Grid.ID - Memerankan tokoh sejarah seperti Laksamana Malahayati menjadi tantangan tersendiri bagi Atiqah Hasiholan. Tak hanya harus mendalami karakter seorang pemimpin pasukan, ia juga dituntut menguasai dialek Aceh hingga tiga bahasa asing untuk film Pasukan 1000 Janda.
Lewat film Pasukan 1000 Janda, Atiqah Hasiholan memerankan Laksamana Malahayati, sosok pahlawan perempuan asal Aceh yang dikenal memimpin pasukan Inong Balee dalam perjuangan melawan penjajah.
Untuk menghidupkan karakter tersebut, Atiqah harus melewati proses persiapan yang tidak mudah, terutama dalam hal bahasa. Ia mengaku menjalani latihan dialek Aceh selama dua bulan bersama seorang pelatih dialek yang berasal dari Aceh.
“Kalau dialek, thanks to teman kita anak teater dari Aceh, dia yang melatih kita untuk dialek Aceh itu juga dua bulan latihan. Berat banget sih. Soalnya kan kalau aku enggak familiar ya sama logat Aceh,” ungkap Atiqah Hasiholan pada Senin (2/11/2026).
Kesulitan tersebut tak hanya dirasakan saat latihan, tetapi juga ketika proses syuting berlangsung. Atiqah mengaku sempat kesulitan membangun emosi dalam adegan karena pikirannya masih tertuju pada ketepatan pengucapan dialek.
“Tapi ketika kita dialog kita malah mikirin, ‘Eh, aksen gue gini bener enggak ya? Bener enggak ya?’ Kita malah jadi teknis, malah jadi kepikiran dialeknya pas take,” tutur Atiqah Hasiholan saat ditemui Grid.ID di Kuningan, Jakarta Selatan.
Tantangan bahasa yang dihadapi Atiqah ternyata tidak berhenti pada dialek Aceh. Film ini juga menggunakan empat bahasa, yakni Aceh, Inggris, Belanda, dan Italia, sehingga demi mendalami peran, ia mendapat pendamping untuk mempelajari masing-masing bahasa.
Dalam prosesnya, Atiqah juga mendapat bantuan dari Hans de Kraker, pemeran Pieter, yang turut mendampingi latihan bahasa Belanda. Hans bahkan membuat video fonetik agar para pemain bisa mendengar dan melihat langsung cara pengucapan setiap kata.
Atiqah mengakui proses itu cukup menguras tenaga karena ia harus memastikan pelafalan dan aksennya matang sebelum bisa sepenuhnya mendalami sisi emosional karakter. Persiapannya pun mencakup latihan intensif selama beberapa bulan sebelum syuting dimulai.
“Terus terang aku di proses ini tuh berat banget ya buat aku karena action-nya berat, dialeknya berat, dramanya juga berat. Itu dua bulan sebelum syuting kita persiapan benar-benar energi dan fokus aku tuh hanya melatih buat fighting sama dialek gitu,” jelasnya.
Penguasaan bahasa menjadi hal penting bagi Atiqah untuk menghadirkan sosok Malahayati secara meyakinkan. Sebab, karakter yang diperankannya bukan sekadar perempuan yang ikut berjuang, melainkan seorang laksamana yang memiliki tanggung jawab memimpin pasukan Inong Balee.
Lewat film ini, Atiqah berharap kisah perjuangan Malahayati bisa semakin dikenal masyarakat Indonesia. Ia juga ingin sosok pahlawan perempuan tersebut terus menjadi inspirasi bagi generasi mendatang.
“Semoga film ini akan abadi dan bisa ditonton oleh masyarakat Indonesia sampai kapan pun. Dan beliau adalah sosok yang sangat inspiratif,” tutup Atiqah. (*)
Artikel Asli




