Grid.ID - Puskesmas Bantarujeug diduga tolak pasien sampai viral di sosial media. Dedi Mulyadi buka suara sampai minta dinkes audit pelayanan.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, ikut menanggapi beredarnya video yang memperlihatkan dugaan penolakan terhadap seorang pasien di Puskesmas Bantarujeg, Kabupaten Majalengka. Dedi meminta Bupati Majalengka, Eman Suherman, mendatangi langsung puskesmas tersebut guna mengecek dan memastikan kronologi kejadian yang sebenarnya.
Selain itu, Dedi juga menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Jawa Barat untuk mengaudit pelaksanaan standar pelayanan kesehatan di Puskesmas Bantarujeg. Arahan tersebut disampaikan KDM melalui sebuah video yang diunggah di akun media sosialnya pada Minggu (1/11/2026).
"Saya minta Bupati Majalengka hari esok untuk turun ke lokasi memastikan peristiwa tersebut dan agar menyampaikan permintaan maaf kepada pasien yang di puskesmasnya tidak dilayani apabila peristiwa itu memang terjadi," kata Dedi Mulyadi.
KDM turut meminta Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat menggelar pemeriksaan menyeluruh guna memastikan penerapan standar pelayanan di Puskesmas Bantarujeg telah berjalan sesuai prosedur yang berlaku.
Jika dalam proses audit ditemukan adanya pelanggaran atau ketidaksesuaian, ia mengarahkan agar segera dilakukan tindakan sesuai aturan guna meningkatkan kualitas layanan kesehatan.
"Untuk itu, saya ucapkan terima kasih atas informasinya dan mohon pada semua pihak untuk segera menindaklanjuti peristiwa ini dengan nyata dan tidak boleh terulang lagi," ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Majalengka, Agus Suratman, menyatakan bahwa pihaknya telah menindaklanjuti video yang ramai diperbincangkan tersebut dengan melakukan investigasi.
Melalui video klarifikasi yang diunggahnya, Agus menjelaskan bahwa Dinkes telah meminta keterangan dari beberapa pihak di Puskesmas Bantarujeg. Mereka yang dimintai penjelasan di antaranya kepala puskesmas, petugas yang bersangkutan, serta dokter yang bertugas ketika peristiwa itu berlangsung.
"Saya melakukan investigasi terkait dengan pelaporan beredarnya di media sosial bahwa Puskesmas Bantarujeg menolak pasien yang akan dirawat," kata Agus.
Agus juga mengapresiasi masyarakat yang telah menyampaikan persoalan tersebut melalui media sosial. Menurutnya, laporan masyarakat menjadi bahan evaluasi bagi Dinas Kesehatan untuk memperbaiki pelayanan di fasilitas kesehatan.
Baca Juga: Dedi Mulyadi Ungkap Kondisi Keuangan Jawa Barat, Ajak Masyarakat Gotong Royong Bayar Pajak
"Terima kasih kepada masyarakat yang sudah meng-upload video kemarin. Semoga ini menjadi bahan pemikiran kita bersama, apa yang kita lakukan, apa yang diterima terhadap perlakuan kepada masyarakat," ujarnya.
Ia berharap peristiwa tersebut dapat dijadikan bahan evaluasi bagi seluruh tenaga kesehatan agar lebih mengutamakan kebutuhan, kenyamanan, serta kepentingan masyarakat dalam memberikan pelayanan.
Sebelumnya, dokter yang bertugas di Puskesmas Bantarujeg, dr. Tika Ayu, telah menyampaikan penjelasan mengenai urutan kejadian yang menjadi perhatian publik tersebut.
Menurut keterangannya, pasien berinisial M (61) mendatangi Instalasi Gawat Darurat (IGD) pada Sabtu sekitar pukul 17.45 WIB. Pasien mengeluhkan batuk yang telah berlangsung selama satu bulan, disertai keringat dingin pada malam hari, mual, pusing, muntah, hingga mengalami penurunan berat badan.
Usai menjalani pemeriksaan awal dan berkonsultasi dengan dokter, pasien dianjurkan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Hal ini lantaran pasien diduga mengidap tuberkulosis (TB) paru.
Namun, dr. Tika menyebut pihak keluarga tidak bersedia menerima rujukan tersebut karena mempertimbangkan jarak rumah sakit yang dinilai terlalu jauh. Keluarga justru meminta agar pasien mendapatkan perawatan di puskesmas.
Menanggapi permintaan itu, petugas puskesmas menjelaskan bahwa seluruh ruang rawat inap sedang terisi penuh. Bahkan, saat itu sudah ada dua pasien lain yang tengah menunggu ketersediaan kamar perawatan.
Tika menambahkan, setelah itu keluarga membawa pasien meninggalkan ruangan IGD. Ia mengaku tidak mengetahui bahwa pasien kemudian ditempatkan oleh keluarganya di bagian teras puskesmas.
Pihak Puskesmas Bantarujeg pun menegaskan bahwa tidak pernah ada maksud untuk menolak ataupun menelantarkan pasien tersebut. (*)
Artikel Asli




