur Tengah meluas sejak akhir Februari 2026.

Baca: Harga Emas & Perak Sudah Babak Belur! Pekan Ini Masih Dibayangi Neraka

Gangguan jalur pelayaran melalui Selat Hormuz membuat aktivitas perdagangan energi menghadapi hambatan besar. Arab Saudi bahkan harus semakin mengandalkan jalur alternatif melalui pipa East-West untuk menyalurkan minyak ke Laut Merah.

Masalahnya, jalur alternatif tersebut juga tidak sepenuhnya aman setelah mengalami gangguan akibat serangan pada September 2026.

Akibatnya, produksi dan pengiriman minyak Arab Saudi ikut terpukul.

Berdasarkan laporan International Energy Agency (IEA), pasokan minyak Arab Saudi merosot dari sekitar 8,24 juta barel per hari pada Juli menjadi 5,97 juta barel per hari pada Agustus 2026.

Besarnya gangguan tersebut terlihat jelas dari pertumbuhan ekonominya.

GASTAT mencatat aktivitas minyak Arab Saudi anjlok 20,4% secara tahunan pada kuartal III-2026, setelah sebelumnya terkontraksi 24,8% pada kuartal kedua.

Bahkan, sektor minyak memberikan kontribusi negatif sebesar 4,7 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi Arab Saudi pada kuartal III.

Baca: Harga Minyak Dunia Mengamuk! Hampir US$120, Ancaman Perang Membesar

Sementara itu, sektor nonmigas sebenarnya masih mampu tumbuh 1,9%. Namun, pertumbuhan tersebut belum cukup kuat untuk menutup besarnya penurunan di industri minyak.

Di sinilah persoalannya. Harga minyak yang mahal ternyata tidak selalu menguntungkan negara produsen jika jumlah minyak yang bisa diproduksi dan dijual justru menyusut. Sebab, dalam perhitungan PDB riil, kenaikan harga tidak otomatis membuat ekonomi tumbuh. Jumlah barang dan jasa yang dihasilkan tetap menjadi faktor penting.

Masalah Ekonomi Saudi Ternyata Bukan Cuma Minyak

Gangguan industri minyak ternyata juga diikuti oleh melemahnya sejumlah sumber pertumbuhan ekonomi lainnya.

Hal ini terlihat dari data PDB berdasarkan pengeluaran pada kuartal II-2026, yang menjadi rincian terbaru karena data pengeluaran kuartal III belum dirilis.

Dari sisi perdagangan luar negeri, tekanan terlihat cukup besar. Ekspor barang dan jasa Arab Saudi anjlok 24,6% secara tahunan pada kuartal II-2026. Penurunan tersebut menunjukkan betapa besar dampak gangguan produksi dan pengiriman energi terhadap perdagangan negara tersebut.

Impor juga menyusut 14,8%. Dalam perhitungan PDB, penurunan impor sebenarnya dapat membantu meredam tekanan dari ekspor. Namun, untuk mengetahui dampak bersihnya, perlu dilihat pula besarnya nilai ekspor dan impor.

Persoalan lainnya datang dari konsumsi masyarakat.

Baca: Kantor Pusat Aramco di Arab Saudi Diserang, Awas Indonesia Kena Imbas!

Pengeluaran rumah tangga sebenarnya masih tumbuh, tetapi kecepatannya menurun tajam. Pada kuartal II-2026, konsumsi swasta hanya meningkat 0,8% secara tahunan, jauh lebih lambat dibandingkan pertumbuhan 4,8% pada kuartal sebelumnya.

Kondisi serupa juga terlihat pada investasi.

Pembentukan modal tetap bruto yang mencerminkan investasi pada bangunan, mesin, dan peralatan hanya tumbuh 2,7% secara tahunan. Bahkan, dibandingkan kuartal sebelumnya, investasi tersebut mengalami kontraksi sebesar 1,4%.

Pemerintah pun belum mampu memberikan dorongan sebesar sebelumnya.

Konsumsi pemerintah memang masih tumbuh 5% secara tahunan, tetapi melambat dari 11,3% pada kuartal pertama.

Baca: Aramco, Mesin Uang Arab Saudi: Sekaya Apa Sampai Jadi Sasaran Musuh?

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa tantangan ekonomi Arab Saudi tidak hanya berasal dari gangguan minyak. Konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah masih bergerak, tetapi kekuatan pertumbuhannya mulai berkurang.

Padahal, sektor-sektor tersebut sangat dibutuhkan untuk menopang ambisi Arab Saudi mengurangi ketergantungan terhadap minyak melalui program Vision 2030.

IMF Pangkas Tajam Proyeksi Ekonomi Saudi

Berbagai tekanan tersebut membuat prospek ekonomi Arab Saudi sepanjang 2026 semakin berat.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan World Economic Outlook (WEO) Oktober 2026 memperkirakan ekonomi Arab Saudi akan mengalami kontraksi sebesar 3,3% sepanjang tahun ini.

Perkiraan tersebut berubah drastis dibandingkan Juli 2026, ketika IMF masih memperkirakan ekonomi Arab Saudi mampu tumbuh positif sebesar 1,7%.

Hanya dalam tiga bulan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Arab Saudi dipangkas hingga 5 poin persentase.

Meski begitu,IMF memperkirakan ekonomi negara tersebut bi

Baca: Mata Uang Asia Kebakaran: Ringgit, Won- Yuan Ambruk, 1 Negara Selamat

sa kembali tumbuh 7,9% pada 2027, seiring harapan pulihnya produksi dan perdagangan energi.

Namun, pemulihan itu tentu tidak lepas dari perkembangan konflik Timur Tengah, terutama terkait keamanan jalur pelayaran dan infrastruktur minyak.

Bagi Arab Saudi, persoalan ini menjadi ujian besar bagi perjalanan transformasi ekonominya.

Negara tersebut telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membangun sumber pertumbuhan baru di luar minyak. Namun, tekanan sepanjang 2026 menunjukkan bahwa industri energi masih memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perekonomian nasional.

Selama produksi dan ekspor minyak belum benar-benar pulih, Arab Saudi masih harus menghadapi risiko pertumbuhan ekonomi yang lemah, meskipun harga minyak dunia tetap mahal.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Viral Video Herri Pras Digeruduk Kelompok Bela Diri Usai Tantang 'Fight Sampai Mati'
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
BRI Perkuat Ekosistem Pangan dari Hulu hingga Hilir untuk Dukung Swasembada Protein
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Teatrikal Kisah Pemain Persebaya Era 1930-an Buka Parade Surabaya Juang 2026
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Menohok! PDIP Sebut Gibran Bakal Jadi Bahan Tertawaan Dunia Jika Nekat Tak Mau Mundur
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Hasil Pekan Kedelapan Super League: Arema dan Persik Dibantai, Madura United Menang
• 4 jam laluberitajatim.com
Berhasil disimpan.